Viral Kepala Desa Mandi Lumpur di Jalan Rusak, Dinas PU Sragen Janjikan Hal Begini

Disinggung soal pembangunan jalan secara permanen (cor beton), pihaknya berjanji akan kembali mengusulkan proyek tersebut pada sumber anggaran APBD.

Arie Sunaryo
Oleh Arie Sunaryo - Reporter
Viral Kepala Desa Mandi Lumpur di Jalan Rusak, Dinas PU Sragen Janjikan Hal Begini
Viral Kepala Desa Mandi Lumpur di Jalan Rusak, Dinas PU Sragen Janjikan Hal Begini (Merdeka.com)

Aksi protes rusaknya jalan yang dilakukan Sunarso, Kepala Desa Desa Ngepringan, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah dengan mandi air bercampur lumpur, Selasa kemarin mendapatkan tanggapan positif dari pemerintah setempat.

Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Sragen menjanjikan langkah darurat dengan menerjunkan material untuk perbaikan sementara. Pemerintah beralasan anggaran pemeliharaan jalan se-Kabupaten Sragen tahun 2026 hanya berkisar Rp11 miliar, angka yang tergolong kecil untuk mencakup seluruh kerusakan. Sehingga hanya bisa dilakukan pemeliharaan rutin.

"Untuk penanganan sementara, kami jadwalkan pemeliharaan rutin dengan urukan sirtu (pasir batu). Rencananya paling cepat hari Jumat ini tim akan bergerak," ujar Kepala Bidang Bina Marga DPU Sragen, Aribowo Sulistyo.

Disinggung soal pembangunan jalan secara permanen (cor beton), pihaknya berjanji akan kembali mengusulkan proyek tersebut pada sumber anggaran APBD berikutnya atau melalui Dana Alokasi Khusus (DAK).

Menanggapi tudingan mengenai status 'lelang' yang tak kunjung terealisasi, Aribowo memberikan klarifikasi teknis. Dia membenarkan bahwa ruas jalan Bago–Mlale sepanjang 3,83 kilometer tersebut sebenarnya sudah masuk rencana rekonstruksi tahun 2025 dengan anggaran Rp1 miliar.

"Waktu itu kami sudah persiapan lelang melalui APBD Murni 2025, rencananya akan dicor beton. Tapi akhirnya terkena refocusing sehingga dibatalkan," jelas dia.

Lanjut dia, dari total panjang jalan tersebut, baru sekitar 1,43 kilometer yang telah dicor pada tahun 2018. Sisanya hingga kini masih berupa jalan bebatuan yang hancur.

Terpisah, Camat Jenar, Y. David Supriyadi mengakui jika kondisi jalan menuju SMPN 2 Jenar tersebut memang memprihatinkan dan sering memakan korban, terutama anak sekolah yang tergelincir saat hujan. Menurut David, aksi nekat kades dipicu oleh tekanan sosial yang luar biasa. Apalagi rumah kades berada tepat di lokasi kerusakan.

"Pak Lurah rumahnya di situ, setiap ketemu warga selalu ditanya, 'Pak Lurah, jalan ini bagaimana?'. Akhirnya pusing juga. Sebenarnya pihak desa sudah rutin mengusulkan lewat Musrenbangdes," ungkap David.

Meski demikian, David juga memberikan catatan agar perangkat desa tetap berhati-hati dalam beraksi. Mengingat keterbatasan anggaran daerah. Ia menyebut banyak anggaran yang tergerus untuk keperluan darurat seperti penanganan Covid-19 hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Tahun kemarin DAK cuma ada 4 titik, ya harus sabar. Seringkali anggaran kalah dengan refocusing," katanya.

Sebelumnya, aksi nekat dilakukan Sunarso, Kepala Desa Ngepringan Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Melihat kondisi jalan desa yang rusak berat, Sunarso yang masih mengenakan pakaian dinas keki lengkap, berhenti dan mandi air bercampur lumpur kubangan yang dilewati.

Aksi tersebut terekam kamera telepon genggam warga yang melintas dan viral di sejumlah akun media sosial. Dalam video  berdurasi 27 detik itu, ia nampak membasuh kedua lengannya dan membasahi seluruh tubuhnya sebelum berdiri.

Meskipun ada sejumlah pemotor yang melintas, Sunarso tidak mempedulikannya. Saat dikonfirmasi, Sunarso membenarkan bahwa orang dalam video tersebut adalah dirinya. Dia melakukan aksi tersebut pada hari Selasa 20 Januari 2026 pagi saat hendak berangkat kerja di jalan Mlale-Ngepringan.

"Itu kemarin pagi, saya mau berangkat kerja," katanya.

Sunarso mengaku tidak merencanakan aksi tersebut. Kejadian bermula saat dirinya terperosok ke jalan yang berlubang.

"Sebenarnya saya tidak sengaja protes, tapi ini tadi mau berangkat kerja malah kepleset di situ. Malah adus (mandi) sekalian gebyur sisan, tidak ada rencana mas sepintas sekalian," tukasnya.

Lanjut dia, jalan Mlale-Ngepringan tersebut sudah rusak sejak lama. Namun hingga saat ini belum mendapatkan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Sragen.

"Sudah bertahun-tahun (rusak) malah ada tulisan jalan ini dalam proses lelang. Artinya kan siap dibangun tahun 2025, tapi sampai 2026 tidak ada pembangunan," ungkapnya.

Dikatakannya, jalan yang rusak sepanjang 6 kilometer merupakan aset DPU Kabupaten Sragen. Terakir perbaikan jalan tersebut  sekitar 20 tahun lalu.

"Kerusakan itu sejak 2019, sudah banyak yang kecelakaan. Anak sekolah jatuh, ekonomi lumpuh nggak ada titik terang. Kalau pembangunan terakhir jalan DPU itu 24 tahun lalu diaspal, sekarang sudah habis," katanya. 

Rekomendasi