Sebanyak 356 Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat, baru-baru ini mendapatkan layanan pengecekan gigi gratis. Inisiatif ini bertujuan utama untuk mencegah karies atau kerusakan pada lapisan struktur gigi yang sering menyerang kelompok rentan ini. Kegiatan ini menunjukkan kepedulian terhadap kesehatan mulut anak-anak istimewa di wilayah tersebut.
Pemeriksaan serentak ini dilakukan oleh puluhan tenaga medis yang tergabung dalam TGM Peduli, sebuah inisiatif dari DPD Persatuan Terapis Gigi dan Mulut Indonesia (TGMI) Sumatera Barat. Ketua DPD TGMI Sumbar, Gusti Haryati, menyatakan bahwa kegiatan ini lahir dari keprihatinan atas tingginya angka karies pada anak-anak, khususnya ABK. Mereka berkolaborasi untuk memberikan dampak nyata bagi kesehatan gigi anak.
Program bakti sosial ini tidak hanya berfokus pada pemeriksaan dan perawatan gigi, tetapi juga mencakup edukasi penting bagi orang tua dan guru pendamping. Kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk Dinas Kesehatan dan relawan muda, memastikan kelancaran serta keberlanjutan program ini. Upaya komprehensif ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup Anak Berkebutuhan Khusus.
Advertisement
Advertisement
Tingginya Prevalensi Karies pada Anak Berkebutuhan Khusus
Data global menunjukkan bahwa lebih dari 3,5 miliar orang di dunia terdampak penyakit gigi dan mulut, dengan karies sebagai beban terbesar. Kondisi ini menjadi lebih mengkhawatirkan pada anak berkebutuhan khusus (ABK), yang prevalensinya lebih tinggi dibandingkan anak pada umumnya. Di Sumatera Barat sendiri, terdapat 3.047 anak berkebutuhan khusus yang memerlukan perhatian khusus terhadap kesehatan gigi mereka.
Gusti Haryati, Ketua DPD TGMI Sumatera Barat, menegaskan, "Data global mencatat, lebih dari 3,5 miliar orang di dunia terdampak penyakit gigi dan mulut, dengan karies sebagai beban terbesar. Kondisi ini lebih mengkhawatirkan dialami anak berkebutuhan khusus, yang prevalensinya lebih tinggi dibandingkan anak pada umumnya." Hal ini menunjukkan urgensi penanganan masalah kesehatan gigi pada kelompok ini secara serius.
Direktur RSUD Dr Achmad Mochtar (RSAM) Bukittinggi, Busril, menambahkan bahwa anak berkebutuhan khusus memiliki risiko lebih tinggi menderita penyakit gigi dan mulut. Data kesehatan tahun 2023 menunjukkan bahwa sebanyak 57 persen anak-anak usia di atas tiga tahun mengalami kerusakan gigi dan mulut. Kondisi ini menuntut kepedulian bersama dari orang tua, guru, dan tenaga medis untuk intervensi dini.
Advertisement
Advertisement
Kolaborasi dan Edukasi untuk Kesehatan Gigi Optimal
Kegiatan bakti sosial ini mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, mulai dari orang tua, guru sekolah luar biasa (SLB), unsur Dinas Kesehatan, hingga relawan muda. Kolaborasi ini menunjukkan komitmen bersama dalam meningkatkan Kesehatan Gigi Anak Berkebutuhan Khusus di Bukittinggi. Dukungan menyeluruh ini menjadi kunci keberhasilan program yang berkelanjutan.
Selain pemeriksaan medis, panitia juga menghadirkan penyuluhan interaktif yang sangat bermanfaat bagi para orang tua. Mereka mendapatkan tips praktis tentang cara menjaga kesehatan gigi anak, mulai dari pola makan sehat, kebiasaan menyikat gigi yang benar, hingga pencegahan dini terhadap karies. Edukasi ini penting untuk keberlanjutan perawatan di rumah dan membangun kesadaran.
Gusti Haryati berharap kegiatan ini tidak berhenti di sini, tetapi terus berlanjut agar anak-anak berkebutuhan khusus tetap mendapatkan pendampingan berkesinambungan. "Anak dengan kebutuhan khusus berhak mendapat perhatian yang sama, termasuk dalam kesehatan gigi dan mulut. Melalui bakti sosial ini kami ingin memberikan dampak langsung bagi anak-anak dan keluarganya," ujarnya.
Advertisement
Advertisement
Pendekatan Khusus dan Dampak Positif Kegiatan
Busril, Direktur RSUD Dr Achmad Mochtar (RSAM) Bukittinggi, menekankan perlunya pendekatan khusus dalam menangani Kesehatan Gigi Anak Berkebutuhan Khusus. "Dibutuhkan treatment dan cara pendekatan khusus kepada anak-anak ini. Harus diakui selama ini minim edukasi atau bakti sosial di kalangan anak ini, momen ini menjadi penting untuk penyemangat aksi kebaikan pada anak istimewa," katanya.
Pendamping dari YPPA SLB Autis Bukittinggi, Viona, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kegiatan ini. Ia menilai bahwa kegiatan ini sangat membantu dalam proses tumbuh kembang anak-anak didiknya. "Sangat membantu sekali dan bagus, karena kegiatan ini dibutuhkan untuk mendukung kemandirian anak," ujar Viona, menyoroti aspek kemandirian yang didukung oleh kesehatan yang baik.
Viona juga menambahkan bahwa aksi sosial ini tidak hanya meringankan beban orang tua, tetapi juga meningkatkan pengetahuan keluarga dalam menjaga kesehatan anak. Dengan dukungan semua pihak, kegiatan semacam ini diharapkan dapat menjadi agenda rutin untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat dan menciptakan Bukittinggi Gemilang sesuai arahan wali kota.
Advertisement
Sumber: AntaraNews