Partai NasDem tidak khawatir dengan prahara yang dialami kolega koalisinya, Partai Demokrat bakal berimplikasi kepada partainya. Menurut NasDem peninjauan kembali (PK) yang diajukan kubu Moeldoko tidak akan punya pengaruh apapun.
"NasDem tidak memiliki kekawatiran sedikitpun karna NasDem bukan pihak dalam perkara itu, jadi tidak akan ada implikasi apapun terhadap NasDem," ujar Wasekjen NasDem Hermawi Taslim kepada wartawan, Rabu (5/4).
Terlebih lagi, NasDem berkoalisi dengan Partai Demokrat dan PKS bukan perseorangan saja. Maka itu upaya hukum terhadap Demokrat merupakan hal yang biasa tanpa perlu dikhawatirkan.
"NasDem berkoalisi dengan Partai Demokrat dan PKS. Bukan terhadap perorangan. Upaya hukum PK ini harus dimaknai biasa-biasa saja," ujar Hermawi.
Advertisement
Ia meyakini Peninjauan Kembali (PK) kubu Moeldoko bakal ditolak. Karena yang memeriksa adalah hakim agung, akan sama hasilnya dengan tingkat kasasi.
"Point saya PK itu hal biasa yang kebanyakan dilakukan oleh pihak yang kalah. Kebanyakan PK ditolak karna yang meriksa kan hakim agung, sama dengan kualitasnya dengan hakim yang memeriksa di tingkat kasasi," ujar Hermawi.
Untuk diketahui, Partai Demokrat kembali diterpa prahara. Pertarungan kepemimpinan Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dengan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko masih berlanjut.
Kisruh KLB Demokrat yang dilancarkan Moeldoko memasuki babak baru. Eks Panglima TNI itu mengajukan Peninjauan Kembali (PK).
Belum selesai, sosok mantan Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum bakal bebas 10 April mendatang. Kembalinya Anas ke kancah politik nasional dinilai bakal menjadi 'ancaman' baru Partai Demokrat.
Advertisement
Bebasnya Anas dianggap menjadi angin segar bagi kubu Moeldoko yang terus melawan AHY. Anas diyakini bakal satu barisan dengan Moeldoko.
"Hal ini tentu akan memberikan sentuhan terindah lagi bagi eksistensi Partai Demokrat KLB pimpinan Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko, dan akan lebih mempunyai daya hajar yang dahsyat bagi para politisi kubu AHY penghamba SBY yang memberhalakan Politik Dinasti dan tiranik," ujar kubu Moeldoko, Saiful Huda dalam keterangannya, Selasa (4/4).
Anas disebut bakal membuka rahasia korupsi Wisma Atlet Hambalang dan beberapa kasus mega korupsi era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang kini menjabat Ketua Majelis Tinggi Demokrat.
"Semua rahasia korupsi Wisma Atlet Hambalang beserta beberapa kasus mega korupsi lainnya di masa kepemimpinan nasional SBY konon akan dibukanya ke publik," ujar Saiful.
Kembalinya Anas ini ditanggapi dingin oleh Demokrat. Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Demokrat Herzaky Mahendra Putra menyebut Anas sebagai pelajaran pahit partai berlambang bintang mercy ini.
"Ini kan bukan bagian dari kami lagi ya gitu. Kalau dari kami jelas, kami bersyukur bahwa kami punya pelajaran pahit di masa lalu yang membuat kami jauh lebih kuat," kata Herzaky, Senin (3/5).
Pernyataan tersebut kembali ditangkis kubu Anas. Koordinator Nasional Sahabat Anas Urbaningrum, Muhammad Rahmad membalas, sejarah kelam Demokrat justru di era AHY dan SBY yang gagal mendapatkan suara besar pada Pemilu 2019.
"Sejarah kelam kedua adalah Perolehan suara pemilu dan kursi DPR RI terendah sepanjang sejarah Demokrat, terjadi ketika SBY menjadi Ketua Umum dan ketika Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Edy Baskoro Yudhoyono alias Ibas diserahi tugas memenangkan pemilu," kritik Rahmad.
Ikuti perkembangan terkini seputar berita Pemilu 2024 hanya di merdeka.com