Demokrat kembali eksis karena kasus hukum

Sejak SBY lengser, Demokrat cenderung adem dari pemberitaan masalah hukum.

Raynaldo Ghiffari Lubabah
Demokrat kembali eksis karena kasus hukum
Diskusi KPK. ©2013 Merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman

Partai Demokrat belakangan ramai diberitakan. Sayang, berita yang menghampiri Demokrat bernada negatif.Belum lama ini, Wakil Bendahara Umum Partai Demokrat, Putu Sudiartana ditangkap dalam operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Putu diduga menerima suap dari pengusaha untuk goal kan proyek pembangunan jalan di Sumatera Barat.KPK telah menetapkan Putu sebagai tersangka suap. Kasus ini menjadi insiden pertama Partai Demokrat pasca Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) lengser dari kursi Presiden keenam RI.Sejak 2012 lalu, Demokrat tak henti-hentinya diserang kasus korupsi. Sejumlah petinggi partai terpaksa memakai rompi oranye KPK karena terbukti melakukan tindak pidana korupsi.Sebut saja, mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Dia terjerat kasus korupsi Hambalang. Selanjutnya, mantan Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat Andi Mallarangeng yang juga terjerat kasus yang sama.Begitu juga dengan Jero Wacik. Jero terjerat kasus saat dirinya memimpin Kementerian ESDM. Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin juga ditangkap KPK dan mendekam di Lapas Sukamiskin, Bandung.Setelah badai tersebut, SBY langsung mengambil alih kepemimpinan partai. Sejak saat itu, Demokrat terbilang adem dari kasus korupsi. Sampai pada 28 Juni lalu kabar tak sedap kembali menimpa Demokrat. Putu Sudiartana ditangkap karena diduga terima uang korupsi senilai Rp 500 juta.Belum habis pemberitaan tentang Putu Sudiartana,

Partai Demokrat kembali tercoreng. Kali ini menimpa Wasekjen Partai Demokrat Ramadhan Pohan. Mantan Wakil Ketua Komisi I DPR itu diterpa isu penipuan.Polda Sumatera Utara menetapkan Ramadhan Pohan sebagai tersangka penipuan dan penggelapan uang terhadap ibu dan anak. Totalnya fantastis, mencapai Rp 15,3 miliar. Kasus ini bergulir ketika Ramadhan hendak mencalonkan diri sebagai wali kota Medan.Ada dua laporan yang menjerat Ramadhan Pohan. Laporan pertama dibuat LHH Sianipar pada Maret 2016. Dia mengadukan penipuan atau penggelapan sebesar Rp 4,5 miliar."Untuk kasus ini, RP (Ramadhan Pohan) sudah ditetapkan sebagai tersangka," kata Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Rina Sari Ginting, Rabu (20/7).Laporan kedua dibuat seorang perempuan, LH br Simanjuntak. Perempuan yang merupakan ibu dari LHH Sianipar ini mengadu telah ditipu Rp 10,8 miliar."Namun untuk laporan ini, RP sudah diperiksa sebagai saksi, kasusnya akan dilakukan gelar perkara. Jadi total kerugian yang dilaporkan Rp 15,3 miliar," jelas Rina.Untuk laporan pertama, Ramadhan sudah dua kali dipanggil sebagai tersangka namun tidak datang dengan alasan sakit dan berada di Jakarta. Namun dia ternyata terpantau di Medan, penyidik pun melakukan penjemputan setelah dia kembali ke Jakarta."Penyidik menjemput RP ke rumahnya di Jakarta dengan surat perintah membawa. Sampai di sini (Mapolda Sumut) kita keluarkan surat penangkapan," jelas Rina.Sementara Partai Demokrat coba membela kadernya yang terjerat kasus hukum itu.

Wakil Ketua Umum Demokrat Nurhayati Ali Assegaf tak percaya dengan kasus yang dituduhkan kepada Ramadhan tersebut."Ramadhan Pohan katakan itu berkaitan ketika nyalon jadi wali kota. Tapi beliau sama sekali tak tersangkut masalah tersebut. Itu klarifikasi yang kami dapatkan dari Ramadhan Pohan," kata Nurhayati di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (20/7).Nurhayati mengungkapkan koleganya di Partai Demokrat itu juga membantah telah menerima uang sebesar Rp 4,5 miliar hasil penipuan yang dituduhkan oleh LHH Sianipar pada Maret 2016. Selain itu Ramadhan Pohan juga membantah menerima uang hasil penipuan sebesar Rp 10,8 miliar yang diadukan seorang perempuan, LH br Simanjuntak, yang merupakan ibu dari LHH Sianipar."Enggak terima yang dituduhkan. Tidak ada utang piutang, tim sukses menerima. Ramadhan tak tahu. Itu klarifikasi Ramadhan sendiri," terangnya.Karena telah dibantah oleh Ramadhan, Nurhayati percaya tuduhan itu adalah fitnah. Dampak dari fitnah itu, lanjutnya, sangat besar, baik berpengaruh buruk kepada keluarga Ramadhan hingga ke Partai Demokrat."Karena dalam hidup kita fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan, karena fitnah ini luar biasa ke keluarga, teman-teman apalagi menyangkut partai. Saya senang karena media klarifikasi. Jadi ini tidak benar apa yang terjadi," tegasnya.

Rekomendasi