Universitas Lampung (Unila) membentuk tim investigasi untuk mendalami kematian Pratama Wijaya Kusuma, mahasiswa Jurusan Bisnis Digital, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) angkatan 2024.
Pratama diduga meninggal dunia setelah mendapat tindakan kekerasan atau peloncoan dalam kegiatan pendidikan dasar (diksar) Mahasiswa Ekonomi Pencinta Lingkungan (Mahepel) yang digelar pada 10–14 November 2024 di kaki Gunung Betung, Kabupaten Pesawaran.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unila, Prof Sunyono, mengatakan telah mengirimkan undangan kepada PPKTP (Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi) serta Unit Konseling dan Bimbingan Karir untuk segera membentuk tim investigasi internal.
“Undangan sudah saya kirim, nanti pada hari Senin diminta untuk membentuk tim investigasi terkait dengan kekerasan yang dilakukan salah satu Organisasi Mahasiswa (Ormawa) di lingkungan FEB,” ujar Sunyono kepada wartawan, Kamis (29/5).
Setelah tim dibentuk, pihak kampus akan langsung mulai proses investigasi pada Selasa mendatang.
“Tentunya kita punya target yang akan dimulai pada Selasa nanti. Yang jelas saya sudah tahu alamat yang dikatakan sebagai korban baik yang masih hidup maupun yang meninggal,” tambahnya.
Advertisement
Sunyono menegaskan akan mendatangi keluarga korban secara langsung guna menggali informasi secara hati-hati dan mendalam.
“Insyaallah nanti jika waktu pas saya akan datang ke rumahnya karena informasinya keluarga dan korban takut didatangi orang Unila, jadi kita pelan-pelan, tidak boleh tiba-tiba supaya mendapatkan informasi yang akurat dan infotabel, itu yang penting,” katanya.
Unila berkomitmen untuk menyelesaikan kasus ini secara menyeluruh. Jika terbukti ada kekerasan, pihak kampus akan menempuh mekanisme sidang kode etik.
“Kita punya sidang kode etik, jika terbukti, di mana tingkat kesalahannya akan diberi hukuman dan sanksi. Percayakan saja kepada kami,” tandas Sunyono.