Wamenbud Giring Ganesha: Jambore Pemuda Adat Perkuat Penjaga Warisan Budaya di Tengah Tantangan Modernisasi
Wamenbud Giring Ganesha menegaskan Jambore Pemuda Adat Kawasan Gunung Batur 2025 menjadi benteng pelestarian budaya dan lingkungan di tengah gempuran modernisasi.
Jambore Pemuda Adat Kawasan Gunung Batur 2025 akan segera digelar sebagai inisiatif penting pemerintah dalam mendukung penguatan peran pemuda adat. Kegiatan ini secara khusus berfokus pada pemuda adat sebagai garda terdepan dalam menjaga warisan budaya dan lingkungan alam. Pelaksanaan jambore ini menjadi respons terhadap berbagai tantangan pelestarian kebudayaan yang semakin kompleks di era modern.
Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha, menegaskan bahwa pemuda adat memiliki posisi vital dalam ekosistem pemajuan kebudayaan. Mereka adalah pilar utama dalam mempertahankan nilai-nilai luhur serta menjaga ketahanan bangsa dari berbagai ancaman. Giring juga menyoroti bahwa tantangan pelestarian kebudayaan tidaklah mudah, terutama dengan masifnya perubahan gaya hidup.
Acara ini akan diselenggarakan di Kintamani, Bali, sebuah wilayah yang menghadapi ancaman perubahan gaya hidup akibat arus pariwisata dan perkembangan teknologi. Pemilihan lokasi ini sangat relevan mengingat status Kaldera Gunung Batur sebagai UNESCO Global Geopark sejak 20 September 2012. Keunikan geologi, jejak budaya, dan nilai spiritual kawasan menjadi landasan kuat bagi penyelenggaraan kegiatan ini.
Pentingnya Peran Pemuda Adat dalam Pelestarian Budaya
Pemuda adat memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam memastikan keberlanjutan pengetahuan lokal, praktik budaya, dan pengelolaan wilayah adat. Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha, menekankan bahwa mereka adalah kunci dalam menjaga ekosistem dan memajukan kebudayaan bangsa. "Pemuda adat lebih vital dalam menjaga dalam ekosistem dalam pemajuan kebudayaan," kata Giring.
Giring menambahkan bahwa pemuda adat adalah garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai budaya serta untuk menjaga ketahanan bangsa. Tantangan pelestarian kebudayaan saat ini tidak mudah, terutama di Bali, di mana ancaman perubahan gaya hidup semakin masif. Hal ini disebabkan oleh derasnya arus pariwisata serta gempuran teknologi yang membawa permasalahan kompleks bagi masyarakat adat.
Kawasan Gunung Batur, yang menjadi lokasi jambore, memiliki keunikan geologi, jejak budaya, dan nilai spiritual yang tinggi. Statusnya sebagai UNESCO Global Geopark sejak 2012 semakin memperkuat alasan pemilihan lokasi ini. Kondisi ini menjadi landasan kuat bagi penyelenggaraan kegiatan yang fokus pada regenerasi kepemimpinan adat, pelestarian tradisi, serta pengembangan kreativitas berbasis kearifan lokal.
Jambore sebagai Jembatan Regenerasi dan Konsolidasi
Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya, Basuki Teguh Yuwono, menjelaskan bahwa Jambore Pemuda Adat ini berfungsi sebagai jembatan bagi pemuda pewaris adat. Melalui kegiatan ini, generasi muda adat didorong untuk mengonsolidasikan gagasan dan memperkuat solidaritas. Tujuannya adalah membangun kapasitas kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai leluhur.
Kementerian Kebudayaan berupaya mengoptimalkan potensi pemuda adat untuk bergerak sebagai pelestari budaya melalui Jambore ini. Mereka diharapkan menjadi penerus tongkat estafet lembaga budaya dan calon wirausahawan budaya yang kreatif. Inisiatif ini penting untuk memastikan keberlanjutan tradisi dan inovasi dalam konteks budaya.
Jambore Pemuda Adat Kawasan Gunung Batur 2025 diselenggarakan oleh Direktorat Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, Ditjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan. Acara ini berlangsung di Wantilan Tunon Batur, Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, pada 21-24 November. Kegiatan ini diikuti oleh 500 peserta dari 22 desa adat di sekitar Kawasan Gunung Batur, terdiri dari unsur pemuda adat, pemangku adat, Majelis Desa Adat, komunitas budaya, lembaga adat, dan unsur pemerintah daerah.
Sumber: AntaraNews