Wow, Ada 3! Paviliun Indonesia di CAEXPO 2025 Pamerkan Teknologi AI hingga Sawit Berkelanjutan
Indonesia tampil memukau dengan tiga Paviliun Indonesia di CAEXPO 2025, memamerkan inovasi teknologi AI, produk unggulan, dan potensi investasi. Apa saja yang ditampilkan?
Indonesia secara resmi membuka tiga paviliun uniknya dalam ajang bergengsi China-ASEAN Expo (CAEXPO) ke-22 dan China-ASEAN Business and Investment Summit (CABIS) 2025. Acara ini berlangsung di Nanning, Daerah Otonom Guangxi Zhuang, China, mulai 17 hingga 21 September 2025. Kehadiran ini menandai komitmen Indonesia dalam memperkuat hubungan ekonomi dengan China dan negara-negara ASEAN.
Pembukaan paviliun dilakukan oleh delegasi Indonesia yang dipimpin Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kementerian Perdagangan Miftah Farid pada Rabu (17/9). Wakil Kepala Perwakilan RI untuk Tiongkok dan Mongolia, Parulian Silalahi, menegaskan bahwa partisipasi ini lebih dari sekadar promosi produk. Ini adalah upaya strategis untuk mempererat kemitraan bilateral dan regional di berbagai sektor.
Tiga paviliun tersebut meliputi Paviliun Komoditas, Paviliun Nasional yang menyoroti Provinsi Kalimantan Selatan, serta Paviliun Kecerdasan Buatan (AI) yang menjadi debut Indonesia di sektor teknologi tinggi. Keikutsertaan ini bertujuan untuk membuka peluang perdagangan, investasi, pariwisata, dan budaya. Hal ini juga diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi nasional melalui kerja sama internasional.
Mengenal Tiga Paviliun Unggulan Indonesia di CAEXPO 2025
Indonesia mempersembahkan tiga paviliun dengan fokus yang berbeda namun saling melengkapi dalam CAEXPO 2025. Paviliun Komoditas menjadi yang terbesar dengan luas 2.900 meter persegi. Di sini, berbagai produk unggulan nasional dipamerkan, mulai dari makanan-minuman olahan hingga fesyen dan dekorasi rumah tangga.
Sebanyak 74 booth produk ditampilkan di Paviliun Komoditas, mencakup kelapa sawit dan turunannya, kerajinan tangan, kopi, cengkeh, serta buah tropis. Perusahaan besar seperti Telekomunikasi Indonesia (Telin) dan Maspion juga turut hadir. Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit aktif mengkampanyekan sawit berkelanjutan, menunjukkan komitmen Indonesia terhadap praktik ramah lingkungan.
Paviliun Nasional, seluas 108 meter persegi, secara khusus menyoroti potensi dari Provinsi Kalimantan Selatan. Bersama Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Tapin, paviliun ini menampilkan peluang perdagangan, investasi, pariwisata, dan kekayaan budaya daerah. Ini menjadi etalase bagi pesona alam dan kuliner khas Kalsel, termasuk Banjarmasin.
Sementara itu, Paviliun Kecerdasan Buatan (AI) seluas 36 meter persegi menandai langkah maju Indonesia di sektor teknologi. Dikelola oleh Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), paviliun ini menampilkan solusi digital inovatif. Fokusnya pada "smart farming", pengelolaan sampah, dan energi terbarukan, membuka pintu kerja sama teknologi dan investasi baru.
Memperkuat Kemitraan dan Peluang Investasi
Partisipasi Indonesia di CAEXPO 2025 bukan hanya sekadar pameran, melainkan platform strategis untuk memperkuat kemitraan. Wakil Kepala Perwakilan RI untuk Tiongkok dan Mongolia, Parulian Silalahi, menyatakan, "Partisipasi Indonesia di CAEXPO dan CABIS 2025 bukan sekadar mempromosikan produk, tapi memperkuat kemitraan strategis dengan China dan ASEAN." Pernyataan ini menggarisbawahi tujuan jangka panjang Indonesia.
Selain pameran, delegasi Indonesia juga aktif dalam berbagai kegiatan pendukung. Di antaranya adalah "Business Talk with Government of South Kalimantan Province" dan penandatanganan MoU antara Johnlin Agro Raya dengan Yonghong Group. Kerja sama ini berfokus pada sektor sawit berkelanjutan, menunjukkan komitmen terhadap praktik bisnis yang bertanggung jawab.
Forum Dialogue of Plantation Fund Management Agency juga diselenggarakan untuk membahas hilirisasi sawit, energi hijau, dan sertifikasi ISPO. Acara "Business Matching UMKM" menargetkan transaksi sebesar Rp100 miliar, memberikan dorongan signifikan bagi pelaku usaha kecil dan menengah. Ini menunjukkan upaya komprehensif untuk meningkatkan nilai tambah produk Indonesia.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), China masih menjadi mitra dagang utama Indonesia, menyumbang 40,86 persen impor nonmigas pada Januari 2025. CAEXPO dan CABIS, yang telah berlangsung sejak 2004, merupakan ajang krusial untuk kerja sama ekonomi ASEAN-China. Event ini berfungsi sebagai pintu masuk produk ASEAN ke pasar China, mempertemukan ribuan pelaku usaha dan investor.
Sumber: AntaraNews