Jaringan ulama dan jawara kuat, dinasti Atut sulit runtuh

Jaringan dinasti Ratu Atut sudah menggurita di segala bidang. Selain di politik, ulama dan jawara sudah dikuasai.

Dwi Prasetya
Oleh Dwi Prasetya - Reporter
Jaringan ulama dan jawara kuat, dinasti Atut sulit runtuh
Demo Ratu Atut di KPK. ©2013 Merdeka.com/dwi narwoko

Selain menguasai eksekutif dan legislatif, salah satu penyebab kuatnya dinasti Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah , karena dukungan para ulama dan jawara. Penangkapan Tubagus Chaeri Wardana oleh KPK tidak akan meruntuhkan jaringan yang sudah dibangun puluhan tahun itu.Pengamat politik asal Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten, Gandung Ismanto memaparkan, ada dua dimensi untuk memahami mengapa dinasti Atut cukup kuat. Pertama, yaitu aspek struktur politik melalui Partai Golkar di mana jabatan legislatif dan eksekutif diraih melalui jalur ini. Kedua, dinasti Atut memiliki legitimasi tradisional pada kelompok jawara dan ulama."Sepanjang ulama dan jawara tidak banyak berubah menyikapi persoalan ini, saya tidak yakin Banten akan berubah. Persoalannya, loyalitas ulama dan jawara itu belum banyak berubah," kata dia dalam perbincangan dengan merdeka.com, Selasa (8/10).Gandung, menambahkan, meski Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan yang dianggap sebagai tokoh sentral di balik dinasti Atut ditahan, tetapi sistem yang dibangun untuk menjaga jaringan ulama dan jawara tetap terpelihara. "Paling tidak sejak Pemilu 2009, tidak hanya membangun basis di Partai Golkar tetapi sudah berkembang ke banyak partai," ujar dia.Jauh melihat ke belakang, Gandung menyatakan, dinasti Atut yang dirintis sang ayah, Tubagus Chasan Sohib, tidak bisa hanya melihat di Partai Golkar saja. Karena kroni-kroninya, kata Gandung, sudah banyak tersebar di partai lain."Meski mereka berlatar belakang partai berbeda, kalau mereka terpilih pasti mengusung satu kepentingan. Inilah begitu kuatnya jejaring kekuasaan dinasti politik ini," cetus Gandung.Masyarakat kelas menengah Banten tidak siapDi sisi lain, Gandung juga menilai, masyarakat kelas menengah Banten saat ini tidak siap menyikapi momentum perubahan ini. Sehingga mereka tidak sempat mengonsolidasi diri. Tokoh-tokoh pendiri Banten sampai hari ini juga belum terdengar suaranya. "Baru kemarin, Pak Uu Mangkusasmita (tokoh pendiri Provinsi Banten). Tetapi tidak disambut baik tokoh-tokoh yang lain. termasuk di kalangan ulama-ulama yang menjadi silent majority," katanya.

Sebelum ada kasus penangkapan Wawan, Gandung menganalisa, Pemilu 2014 akan menjadi fase penguatan hegemoni dinasti Atut. Karena jika di Pemilu 2009 mereka baru berhasil mendudukkan saudara-saudara sedarah sampai pada level anak istri ke 2, kalau di 2014 nanti anak dari istri ke 4 ke 5 sudah mencalonkan diri di berbagai partai politik."Jadi kekuatannya akan lebih menggurita. Mereka sudah masuk ke partai-partai politik. Jika Ibu Atut mundur atau non aktif karena kasus hukum ini, selama mereka masih mampu bertahan pada 2014, dan kelas menengah tidak mampu memanfaatkan momentum ini untuk mencegah keluarga-keluarga ini menjadi pejabat di politik nanti, maka mereka akan survive kembali dan akan menyerang balik kepada kelompok-kelompok yang saat ini kritis," ujar Gandung.

Rekomendasi