Adu strategi para jenderal di Timses Jokowi dan Prabowo

Serangan kubu Jokowi ke Prabowo lebih masif. Para senior Prabowo ini membuka cerita-cerita miring soal Prabowo.

Ramadhian Fadillah
Oleh Ramadhian Fadillah - Reporter
Adu strategi para jenderal di Timses Jokowi dan Prabowo
HUT ke-61 Kopassus. ©2013 Merdeka.com/M. Luthfi Rahman

Pasangan Prabowo - Hatta dan Jokowi - JK sama-sama memiliki para pensiunan jenderal di tim sukses masing-masing. Mereka punya strategi yang berbeda untuk membela jagoan mereka, sekaligus menyerang kubu lawan.Di kubu Prabowo dimotori mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Djoko Santoso. Lalu mantan Kasad George Toisutta dan Pramono Edhie Wibowo . Sementara Jokowi punya mantan Kepala BIN Jenderal (Purn) Hendropriyono, mantan Wakil Panglima ABRI Jenderal (Purn) Fachrul Razi. Mereka yang paling galak menyerang Prabowo .Serangan kubu Jokowi ke Prabowo lebih masif. Para senior Prabowo ini membuka cerita-cerita miring soal Prabowo saat masih berdinas. Terakhir, surat Dewan Kehormatan Perwira yang memuat rekomendasi pemberhentian Prabowo dari TNI, beredar.Kubu Prabowo pun membantah kebenaran surat itu. Mereka balik bertanya kenapa surat ini baru disebar jelang Prabowo maju Pilpres.Hari pencoblosan masih 9 Juli. Masih ada cukup waktu bagi para pensiunan jenderal ini untuk bermanuver saling mengalahkan.Berikut aksi para jenderal di dua kubu pasangan Prabowo dan Jokowi .

Wakil Ketua Bapilu PDI Perjuangan Tubagus Hasanuddin menyebut ada Bintara Pembina Desa yang bermain mendukung Prabowo. Dia menemukan data itu di Sumedang."Mereka datang dari rumah ke rumah untuk mendata dan mengarahkan ke pasangan nomor urut satu," katanya di Bandung, Sabtu (7/6).Temuan lain Babinsa bukan hanya terjadi di Sumedang Jawa Barat. Dia menambahkan, pengerahan babinsa juga terjadi di Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo. Pada Kamis 5 Juli lalu ada aparat babinsa yang memasang spanduk Prabowo-Hatta."Tapi baliho tersebut sekarang sudah diturunkan oleh masyarakat secara ramai-ramai," terangnya.Kubu Prabowo membantah hal ini. Panglima TNI Jenderal Moeldoko pun membantah Babinsa tak netral di Sumedang. Moeldoko menyebut ada timses capres tertentu yang ingin fitnah TNI.

Mantan Pangdam V Brawijaya, Mayjen (Purn) TNI, Suwarno menilai Prabowo Subianto hanya sebagai korban politik 1998. Menyebarnya surat pemecatan atas Mantan Danjen Kopassus itu, akibat perebutan jabatan sebagai menteri pertahanan, Panglima TNI dan KASAD, di masa transisi pasca-reformasi 98."Akibat intrik politik itu, Prabowo diberhentikan dan diminta bercerai dengan istrinya. Saya tahu betul intrik politik di tubuh TNI. Saat Prabowo menjabat sebagai Pangkostrad, di tubuh ABRI sekarang TNI, muncul satu dinamika atau turbulance politik, dan yang dikorbankan adalah Prabowo ," papar Suwarno usai acara deklarasi Buruh Jawa Timur dukung Prabowo-Hatta di Surabaya, Rabu (11/6).Akibat dinamika politik ini, membuat Prabowo diberhentikan. "Diberhentikan dengan hormat, bukan dipecat. Sampai hari ini Prabowo masih menerima pensiun. Tapi saya tidak tahu diambil atau tidak."Namun, kata mantan Komandan Paspampres ini, saat Prabowo mencalonkan diri sebagai presiden di Pilpres 2014, surat pemecatan muncul dengan tujuan untuk menjatuhkan Prabowo.

Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Pramono Edhi Wibowo yakin Prabowo-Hatta bakal menang dalam Pilpres 9 Juli mendatang. Jika Prabowo kalah, Pramono yakin tak bakal terjadi kericuhan atas hasil tersebut. Mantan Kasad ini pun menyindir calon lainnya."Oh enggak. Beliau (Prabowo) sudah mengatakan, kebetulan saya mendukung beliau. Dia mengatakan, saya siap (kalah). Pak Prabowo pada saat (Pilpres 2009) kalah dengan Pak SBY beliau yang mengirimkan surat tertulis selamat kepada SBY. Hanya Prabowo Subianto yang lain norak. Saya sindir sekalian," kata Pramono di Jakarta, Kamis (12/6).Mantan peserta konvensi capres Demokrat ini meminta kepada kedua pasangan capres dan cawapres untuk bersikap sportif dalam bertanding. Dengan begitu, kerusuhan setelah Pilpres mendatang dapat dihindari.

Mantan Wakasad Letjen TNI Purnawirawan Suryo Prabowo mempertanyakan tanggung jawab atasan Prabowo dalam kasus penculikan yang dilakukan oleh Kopassus pada tahun 1998."Mengapa Jenderal Feisal Tanjung, Jenderal Wiranto, Jenderal Subagyo HS dan Jenderal Fachrul Razi yang merupakan atasan Langsung Letjen Prabowo kok seluruhnya melarikan diri dari tanggung jawab?" Kata anggota tim pemenangan Prabowo - Hatta ini dalam siaran pers yang diterima merdeka.com, Selasa (10/6).Menurut Suryo, Prabowo sudah bersikap ksatria dengan bertanggung jawab pada sidang Dewan Kehormatan Perwira (DKP) atas kesalahan yang dilakukan anak buahnya."Prabowo sempat menyampaikan adagium yang menyatakan bahwa 'tidak ada prajurit yang salah, yang salah adalah komandannya'. Seharusnya komandan atau atasan Prabowo juga ikut bertanggungjawab. Ini kok malah melarikan diri dari tanggung jawab," tegas dia.

Anggota tim pemenangan Jokowi-Jusuf Kalla (JK) Jenderal (Purn) AM Hendropriyono buka-bukaan soal capres Prabowo Subianto yang sempat menjadi bawahannya. Menurutnya, dalam sebuah tes di perwira, Prabowo mendapatkan nilai grade 4 dan paling rendah.Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu juga mengatakan, seorang anggota TNI dengan kondisi kejiwaan seperti itu sangat temperamental dan mudah terpancing amarahnya. Namun, dia menegaskan bukan hanya emosional tetapi Prabowo dianggap sudah psikopat dan jika stres bisa sedikit gila.Pernyataan tersebut mendapat tanggapan dari kubu Prabowo - Hatta. Mantan Wakasad yang juga masuk dalam tim pemenangan Prabowo - Hatta, Letjen (Purn) Suryo Prabowo menilai Hendropriyono sadis atas pernyataannya itu."Hendropriyono dengan sadis menyampaikan ke publik bahwa Prabowo menderita skizofrenia, psikopat dan dekat-dekat gila. Ini sudah sangat keji, saya justru meragukan dia sebagai profesor. Saat menjadi Wakasad, saya lihat langsung hasil kondisi kejiwaan Prabowo, sangat bagus. Tuduhan hasil test kejiwaan Prabowo mendapat Grade 4 yang disampaikan Hendropriyono itu fitnah. Di lingkungan TNI AD penilaian dengan sistem 'grade' tidak digunakan lagi," kata Letjen (Purn) Suryo Prabowo dalam pernyataan yang diterima merdeka.com, Rabu (4/6).

Surat Dewan Kehormatan Perwira (DKP) berisi rekomendasi pemberhentian Prabowo Subianto dari ABRI beredar luas di masyarakat. Para perwira tinggi yang kala itu ikut menyidangkan angkat bicara.Letjen (Purn) Fachrul Razi mengakui jika dilihat dari aspek kehormatan perwira Prabowo memiliki banyak kesalahan. "Melakukan penculikan, meskipun awalnya tidak mengakui tapi belakangan diakui, dan itu kan sangat luar biasa," kata mantan Wakil Panglima ABRI itu."Dia (Prabowo) menggunakan satuan Kopassus, padahal Kopassus ini kan satuan elite, yang dilatih dan sangat disegani oleh dunia. Kenapa digunakan untuk penculikan dengan pertimbangan yang tidak logis," tambahnya.Dalam beberapa kasus lain, kata Fachrul, Prabowo sering tidak ada bepergian ke luar negeri. "Ini sangat-sangat tidak disiplin dan membahayakan. Apalagi terakhir pada saat dia melakukan penculikan itu," tuturnya.Meski seabrek bukti ditemukan soal kelakuan Prabowo, DKP tetap tidak menggunakan kata pemecatan. "Dari hasil itu saja kami anggap dia sudah sangat pantas untuk dipecat. Tapi kami sepakat untuk tidak menggunakan kata pemecatan," tandasnya.

Rekomendasi