Viral di Medsos, Apa Itu Tepuk Sakinah? Kemenag Ungkap 5 Pilar Keluarga Bahagia
Kementerian Agama memperkenalkan 'Tepuk Sakinah' sebagai metode unik dalam bimbingan perkawinan. Inovasi ini viral di medsos, bantu calon pengantin ingat 5 pilar keluarga sakinah.
Pernikahan adalah sebuah perjalanan panjang yang menyatukan dua individu dengan latar belakang berbeda. Namun, realitasnya tidak selalu seindah janji, banyak pasangan menghadapi gelombang kehidupan yang berujung pada perpisahan. Fenomena perceraian ini tidak hanya meninggalkan luka bagi pasangan, tetapi juga berdampak besar pada anak-anak.
Anak-anak korban perceraian seringkali mengalami beban batin yang berat, seperti rasa terabaikan dan rendah diri. Kondisi psikologis ini berpotensi membentuk generasi yang kurang tangguh di masa depan, bahkan bisa mengulang pola perceraian dalam rumah tangga mereka sendiri. Oleh karena itu, pembinaan perkawinan menjadi krusial.
Menyadari urgensi ini, Kementerian Agama (Kemenag) secara aktif menyelenggarakan bimbingan perkawinan (bimwin) untuk calon pengantin. Salah satu inovasi menarik yang kini viral adalah "Tepuk Sakinah", sebuah metode riang yang bertujuan mempermudah pemahaman pilar-pilar keluarga bahagia.
Pentingnya Bimbingan Perkawinan untuk Generasi Tangguh
Perceraian membawa dampak psikologis yang mendalam, tidak hanya bagi pasangan yang berpisah tetapi juga bagi anak-anak. Anak-anak yang menjadi korban perceraian orang tua seringkali terjebak dalam perasaan terabaikan dan rendah diri. Kondisi ini dapat memicu masalah kejiwaan seperti overthinking yang berkepanjangan.
Dampak jangka panjang dari kondisi ini sangat merugikan bangsa. Generasi muda yang tumbuh dengan luka batin berpotensi menjadi pribadi yang kurang tangguh. Mereka mungkin kesulitan membangun rumah tangga yang stabil di masa depan, bahkan cenderung mengulang siklus perceraian yang pernah dialami orang tuanya.
Teori psikologi menunjukkan bahwa anak-anak yang menjadi korban perceraian di kemudian hari dapat menjadi pelaku. Oleh karena itu, program pembinaan perkawinan sangat penting. Program ini bertujuan membekali calon pengantin dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk membangun keluarga yang kuat dan harmonis.
Mengenal Lebih Dekat 'Tepuk Sakinah' dan Pilar Keluarga Sakinah
Kementerian Agama terus berinovasi dalam menyelenggarakan bimbingan perkawinan agar lebih menarik dan efektif. Salah satu inovasi terbaru adalah "Tepuk Sakinah", sebuah metode interaktif yang kini viral di media sosial. Metode ini dirancang untuk membantu calon pengantin mengingat lima pilar utama dalam membangun keluarga sakinah dengan cara yang menyenangkan.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Abu Rokhmad, menjelaskan bahwa "Tepuk Sakinah" dibuat agar calon pengantin mudah mengingat lima pilar tersebut. "Melalui metode riang itu para calon pengantin lebih mudah mengingat dan tentu dipraktikkan dalam hidup berkeluarga," ujarnya. Lagu Tepuk Sakinah dibawakan dengan gerakan tangan, tubuh, dan kaki, membuatnya mudah diingat.
Lirik "Tepuk Sakinah" mencakup: "Berpasangan, berpasangan, berpasangan. Janji kokoh, janji kokoh, janji kokoh. Saling cinta, saling hormat, saling jaga, saling ridlo. Musyawarah untuk sakinah." Lirik ini merupakan formulasi dari lima pilar keluarga sakinah Kemenag: zawaj (berpasangan), mitsaqan ghalidzan (janji kokoh), mu'asyarah bil ma'ruf (saling cinta, hormat, menjaga, berbuat baik), musyawarah, dan taradhin (saling rida).
Menjawab Tantangan Budaya Patriarki dan Peran Musyawarah
Pilar zawaj dalam "Tepuk Sakinah" menekankan prinsip keadilan, kesetaraan, dan kesalingan dalam pernikahan. Prinsip ini mengingatkan bahwa tidak boleh ada diskriminasi dalam keluarga, baik dari suami kepada istri maupun sebaliknya. Ini penting untuk mengatasi masalah yang timbul dari budaya patriarki yang menempatkan suami sebagai "raja".
Dalam praktiknya, budaya patriarki seringkali menimbulkan masalah ketika harapan tidak sejalan. Suami mungkin berharap perlakuan istimewa, sementara istri merasa diperlakukan tidak adil. "Tepuk Sakinah" mengajarkan bahwa tugas rumah tangga dapat dikerjakan bersama berdasarkan kesepakatan, melalui pilar musyawarah.
Ketika masalah muncul, pasangan diingatkan pada mitsaqan ghalidzan (janji kokoh) untuk menyelesaikannya melalui musyawarah dengan kepala dingin. Prinsip taradhin (saling rida) juga menjadi kunci. Keterampilan ini, seperti belajar naik sepeda, memerlukan latihan kontinu dan kesediaan untuk "mencoba dan salah" demi saling memahami dan menerima.
Belajar Sepanjang Hayat: Program Lanjutan Kemenag
Belajar berumah tangga adalah proses tanpa akhir, sebuah ruang pembelajaran sepanjang hayat. Keterampilan jiwa untuk saling menerima dan memahami harus terus dilatih. Konsep ini mengajarkan bahwa untuk mengharapkan pasangan yang "sempurna", seseorang harus terlebih dahulu berupaya menjadi pribadi yang lebih baik.
Kementerian Agama tidak berhenti pada bimbingan pra-nikah. Melalui fasilitator yang disiapkan, Kemenag juga menyediakan pembinaan lanjutan bagi pasangan setelah menikah. Program-program ini meliputi Sekolah Relasi Suami-Istri (Serasi) dan Konsultasi, Mediasi, Pendampingan, Advokasi (Kompak).
Selain itu, ada juga Layanan Bersama Ketahanan Keluarga Indonesia (Lestari). Semua program ini memiliki tujuan utama untuk membentuk keluarga yang kuat dan berkualitas. Dengan demikian, diharapkan dapat melahirkan generasi penerus yang juga kuat dan berkualitas, sejalan dengan visi Generasi Indonesia Emas 2045.
Sumber: AntaraNews