Perang tagar jelang Pilpres yang ramai di jagat dunia maya, kini dihadirkan di dunia nyata. Pengiat tagar di media sosial pertemukan dalam satu meja di diskusi Polemik MNC Trijaya bertajuk 'Politik Tagar, Bikin Gempar' di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (4/5).
Mereka adalah Presiden Republik Cyber Projo, Nur Sukarno dan Mustofa Nahrawarda yang menggaungkan #2019TetapJokowi dan #DiaSibukKerja. Ada pula relawan #2019GantiPresiden. Keduanya memiliki pandangan masing-masing mengenai perang tagar jelang Pilpres.
Nur Sukarno mengatakan, tagar dipakai untuk memberikan suatu pesan kepada masyarakat lewat media sosial. "Pesan yang mau ditimbulkan yaitu pesan 2019 tetap Jokowi. Ada pula pihak lain yang ingin diganti presiden," ungkap dia.
Tetapi, Nur berpendapat tagar #2019GantiPresiden sangat sentralistik. Dia menyebut itu bikinan PKS dan Gerindra. Berbeda dengan tagar #2019TetapJokowi dan #DiaSibukKerja.
"Fenomena itu bagi kami tidak di kondisikan secara sentralistik. Tapi yang sebelah tidak tahu yaa. Saya lihat sama dan itu terus digaungkan sampai naik branding,"ungkap dia.
Selain itu, dia menyebut #2019GantiPresiden hanya digawangi segelintir orang dan pemilik akunnya adalah orang-orang partai.
"Spot - spot yang ada di tagar itu yang ada hanya berkisar di kota Jakarta saja ada. Dan orangnya itu-itu saja. Terus di spot spot kota-kota besar cuman satu dua tiga itu saja. Kalau terlihat akun-akun hanya itu saja. Buzzernya itu saja. Contoh di sebelah buzzernya PKS saja," ungkap dia.
Mustofa Nahrawarda, relawan #2019GantiPresiden memiliki pandangan berbeda. Dia mengatakan, tagar ibarat permainan sepak bola.
"Jadi sepak bola itu ada dua klub bermain, mereka punya aturan yang sama, memiliki lapangan yang sama, mereka harus mentaati peraturan yang tidak berbeda. Itulah tagar jadi siapapun bisa memiliki Tagar," ungkap dia.
Mustofa menyebut perang tagar sangat menarik. Ini bisa menjadi alat ukur paling efektif melihat kekuatan kelompok. Selain itu, dapat dimanfaatkan untuk mempengaruhi dan merekrut banyak orang.
"Kelompok mana yang lebih besar mana yang lemah mana yang kuat mana yang berpengaruh itu dari tagar," sambung dia.
"Karena kalau mengerahkan secara konvensional misalnya bagi-bagi sembako untuk mengumpulkan massa itu berpotensi kematian di Monas. Itu kan berbahaya jadi sangat sensitif apalagi membagi kerbau itu sangat beresiko," dia menambahkan.
Mustofa mengklaim tagar #2019GantiPresiden lebih sukses menggema di media sosial dibandingkan #JokowiTetapPresiden.
"Dalam 1 jam terakhir #2019GantiPresiden itu ada 290 twitt sedangkan #2019tetapJokowi 60 twitt. Ini bukan bikinan," ungkap dia.
Dari situ dia melihat jagat media sosial lebih menginginkan adanya pergantian presiden di 2019. "Soal calon jangan takut banyak sekali kader lebih bagus daripada Jokowi," tutup dia.
Sementara itu, Ketua KPU Arief Budiman tidak bisa berkomentar banyak terkait penggunaaan tagar yang digagas sebagaian kalangan di media sosial. Sebab, tidak ada aturan yang mengikat di dalam UU Pemilu.
"Sebetulnya sampai saat ini KPU belum bisa masuk ke sana. Karena sebetulnya yang ditagarkan tentang capres. Lah capresnya kan belum ada. KPU belum bisa berpendapat," ujar dia.
"Nah kalau sekarang itu regulasi lain yang bisa mengatur. Ada pelanggaran ketertiban enggak, keamanan tidak itu kan UU yang lain. Bukan UU Pemilu," kata dia.
Reporter: Ady Anugrahadi
Sumber: Liputan6.com