Reformasi gagal, korupsi menggila, birokrasi makin gemuk

Di era Reformasi, modal asing juga semakin deras mengalir ke dalam negeri.

Muhammad Sholeh
Oleh Muhammad Sholeh - Reporter
Reformasi gagal, korupsi menggila, birokrasi makin gemuk
Gus Solah. ©2012 Merdeka.com

Ketua Komite Konvensi Rakyat Salahuddin Wahid menegaskan kepercayaan rakyat terhadap DPR dan partai politik berada di titik nadir dan turun drastis. Sebab, kebanyakan politisi punya anggapan bahwa menjadi anggota DPR adalah mencari uang, bukan untuk pengabdian dan melayani rakyatnya. Demikian halnya dengan para kepala daerah yang lebih mengutamakan partai dan kepentingan kelompoknya ketimbang mengurusi rakyat."Kepala daerah banyak sekali yang diadili dan dijatuhi hukuman karena korupsi, karena mereka harus mengembalikan investasi politik uang yang sangat transaksional," ujar pria yang akrab disapa Gus Solah itu di Balai Sudirman, Jakarta, Rabu (11/03).Adik Almarhum Gus Dur ini menilai parpol saat ini sudah tak lagi memiliki ideologis. Mereka lebih bersifat pragmatis dan transaksional."Orde Reformasi tidak mampu terwujud, yang ada ialah lanjutan dari Orde Baru, penegakan keadilan hanya sebuah mimpi, korupsi merajalela, birokrasi pemerintah makin korup, gemuk dan lamban, pemerataan hasil pembangunan masih belum baik, dan juga modal luar negeri makin dominan," jelasnya.Hari ini agenda debat publik Capres Konvensi Rakyat memasuki putaran ke enam. Setelah enam kota yang dilalui, yakni di Surabaya, Medan, Balikpapan, Makassar, dan Bandung, hari ini giliran DKI Jakarta yang disapa tujuh peserta capres Konvensi Rakyat.Adapun peserta capres Konvensi Rakyat terdiri dari tujuh kandidat. Mereka di antaranya; Yusril Ihza Mahendra , Rizal Ramli , Isran Noor , Sofjan Siregar , Anni Iwasaki , Ricky Sutanto dan Tony Ardi .

Rekomendasi