Yogyakarta Perkuat Gerakan Reresik Sekolah, Tingkatkan Kepedulian Pelajar Terhadap Kebersihan Lingkungan

Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Yogyakarta menggalakkan Gerakan Reresik Sekolah untuk menumbuhkan kepedulian pelajar terhadap kebersihan lingkungan, dikemas dalam roadshow kolaboratif.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Yogyakarta Perkuat Gerakan Reresik Sekolah, Tingkatkan Kepedulian Pelajar Terhadap Kebersihan Lingkungan
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Yogyakarta kembali menggalakkan Gerakan Reresik Sekolah, sebuah inisiatif kolaboratif untuk menumbuhkan kepedulian pelajar terhadap kebersihan lingkungan sekolah. (AntaraNews)

Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta meluncurkan inisiatif baru untuk meningkatkan kesadaran pelajar akan pentingnya kebersihan lingkungan sekolah. Program ini, yang bertajuk Gelar Pelajar Pemuda dan Gerakan Reresik Sekolah, akan diadakan pada Sabtu, 8 November. Tujuannya adalah mendorong partisipasi aktif siswa dalam menjaga kebersihan.

Kegiatan kolaboratif ini tidak hanya menjadi wadah ekspresi bakat siswa, tetapi juga fokus pada edukasi lingkungan. Mugi Suyatno, Ketua Tim Kerja Pembinaan Kepemudaan Disdikpora Yogyakarta, menyatakan bahwa "Agenda ini akan menjadi sebuah panggung ekspresi bagi pelajar Yogyakarta untuk menampilkan semua talenta di satuan pendidikan, serta untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekolah." Ini juga bertujuan untuk meningkatkan kepedulian mereka terhadap lingkungan sekitar sekolah.

Roadshow ini akan menyasar berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, hingga SMA di Kota Yogyakarta. Inisiatif ini merupakan kelanjutan dari program "Kampanye Gerakan Sampah Anorganik" yang telah dilembagakan sejak awal tahun 2022.

Sejarah dan Implementasi Gerakan Reresik Sekolah

Gerakan Reresik Sekolah sebenarnya sudah menjadi bagian dari agenda Disdikpora Yogyakarta sejak awal tahun 2022. Program ini dicanangkan bersamaan dengan Kampanye Gerakan Sampah Anorganik oleh Pemerintah Kota Yogyakarta. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan sekolah yang bersih dan sehat.

Implementasi gerakan ini diwajibkan untuk semua jenjang pendidikan, termasuk TK, SD, SMP, SMA, SMK, dan MA. Berdasarkan surat edaran Kepala Disdikpora Yogyakarta, kegiatan reresik sekolah harus dilaksanakan setiap Jumat Wage atau setelah hari Kamis Pon. Ini menunjukkan komitmen serius dari pemerintah kota.

Mugi Suyatno menjelaskan bahwa latar belakang Gerakan Pelajar Pemuda dan Gerakan Reresik Sekolah ini adalah kolaborasi dengan Yayasan Kalam Kudus Yogyakarta. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat dampak positif program. Tujuannya agar kegiatan kepemudaan di Disdikpora memberikan manfaat nyata bagi kebersihan lingkungan.

Kolaborasi dan Dukungan Penuh untuk Kebersihan Lingkungan

Agenda ini sejalan dengan arahan Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo dan Wakil Walikota Wawan Hermawan yang menekankan pentingnya pengelolaan sampah di lingkungan sekolah. "Sampah sekolah harus selesai di sekolah," ujar Mugi Suyatno, mengutip arahan pimpinan kota. Hal ini menunjukkan dukungan penuh dari pemerintah daerah.

Salah satu agenda penting dalam gerakan ini adalah pembuatan dan maksimalisasi fungsi biopori. Yayasan Kalam Kudus, sebagai mitra kolaborasi, telah menunjukkan komitmen kuat dalam pengelolaan sampah, bahkan memiliki biopori yang berusia sekitar 10 tahun. Ini menjadi contoh praktik baik yang bisa ditiru.

Ketua Panitia Kalam Kudus Fair, Novita Anggraeni, menjelaskan bahwa kegiatan diawali dengan sosialisasi Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas Jos) bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Setelah itu dilanjutkan dengan Gelar Pelajar Pemuda, dan puncaknya adalah kegiatan reresik sekolah. "Ini adalah aksi bersama untuk mengelola sampah sendiri guna menjaga kebersihan, kelestarian lingkungan sekolah, menumbuhkan kesadaran peduli lingkungan sejak dini, serta mewujudkan lingkungan belajar yang sehat dan nyaman," tambahnya.

Komitmen Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

Ketua Yayasan Kalam Kudus Cabang Yogyakarta, Kris Pujianto Halim, menegaskan komitmen yayasan dalam mengelola sampah di sekolah. Mereka memiliki strategi jelas untuk sampah organik dan non-organik. Ini menunjukkan tanggung jawab institusi pendidikan.

Sampah organik akan dikelola secara mandiri oleh pihak sekolah, salah satunya melalui pemanfaatan biopori yang sudah ada. "Jadi untuk sampah organik tentu akan kita kelola sendiri ya, salah satunya dengan biopori itu," kata Kris Pujianto Halim. Ini adalah solusi ramah lingkungan.

Sementara itu, sampah non-organik akan disalurkan ke bank sampah. Pendekatan ini bertujuan untuk mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA dan mendorong daur ulang. Inisiatif ini menumbuhkan kesadaran peduli lingkungan sejak dini serta mewujudkan lingkungan belajar yang sehat dan nyaman.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi