Peristiwa terbakarnya Kapal Republik Indonesia (KRI) Klewang di dermaga TNI AL Banyuwangi, Jawa Timur menuai banyak pertanyaan. Terlebih, kapal ini termasuk baru dan canggih dengan harga per unit mencapai Rp 114 miliar.KRI Klewang-625 memiliki panjang 63 meter. Kapal ini merupakan kapal tipe trimaran (tiga lunas) dan dibangun Lundin Industries di Banyuwangi. Bahan utamanya adalah serat gelas yang sekuat baja dan tidak memantulkan sinyal radar. Sehingga, kapal ini tidak terdeteksi radar.Teknologi serupa juga dimiliki Pesawat terbang intai F-117 Night Hawk milik Angkatan Udara Amerika Serikat. Terlepas dari kecanggihannya, Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin menyatakan sangat aneh jika kapal baru yang belum dioperasikan sudah terbakar. Padahal, menurut rencana, KRI Klewang itu akan diserahterimakan pada TNI AL pekan depan."Terlepas dari apapun, kapal itu masih baru sistemnya, berikut jaringannya. Sehingga sangat aneh kalau kemudian kapal baru jadi kemudian kebakaran," ujar Hasanuddin saat berbincang dengan merdeka.com, Sabtu (29/9).Menurutnya, ada tiga hal yang harus dicari tahu mengenai kondisi kapal tersebut. Pertama mengenai kontruksi kapal baru itu apakah benar-benar memadai untuk digunakan sebagai kapal tempur. Jika terjadi aksi saling tembak, amunisi yang diarahkan jangan sampai membakar habis seluruh badan kapal."Padahal belum diuji coba, tapi kenapa sudah berani di launch (luncurkan) kepada TNI AL," sindirnya.Tidak hanya itu, dia mengimbau sistem pengoperasian kapal juga harus diperiksa dengan baik. Sehingga, ketika mulai dioperasikan nanti, kapal perang yang seharusnya dapat memperkuat armada pertahanan laut justru terbakar dan membunuh awaknya di luar kondisi perang.Kemudian, salah satu hal yang paling krusial adalah mengenai pengadaan barang yang dilakukan oleh TNI AL sendiri. Sebab, dilihat dari jenisnya, kapal bertipe KRI Klewang ini hanya terdapat satu macam di seluruh dunia sehingga harus ditelusuri prosesnya."Harus dicek apakah benar apakah standar harganya Rp 114 miliar dan mengapa TNI AL kok membeli kapal yang belum pernah di uji coba," ujar politikus PDIP ini.Tidak hanya itu, pembuatan kapal jenis KRI Klewang ini diserahkan kepada Lundin Industries. Secara umum, perusahaan itu dipandang belum memiliki pengalaman untuk memproduksi kapal canggih."PT Lundin itu belum pernah produksi kapal canggih dalam sejarahnya," ucapnya.Dihubungi terpisah, Direktur Program Imparsial Al A'raf mengaku, dirinya mendukung pembuatan kapal perang oleh perusahaan di Indonesia. Namun, terbakarnya KRI Klewang ini membutuhkan penyelidikan yang lebih mendalam dari Mabes AL maupun Lundin Industries."Harus ada penjelasan terhadap publik tentang apa penyebab kebakaran dari kapal tersebut," kata dia.Terbakarnya KRI Klewang juga tidak lantas menyebabkan industri perkapalan, terutama pertahanan di Indonesia lantas tertutup rapat. Pasalnya, Indonesia memiliki kesempatan luas untuk mengembangkan lebih jauh terhadap teknologi-teknologi alutsista."Saya merasa kejadian-kejadian ini enggak kemudian menutup kesempatan mengembangkan industri pertahanan dalam negeri meski sebenarnya dilakukan swasta," tandasnya.
TB Hasanuddin: Aneh kapal canggih kok bisa terbakar
Hasanuddin menyebut, PT Lundin Industries dipandang belum memiliki pengalaman untuk memproduksi kapal canggih.
Advertisement
Rekomendasi