5 Kegagalan Ical pimpin Golkar versi Ginandjar dkk

Aburizal Bakrie dinilai telah gagal memimpin Partai Golkar selama 5 tahun terakhir.

Fikri Faqih
Oleh Fikri Faqih - Reporter
5 Kegagalan Ical pimpin Golkar versi Ginandjar dkk
Penyelamatan Partai Golkar. ©2014 merdeka.com/imam buhori

Tokoh senior dan tokoh muda Partai Golkar akhirnya bersuara menyikapi kondisi partainya yang dinilai karut marut di bawah kepemimpinan Aburizal Bakrie. Keputusan Ical membawa Golkar bergabung dengan Koalisi Merah Putih juga dipertanyakan.Tokoh-tokoh Golkar yang berkumpul di Gedung Perintis Kemerdekaan, Selasa (15/7) adalah Suhardiman, Ginandjar Kartasasmita, Fahmi Idris, Andi Mattalatta, Yorrys Raweyai, Zainal Bintang, Rosdinal Salim, Lauren Siburian, dan Andi Sinulingga.Zainal Bintang mengatakan, kader Golkar akan memilih bergabung mendukung kadernya yang menjabat sebagai wakil presiden. Dia mengacu pada Jusuf Kalla jika nanti memenangkan Pilpres."Golkar sebagai pemilik 91 kursi akan memilih kadernya yang menjadi wapres. Tujuannya untuk mendukung program pemerintah. Kunci utama Golkar instrumen kebangsaan bukan individu, sebagaimana saat ini. Golkar akan mendukung program pemerintah, karena program Golkar adalah menyejahterakan masyarakat," ujar Zainal Bintang.Selain menyatakan sikap akan mendukung pemerintahan, para tokoh Golkar ini memberikan evaluasi terhadap performa Partai Golkar selama lima tahun terakhir. Mereka juga memberikan catatan kegagalan Ical. Apa saja? Berikut rangkumannya:

Politisi senior Partai Golkar Ginandjar Kartasasmita angkat bicara soal bergabungnya Partai Golkar dalam koalisi Merah Putih yang sifatnya permanen. Menurutnya keputusan DPP Partai Golkar tersebut menyalahi AD/ART partai berlambang pohon beringin."Koalisi permanen itu menurut saya tak mengikat dalam organisasi. Ini cacat secara prosedural," kata Ginandjar di Gedung Perintis Kemerdekaan, Tugu Proklamasi, Jakarta, Selasa (15/7).Dia mengungkapkan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical) tak pernah membahas soal koalisi permanen ke kader maupun organisasi pendiri Golkar. Ical pun dinilai tak pernah diberi mandat oleh partai."Keputusan tersebut tak pernah dirapatkan dalam pleno ataupun yang lebih tinggi. Pak ARB pun tak pernah diberi mandat untuk ikut dalam koalisi jangka panjang manapun," terang dia.

Politikus senior Golkar, Andi Mattalatta mengritik kondisi Golkar di bawah kepemimpinan Ketua Umum Aburizal Bakrie (Ical). Menurutnya, kondisi Golkar saat ini paling parah dibanding sebelum-sebelumnya."Kondisinya parah karena Golkar gagal menang. Di tahun ini perolehan suaranya paling parah," kata mantan Menkum HAM ini di Gedung Perintis Kemerdekaan, Jakarta, Selasa (15/7).Dia menegaskan, pemilu 2009 berbeda dengan 2014. Di 2014, parpol nasional yang ikut pemilu hanya 12, sedangkan di 2009 38 parpol."Tapi kita hanya dapat 91 kursi parlemen. Padahal di 2009 saingannya 38 parpol, tapi kita dapat kursi 106. Sekarang juga enggak ada tokoh nasional yang bertarung, di 2009 ada tokoh seperti SBY, tapi kita tetap dapat 106 kursi," katanya.

Andi Mattalatta juga menilai Ical tidak menghargai perbedaan pendapat dan semena-mena memecat kader. Menurutnya kepemimpinan ketua umum Golkar Aburizal Bakrie (Ical) tak demokratis."Tidak boleh kepemimpinan yang otoriter di Golkar. Salah, tanpa menegur langsung memecat tiga anggota yang sudah berdarah-darah memperjuangkan Golkar," terang dia.Mantan Menkum HAM ini menyatakan, kepemimpinan Golkar di bawah Ical juga melakukan banyak keputusan yang salah. Hal itu semakin menguatkan dorongan Munas Golkar dipercepat."Di era kepemimpinan ini terlalu banyak akumulasi kekecewaan, itu yang mendorong kami sepakat melakukan Munas. Munas Golkar yang akan datang itu harga mati," pungkas dia.

Politisi senior Partai Golkar Fahmi Idris menyesalkan gaya kepemimpinan Aburizal Bakrie (Ical) yang memperlakukan Partai Golkar seperti sebuah perusahaan. Ical tidak mengakomodir suara kader muda untuk maju di dalam partai."Ical mengendalikan Golkar tidak sebagaimana tradisi memimpin sebuah organisasi, dia seperti mengelola perusahaan. Dia tidak mempertimbangkan keberadaan kader muda," kata Fahmi Idris di Gedung Perintis Kemerdekaan Jakarta, Selasa (15/7).Fahmi menyatakan Ical bahkan memasukkan orang yang tidak dikenal ke dalam kepengurusan Partai Golkar. Orang tersebut tidak mengikuti jenjang kaderisasi yang ditetapkan di Partai Beringin. "Contohnya Rizal Mallarangeng, dia tidak pernah ada di Golkar. Tiba-tiba lompat-lompat ke Golkar, buruk sekali," terang dia.Oleh karena itu, dia juga menyerukan agar kader Golkar lintas generasi di seluruh Indonesia berjuang mengembalikan Golkar di jalur yang benar. Penyelamatan Partai Golkar dinilai harus diawali dengan menggelar Musyawarah Nasional kesembilan Partai Golkar sesuai AD/ART, selambat-lambatnya 4 Oktober 2014."Seluruh kader Golkar di mana saja, saya ajak untuk segera bergerak menyelamatkan partai ini. Mari kita dorong segera adanya Munas untuk evaluasi ke dalam atas kepengurusan hari ini," pungkas dia.

Ketua DPP Golkar sekaligus Ketua Angkatan Muda Partai Golkar Yorrys Raweyai mengkritik kepemimpinan Aburizal Bakrie (Ical) di Partai Golkar. Menurutnya, selama menjabat sebagai ketum, Ical tidak membawa perubahan untuk partai."Pemimpin yang lima tahun ini yang berbagai macam kebijakan, tidak membawa partai menuju kesuksesan," kata Yorrys yang berkumpul bersama tokoh senior dan tokoh muda Golkar di Gedung Perintis Kemerdekaan, Jakarta, Selasa (15/7).Dia juga mengungkapkan sejumlah bukti yang dinilai sebagai kegagalan dalam kepemimpinan Ical. Yorrys merujuk pada proses penetapan Ical sebagai calon presiden dari Golkar hingga perolehan suara di pemilu legislatif 9 April."Mulai dari menetapkan calon presiden dalam Rapimnas kedua. Kemudian dalam catur sukses ketiga mengenai pemenangan pilkada, kan tidak mencapai sukses. Kemudian pemilu legislatif juga gagal. Kemudian pemilu presiden gagal juga kan? Akhirnya menurunkan menjadi wapres gagal juga. Sekarang turun lagi jadi koalisi, gagal juga. Apakah itu bukan kegagalan, adanya malah pemecatan.""Sekarang Anda mau bilang apa lagi. Sekarang itu quick count itu salah satu metode dan kita sudah menerapkan itu semenjak 2004. Dari zaman SBY dan digunakan dunia. Dalam legislatif ada ruang untuk bergolak. Kalau pilpres, apalagi cuman dua, gimana bisa ada pergolakan," ungkapnya.

Rekomendasi