Surakarta, Jawa Tengah – Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bukan hanya sekadar aturan atau prosedur teknis, melainkan sebuah fondasi moral yang esensial bagi keberlangsungan manusia dan industri. Pernyataan ini disampaikan oleh Edi Priyanto, Ketua Umum Keluarga Alumni Sekolah Vokasi (SV) Universitas Negeri Surakarta (UNS), dalam sebuah acara penting.
Edi Priyanto menegaskan pandangan tersebut saat acara Temu Alumni dan Kuliah Umum Program Studi K3 Sekolah Vokasi UNS yang berlangsung di Surakarta, Jawa Tengah, pada hari Sabtu. Menurutnya, K3 adalah bahasa universal yang menyatukan kemanusiaan, di mana bekerja dengan selamat berarti menjaga martabat setiap individu.
Dalam kesempatan tersebut, para profesional K3 didorong untuk kembali pada nilai-nilai dasar sambil mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan. Ini termasuk menghadapi era industri berkecepatan tinggi, krisis lingkungan global, serta perubahan kompetensi kerja akibat digitalisasi dan otomatisasi yang terus berkembang.
Advertisement
Advertisement
Edi Priyanto secara lugas menyatakan bahwa K3 melampaui sekadar kepatuhan regulasi atau kompetensi teknis. Baginya, K3 adalah inti dari keberlangsungan hidup dan martabat manusia. "Keselamatan adalah bahasa universal yang menyatukan kemanusiaan. Bekerja selamat berarti menjaga martabat manusia,” ujar Edi, menekankan pentingnya aspek kemanusiaan dalam setiap praktik kerja.
Profesional K3 diharapkan tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga karakter, integritas, kepedulian, dan konsistensi. Edi Priyanto mengibaratkan hal ini dengan filosofi Jawa "Urip iku urup," yang berarti hidup itu menyala. Ia menambahkan, "Profesional K3 adalah mereka yang menjaga agar kehidupan tetap bernyawa, manusia tetap selamat, bumi tetap layak dihuni."
Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa kembali ke akar bukan berarti mundur, melainkan memperkuat pijakan untuk melompat lebih jauh ke masa depan. Hal ini penting dalam menghadapi dinamika industri yang terus berubah, memastikan bahwa nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi prioritas utama.
Advertisement
Advertisement
Dalam upaya memperkuat peran alumni, Edi Priyanto memperkenalkan strategi bertajuk Alumniverse, singkatan dari Alumni Vokasi Bersatu, Berkarya, Berdaya. Program ini dirancang untuk menciptakan ekosistem pembelajaran sepanjang hayat yang saling menguatkan di antara para alumni.
Alumniverse terdiri atas enam inisiatif kunci, yaitu MentorSiap, Jari Vokasi, Gapura, Tracer Aktif, Berkarya Bersama, dan Kanalin. Inisiatif-inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat jaringan alumni, membuka peluang karya dan karier, serta membangun kolaborasi antara akademisi, industri, dan alumni sebagai model pembelajaran masa depan yang inovatif.
Dengan semangat tersebut, alumni K3 UNS secara resmi mendeklarasikan komitmen mereka untuk menjadi agen perubahan. Mereka bertekad menjadi inovator keselamatan kerja dan penggerak keberlanjutan industri di Indonesia, mulai dari kontribusi di kampus, industri, hingga dampak global yang lebih luas.
Advertisement
Advertisement
Acara temu alumni ini turut dimeriahkan dengan pelantikan pengurus Keluarga Alumni Program Studi (KAPS) Keselamatan dan Kesehatan Kerja Sekolah Vokasi UNS. Pelantikan ini dipimpin langsung oleh Edi Priyanto, yang menegaskan bahwa alumni adalah bagian dari ekosistem pembelajaran yang terus berkembang.
Setelah pelantikan, Ketua KAPS K3 SV UNS terpilih, Fathoni Firmansyah, menyampaikan komitmennya. "Pelantikan ini merupakan langkah awal dari gerakan bersama untuk memperkuat peran alumni, membuka ruang kolaborasi baru, dan menghadirkan kontribusi yang lebih berdampak khususnya di bidang K3," ucap Fathoni, berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan.
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Sekolah Vokasi UNS, Sumardiyono, mengapresiasi kehadiran para alumni lintas generasi. Ia menekankan pentingnya peran alumni sebagai penghubung vital antara dunia industri dan kampus. Sumardiyono berharap KAPS K3 tidak hanya menjadi wadah silaturahmi, tetapi juga institusi strategis untuk pengembangan mutu, pelacakan alumni, rekognisi profesi, serta pusat kontribusi keilmuan K3 yang relevan dengan tantangan nyata di lapangan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews