Wow, Sawahlunto Punya 6! Kuda Kepang dan Bakaru Nagari Kajai Resmi Jadi Warisan Budaya Sawahlunto Terbaru

Dua tradisi unik, Kuda Kepang dan Bakaru Nagari Kajai, kini resmi memperkaya daftar Warisan Budaya Sawahlunto. Apa keunikan dan makna di balik pengakuan nasional ini?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Wow, Sawahlunto Punya 6! Kuda Kepang dan Bakaru Nagari Kajai Resmi Jadi Warisan Budaya Sawahlunto Terbaru
Dua tradisi unik, Kuda Kepang dan Bakaru Nagari Kajai, kini resmi memperkaya daftar Warisan Budaya Sawahlunto. Apa keunikan dan makna di balik pengakuan nasional ini? (AntaraNews)

Kementerian Kebudayaan secara resmi menetapkan dua tradisi khas Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) Tahun 2025. Penetapan ini meliputi Kuda Kepang Sawahlunto dan Bakaru Nagari Kajai, yang keduanya dinilai memiliki nilai historis dan sosial budaya yang tinggi.

Pengakuan ini secara signifikan memperkuat identitas kultural daerah tersebut di kancah nasional. Dengan tambahan dua warisan baru ini, total Warisan Budaya Sawahlunto yang diakui secara nasional kini mencapai enam.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah, dan Permuseuman Kota Sawahlunto, Syukri, menyatakan bahwa penetapan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat. Hal ini juga diharapkan dapat mendorong pelestarian dan pengembangan budaya lokal di tengah gempuran modernisasi.

Keunikan Kuda Kepang Sawahlunto: Lintas Etnis dan Sakral

Kuda Kepang Sawahlunto memiliki karakteristik yang membedakannya dari Kuda Lumping di daerah asalnya, Pulau Jawa. Keunikan utama terletak pada partisipasi pemainnya yang tidak terbatas pada keturunan Jawa saja.

Para pemain Kuda Kepang Sawahlunto berasal dari berbagai etnis yang tinggal di kota tersebut. Kondisi ini menunjukkan semangat lintas budaya dan kebersamaan yang menjadi ciri khas masyarakat kota ini, memperkaya makna pertunjukan.

Pertunjukan Kuda Kepang Sawahlunto biasanya berlangsung dari waktu Asar hingga Maghrib, dengan penonton yang menanti pementasan itu ketika pemain memasuki kondisi trance atau kerasukan. Kondisi ini dianggap sakral dan penuh makna spiritual oleh masyarakat.

Syukri menjelaskan, "Atraksi ini menjadi bagian paling dinantikan karena menggambarkan kekuatan batin dan nilai kebersamaan lintas etnis."

Bakaru Nagari Kajai: Tradisi Tolak Bala dan Solidaritas Komunitas

Selain Kuda Kepang, Bakaru Nagari Kajai juga resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Bakaru merupakan tradisi masyarakat setempat dalam doa tolak bala yang rutin dilakukan menjelang bulan suci Ramadhan.

Dalam prosesi ini, warga berkumpul, berdoa bersama, dan memohon keselamatan bagi nagari mereka. Tradisi ini bukan hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga berfungsi sebagai media sosial budaya yang sangat efektif.

Syukri menambahkan, "Bakaru bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga media sosial budaya yang mempererat solidaritas antarwarga." Proses penetapan kedua unsur budaya ini melewati tahapan pencatatan, verifikasi lapangan, hingga sidang penetapan oleh tim ahli Kementerian Kebudayaan.

Tim ahli menilai aspek keberlanjutan tradisi, dukungan komunitas pelestari, serta makna sosial-budaya di masyarakat sebagai kriteria utama. Hal ini memastikan bahwa tradisi tersebut memang hidup dan relevan bagi komunitasnya.

Sawahlunto: Kota dengan Enam Warisan Budaya Nasional

Dengan penetapan Kuda Kepang Sawahlunto dan Bakaru Nagari Kajai, total Warisan Budaya Sawahlunto yang diakui secara nasional kini berjumlah enam. Sebelumnya, Sawahlunto telah memiliki empat warisan budaya lain yang juga telah diakui.

  • Songket Silungkang (ditetapkan pada tahun 2019)
  • Bahasa Tangsi (ditetapkan pada tahun 2020)
  • Talempong Batuang (ditetapkan pada tahun 2023)
  • Lomang Tungkek (ditetapkan pada tahun 2024)

Hingga tahun 2025, lebih dari 1.700 unsur budaya di Indonesia telah masuk dalam daftar WBTbI. Pada tahun 2024 saja, sebanyak 272 warisan budaya baru dari berbagai daerah telah ditetapkan setelah melewati proses penilaian nasional yang ketat.

Wali Kota Sawahlunto, Riyanda Putra, menilai pengakuan ini bukan hanya kebanggaan, melainkan juga kesempatan emas untuk memperkuat karakter masyarakat di tengah perubahan zaman yang cepat. "Warisan budaya tak benda ini bukan sekadar pengakuan administratif, tetapi refleksi jati diri kita sebagai bangsa," ujarnya.

Riyanda Putra juga menekankan pentingnya memadukan nilai-nilai budaya lokal dengan semangat zaman, terutama bagi Generasi Z yang tumbuh dalam dunia digital. Ia berharap nilai-nilai di balik Kuda Kepang dan Bakaru dapat dimaknai sebagai inspirasi tentang keberanian, spiritualitas, dan gotong royong bagi generasi muda.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi