Antusiasme Warga Sambut Pembangunan Huntap Bireuen Pascabencana Hidrometeorologi

Warga Desa Balee Panah, Bireuen, Aceh, menyambut antusias Pembangunan Huntap Bireuen yang diproyeksikan tahan gempa, berharap segera menempati dan menata kembali kehidupan pascabencana hidrometeorologi.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Antusiasme Warga Sambut Pembangunan Huntap Bireuen Pascabencana Hidrometeorologi
Warga Desa Balee Panah, Bireuen, Aceh, menyambut antusias Pembangunan Huntap Bireuen yang diproyeksikan tahan gempa, berharap segera menempati dan menata kembali kehidupan pascabencana hidrometeorologi. (AntaraNews)

Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera melaporkan adanya antusiasme tinggi dari penyintas bencana hidrometeorologi di Aceh terhadap progres pembangunan hunian tetap (huntap). Antusiasme ini terutama terlihat di Desa Balee Panah, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, Aceh, di mana warga sangat menantikan selesainya pembangunan huntap tersebut.

Suryani, salah satu penyintas dari Desa Balee Panah, mengungkapkan bahwa rumahnya hancur akibat bencana hidrometeorologi yang melanda kampungnya pada akhir tahun lalu. Ia menyambut baik inisiatif pembangunan huntap ini sebagai langkah penting untuk memulihkan kehidupan masyarakat.

Pembangunan huntap di Bireuen ini merupakan upaya pemerintah untuk menyediakan tempat tinggal yang layak dan aman bagi para korban bencana. Hunian ini dirancang dengan spesifikasi tahan gempa, memberikan rasa aman dan harapan baru bagi warga yang terdampak.

Spesifikasi Hunian Tetap dan Harapan Warga

Hunian tetap yang dibangun di Desa Balee Panah memiliki tipe 36 dengan spesifikasi yang dirancang untuk keamanan dan kenyamanan. Bangunan ini menggunakan fondasi batu kali, dinding bata ringan (habel), serta struktur atap baja ringan yang dikombinasikan dengan material spandex, dan plafon PVC.

Unit percontohan huntap di Desa Balee Panah telah selesai dibangun, menampilkan cat putih dengan ruang utama, dua kamar tidur, dan satu kamar mandi. Penerangan di dalam rumah juga telah menggunakan lampu LED, menunjukkan perhatian terhadap detail dan kualitas hunian.

Suryani berharap Pembangunan Huntap Bireuen ini dapat segera diselesaikan agar ia dan warga lain bisa segera menempatinya. Ia menuturkan, pembangunan direncanakan akan dikebut setelah Hari Raya Idulfitri 1447 H/2026, dan warga sangat menantikan momen tersebut untuk kembali menata kehidupan mereka.

Selain itu, Suryani juga menyampaikan apresiasinya kepada pemerintah atas bantuan yang telah diberikan selama masa pascabencana. Bantuan berupa bahan kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan mi instan sangat menunjang kesehariannya setelah terdampak bencana.

Skema Pembangunan dan Cakupan Wilayah

Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Pembangunan Huntap Bireuen di Kecamatan Juli menggunakan skema in situ. Skema ini berarti hunian dibangun di sekitar area awal terdampak bencana, memungkinkan warga untuk tetap berada di lingkungan mereka.

Selain Kecamatan Juli, dua kecamatan lain di Bireuen yang juga akan mendapatkan pembangunan huntap dengan skema in situ adalah Kecamatan Jangka dan Kecamatan Peudada. Pendekatan ini memastikan bahwa penyintas tidak perlu berpindah tempat terlalu jauh dari komunitas asal mereka.

Suryani menegaskan bahwa warga memang menginginkan huntap agar tidak perlu berpindah-pindah lagi setelah sebelumnya tinggal di hunian sementara. Pembangunan huntap ini menjadi kelanjutan dari program hunian sementara (huntara) dan Dana Tunggu Hunian (DTH) yang disiapkan Satgas PRR.

Program ini bertujuan untuk memindahkan pengungsi dari tenda darurat ke hunian yang lebih layak dan permanen. Pembangunan Huntap Bireuen merupakan bagian integral dari strategi rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

Progres Nasional dan Kolaborasi Lintas Sektor

Satgas PRR Pascabencana Sumatera terus menggenjot pembangunan hunian tetap bagi penyintas bencana hidrometeorologi di tiga provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pembangunan ini ditujukan bagi warga yang rumahnya mengalami rusak berat atau hilang akibat banjir.

Secara keseluruhan, Satgas PRR memproyeksikan pembangunan 36.669 unit huntap di ketiga provinsi terdampak. Hingga saat ini, sebanyak 110 unit huntap telah rampung dibangun, sementara 1.359 unit lainnya masih dalam proses konstruksi.

Pembangunan huntap ini melibatkan kolaborasi lintas Kementerian/Lembaga, termasuk BNPB, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam), Danantara, serta Pemerintah Daerah. Sejumlah pihak swasta dan perorangan juga turut berkontribusi dalam upaya mulia ini.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi