Bukan Partai Golkar namanya jika tidak sering berkonflik. Sejak reformasi, tubuh partai berlambang pohon beringin ini selalu bergejolak. Khususnya setiap jelang pemilu, ada saja perseteruan antar kadernya yang membuat partai ini pecah kongsi.
Akibatnya, para tokoh yang merasa tidak mendapatkan tempat atau merasa pikirannya tidak terakomodir oleh Golkar memilih 'lari' untuk membuat partai baru. Misalnya, Wiranto yang mendirikan Hanura, Surya Paloh memimpin Partai Nasional Demokrat (NasDem) dan Prabowo Subianto sukses membawa Partai Gerindra menjadi tiga besar di Pemilu 2014.
Gejolak terbaru di 2014, Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie (Ical) dinilai telah gagal memimpin partai karena tak bisa mencalonkan diri sebagai capres di Pilpres 2014 meski partai mampu duduk di peringkat dua perolehan suara di Pemilu Legislatif (Pileg). Ical semakin menjadi bulan-bulan sejumlah kadernya sendiri, setelah hasil hitung cepat menyatakan calon yang dijagokan Golkar yakni Prabowo-Hatta kalah oleh Jokowi-JK.
Senior Golkar seperti Fahmi Idris , Ginandjar Kartasasmita dan Suhardiman bahkan terang-terangan menilai Ical gagal. Mereka bahkan berencana melengserkan Ical dengan mengembangkan isu akan gelar Munaslub tahun ini. Tujuannya satu, mendukung Jokowi-JK dan menjadi bagian pemerintah jika pasangan ini benar menang sesuai keputusan KPU pada 22 Juli nanti.
Namun dengan berbagai kisruh di internal partainya, suara Golkar di setiap pemilu tak pernah merosot. Pada 2004, Golkar yang dipimpin Akbar Tandjung sukses menang pemilu meskipun kalah di pilpres. Kemudian 2009, partai peninggalan Presiden Soeharto ini tetap eksis di dua besar di bawah Partai Demokrat yang menang pemilu. Sementara 2014, posisi Golkar tak pernah bergeser di peringkat dua di bawah PDIP.
Berikut jejak kisruh Golkar di setiap pilpres:
Advertisement
Pada tahun 2004 Golkar menggelar konvensi internal untuk diajukan sebagai capres di pilpres kala itu. Wiranto, Akbar Tandjung dan Prabowo Subianto menjadi peserta konvensi.
Saat itu, mayoritas kader yang memiliki hak pilih menunjuk Wiranto sebagai pemenang konvensi mengalahkan Akbar dan Prabowo. Akhirnya, Golkar pun mengusung pasangan Wiranto dan Solahuddin Wahid (Gus Solah) sebagai capres dan cawapres di Pilpres 2004.
Namun sayang, pasangan yang diajukan Partai Golkar kalah telak. Bukan oleh siapa-siapa, Wiranto dikalahkan oleh Jusuf Kalla (JK) yang menjadi wakil presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).JK pun berhasil mengambil alih kursi kepemimpinan Golkar dari Akbar Tandjung setelah terpilih dalam Munas November 2004. Wiranto yang kecewa karena merasa tidak mendapat dukungan dari partai di pilpres karena suara lari ke pasangan SBY-JK memutuskan keluar dari Golkar dan mendirikan Partai Hanura. Sementara Prabowo yang kecewa dengan hasil konvensi mendirikan Partai Gerindra.
Golkar menjadi bagian dari pemerintahan SBY-JK periode 2004-2009. Jalannya pemerintahan pun cenderung efektif, karena didukung dengan parlemen yang kuat dengan berhasilnya JK mengambil alih dukungan Golkar.
Advertisement
Pada Pilpres 2009, SBY tak lagi memilih JK sebagai wakilnya. Momen ini sebagai pemicu konflik Golkar. Saat itu, Golkar pecah dukungan dan tidak solid mendukung calonnya sendiri yakni Jusuf Kalla (JK) dan Wiranto. Sejumlah elite lebih memilih mendukung SBY-Boediono daripada harus mendukung JK-Wiranto. Akhirnya, pasangan ini pun kalah oleh SBY-Boediono.Bukan Golkar namanya kalau tidak bermanuver mendekati sang pemenang pemilu. Partai beringin ini akhirnya merapat mendukung SBY-Boediono dan mendapat sejumlah kursi menteri periode 2009-2014.
Kekalahan JK-Wiranto dimanfaatkan dengan baik oleh Aburizal Bakrie (Ical). Dia akhirnya terpilih menjadi ketua umum setelah berhasil mengalahkan pesaing terberatnya Surya Paloh. Merasa kecewa karena tak bisa berkuasa di Golkar, bos Metro TV ini akhirnya mendirikan Partai NasDem yang awalnya didirikan sebagai ormas.
Advertisement
Dukungan kader Golkar yang pecah di Pilpres 2004 dan 2009 rupanya kembali terjadi di 2014. JK kembali menjadi orang yang membuat dukungan partai beringin ini pecah.JK maju menjadi cawapres Jokowi yang diusung oleh PDIP, NasDem, Hanura, PKB dan PKPI. Sementara Partai Golkar, bersama koalisinya yakni Gerindra, Demokrat, PAN, PPP, PKS dan PBB mengusung Prabowo-Hatta.
Internal Golkar pecah kongsi, Ical geram dan memecat sejumlah kader pembelot yang mendukung Jokowi-JK. Di antaranya, Nusron Wahid, Poempida Hidayatulloh dan Agus Gumiwang Kartasasmita.Ketika pilpres digelar, para pembelot Ical pun di atas angin dengan hasil hitung cepat yang menyatakan Jokowi-JK menang. Wacana pelengseran Ical dan pengambilalihan Golkar oleh JK kembali santer terdengar.
Para tokoh senior ingin Munas pemilihan ketua umum Golkar dilakukan tahun ini usai pilpres. Padahal, dalam hasil Munas sebelumnya, bahwa pemilihan ketua umum baru akan digelar tahun 2015.Ical dan para loyalisnya tak gentar. Dia menyatakan orang-orang yang mendesak dirinya mundur tidak punya hak untuk menentukan dan menggelar Munas ataupun Munaslub.
"Yang ngomong itu semua tidak punya hak suara. Tidak ada juga suara daerah yang menginginkan munas dipercepat," kata Ical di Tugu Proklamasi, Jakarta, Senin (14/7).Ical mengatakan percepatan munas hanya bisa dilakukan jika dua pertiga DPD II Golkar memintanya. Atau ada rapimnas yang meminta munas.