Gita Wirjawan: Indonesia harus ubah paradigma dagang ke produksi

Gita meyakini jika industri kreatif tumbuh maka pasar Indonesia makin kokoh dan bisa mendominasi ASEAN.

Iqbal Fadil
Oleh Iqbal Fadil - Reporter
Gita Wirjawan: Indonesia harus ubah paradigma dagang ke produksi
Gita Wirjawan. ©2014 merdeka.com/dwi narwoko

Indonesia diyakini bisa menguasai ekonomi ASEAN karena skala ekonomi Indonesia cukup luas. Oleh karena itu Industri kreatif harus mampu merebut peluang besar ini dengan merubah paradigma dari dagang ke produksi.Demikian disampaikan Gita Wirjawan saat memberikan kuliah umum di depan mahasiswa Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Selasa (25/2).Gita meyakini jika industri kreatif tumbuh maka pasar Indonesia makin kokoh dan bisa mendominasi ASEAN. "Dari total 600 juta penduduk ASEAN, 250 juta ada di sini. Kita punya pasar yang besar, sumber daya alam yang besar. Tidak ada alasan kita kalah bersaing," kata Gita di hadapan ratusan mahasiswa.Gita memberikan contoh bagaimana produksi telepon seluler (ponsel) yang diimpor ke Indonesia di mana bahan baku antara lain karet dan timah sebagai komponen utama i ada di Indonesia."Kita produsen timah terbesar dunia, lalu kita ekspor dan dijadikan bahan baku untuk ponsel lalu diimpor lagi ke sini. Tahun lalu 60 juta ponsel kita impor ke sini. Alangkah menyakitkan," kata Gita.Oleh karena itu, sudah saatnya paradigma produksi harus menjadi lokomotif ekonomi ke depan."Kita wajib membangun industri kreatif label merah putih untuk memenuhi pasar kita ke depan. Sampai hari ini ada sekitar 250 juta ponsel yang digunakan di Indonesia. Nyaris setiap orang pakai ponsel," tandas Gita.Gita menyadari memang ada kendala sistemik yang harus diubah agar pembangunan industri kreatif berbasis teknologi kita bisa maju. "Memang ada kendala seperti akses pendanaan, suku bunga, birokrasi, dan keberanian berinovasi. Tapi semua itu bisa diatasi," tukas Gita yang calon presiden peserta konvensi Partai Demokrat.Menurut Gita, dalam 20 tahun ke depan akumulasi ekonomi Indonesia berkisar di angka Rp 360.000 triliun."Jika kita bisa berparadigma produksi dan mewujudkan itu maka betapa besar pasar yang akan bisa diisi oleh SDM dari jebolan UI dan Universitas lain di Indonesia," kata Gita.

Rekomendasi