Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Jateng mengatakan pemasangan chairlift di Candi Borobudur tidak mengganggu struktur batu yang ada di lokasi tersebut. Sebab, di negara lain yang punya situs-situs kuno seperti candi juga biasa dipasangi chairlift dengan catatan disesuaikan kondisi lapangan masing-masing.
Ketua Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Jateng, Tanto Sugito Harsono mengatakan, mengacu penjelasan Dirut Injourney Maya Watono, saat memasang chairlift atau eskalator di Candi Borobudur dipastikan tidak ada proses pengeboran dan penggunaan paku.
"Tidak dikhususkan untuk orang siapa itu ndak, pemasangan chairlift tidak menganggu struktur candi. Tidak ada paku, tidak ada sekrup, tidak ada bor. Tidak melukai batu. Jadi, kita harus percaya pada kementerian," kata Tanto Sugito Harsono, Selasa (27/5).
Advertisement
Berharap Dipermanenkan untuk Akomodir Biksu Lansia
Informasi yang dihimpun, chairlift dalam jangka panjang akan dipasang permanen di Candi Borobudur. Chairlift nantinya bisa digunakan para biksu lansia maupun umat Buddha untuk kebutuhan beribadah di area teratas Candi Borobudur.
"Itu kan buat jangka panjang nantinya akan jadi permanen. Selama tidak mengganggu struktur candi, saya rasa enggak masalah ya. Dengan adanya lift itu nantinya biksu-biksu lansia yang susah jalannya, ingin ibadah ke puncak candi atau tidak ada tenaga atau umat, bisa pakai fasilitas itu," ungkapnya.
Menurutnya, kajian dari pihak kementerian sudah dilakukan. Apakah keputusan akan dipermanenkan atau tidak, dia masih menunggu keputusan akhirnya.
"Saya rasa tidak kurangi nilai ritualnya. Yang dipasang hanya satu sisi saja di selatan. Ini akan dikaji apakah akan dipermanenkan atau tidak. Kalau mengganggu ya di drop. Ini masih trail and error," ujar Tanto.