Usung Agus, SBY ingin ulang sejarah saat kalahkan Megawati?

Usung Agus, SBY ingin ulang sejarah saat kalahkan Megawati? Namun majunya Agus Yudhoyono sebagai wakil dari Cikeas ternyata tidak terlalu dipandang oleh kubu Ahok. Agus dinilai bukan lawan sepadan bagi petahana Ahok-Djarot.

Hery H Winarno
Oleh Hery H Winarno - Reporter
Usung Agus, SBY ingin ulang sejarah saat kalahkan Megawati?
agus harimurti. ©2012 Merdeka.com

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memang dikenal sebagai ahli strategi ulung. Pencapaian tertingginya adalah ketika terpilih menjadi Presiden lewat Pemilu pada tahun 2004.Pilpres 2004 diselenggarakan dalam 2 putaran, dan dimenangkan oleh pasangan SBY yang saat itu berpasangan dengan Muhammad Jusuf Kalla. Di putaran pertama ada lima pasangan yang bertarung.Pemilu putaran pertama (diselenggarakan pada tanggal 5 Juli 2004) diikuti oleh pasangan calon Wiranto-Salahuddin Wahid, Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi, Amien Rais-Siswono Yudo Husodo, Susilo Bambang Yudhoyono-Muhammad Jusuf Kalla dan Hamzah Haz-Agum Gumelar.Karena tidak ada satu pasangan yang memperoleh suara lebih dari 50 persen, maka diselenggarakan pemilihan putaran kedua yang diikuti oleh 2 pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua, yakni SBY-JK dan Mega-Hasyim. Dalam putaran kedua itu Mega-Hasyim mendapat 39,38 persen suara dan SBY-JK 60,62 persen.Kesuksesan inilah yang ingin kembali dicapai SBY di Pilgub DKI dengan mengusung putra sulung Agus Harimurti Yudhoyono berpasangan dengan Sylviana Murni.Menurut mantan Ketua DPR Marzuki Alie, pertarungan Pilgub DKI mendatang hampir mirip dengan Pilpres 2004 lalu. Saat itu elektabilitas Megawati paling tinggi di antara semua nama yang ada. Ada pun SBY masih berada di bawah 10 persen. Namun SBY bisa membalikkan keadaan.

"Saat Pilpres 2004, saat itu SBY masih di bawah 10 persen, Bu Mega sudah hampir 40 persen, namun trend Bu Mega yang menurun, dimanfaatkan SBY untuk maju dan berkompetisi," ujar Marzuki.Demikian juga dengan elektabilitas Ahok yang kini diusung PDIP, NasDem, Hanura dan Golkar. Hingga saat ini mantan Bupati Belitung Timur itu memang masih yang paling tinggi, namun kecenderungannya turun."Hasil survei jelas, elektabilitas Ahok semakin menurun, trend menurun ini bahaya, kalau tidak ada sesuatu yang luar biasa tidak mungkin trend itu bisa direbound. Ditambah lagi organisasi anti Ahok semakin berkembang, sudah sangat massive dari kampung ke kampung, itu semua pasti dalam pantauan SBY," ujar Marzuki. "Ada 3 calon (Ahok-Djarot, Agus-Sylviana dan Anies-Sandiaga), Agus akan masuk putaran 2, di situlah pertempuran head to head Agus dan Ahok. Agus menang," ujar Marzuki lagi.Yang jelas, kata Marzuki, SBY tidak akan mengorbankan karier putra sulungnya tanpa hitung-hitungan dan strategi politik yang matang. Menurutnya, SBY sudah merancang strategi untuk bisa memenangkan Agus di melawan Ahok-Djarot dan juga Anies-Sandiaga."Kalau Ahok tidak mengubah strategi, maka Ahok akan tergusur. Agus menang dan disiapkan akan running di 2019. Capres termuda, mengikuti jejak Obama, seperti yang dirintis Anas Urbaningrum, tapi kurang mendapat dukungan yang kuat sehingga tergusur," ujarnya.

Namun majunya Agus Yudhoyono sebagai wakil dari Cikeas ternyata tidak terlalu dipandang oleh kubu Ahok. Agus dinilai bukan lawan sepadan bagi petahana Ahok-Djarot."Bagi kami, pendukung Ahok-Djarot, memandang pasangan ini tidak terlalu mengancam elektabilitas Ahok-Djarot," kata Ketua DPP Partai Hanura Dadang Rusdiana.Dadang menyebut, Agus dimajukan dalam Pilkada Jakarta adalah investasi politik ke depan yaitu menyiapkan sebagai pemimpin masa depan Partai Demokrat. Karena itu dia meyakini Agus tidak dalam target ingin memenangkan kontestasi Pilkada Jakarta sehingga dirinya tidak terganggu dengan kemunculan pasangan tersebut."Jadi, saya melihat (Agus) tidak dalam target menang, karena itu kami tidak terganggu dengan munculnya pasangan ini," ujarnya.

Rekomendasi