Kantor Taman Nasional Berbak Sembilang (TNBS) di Jambi berhasil melaksanakan operasi gabungan besar-besaran untuk memberantas pembersihan sawit ilegal di dalam kawasan konservasi. Aksi ini berhasil membersihkan lahan seluas hampir 99 hektar yang sebelumnya ditanami kelapa sawit secara tidak sah. Upaya ini merupakan bagian dari komitmen TNBS dalam menjaga kelestarian ekosistem gambut yang sangat penting.
Kepala TNBS, Yunaidi, menjelaskan bahwa operasi ini bertujuan utama untuk melindungi ekosistem gambut yang rentan dari perambahan. “Pengendalian perambahan dilakukan untuk melindungi ekosistem gambut. Operasi ini bertujuan untuk menekan perambahan dan menjaga keberlanjutan fungsi ekologis taman nasional,” ujarnya di Jambi pada Sabtu.
Operasi pembersihan sawit ilegal ini berlangsung selama enam hari, dari tanggal 4 hingga 10 Desember 2025, dan menyasar area perambahan di ekosistem rawa gambut yang dilindungi. Lokasi operasi berada di Resort Sungai Rambut, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I, yang secara administratif terletak di Dusun Sungai Palas, Desa Rantau Rasau, Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Advertisement
Advertisement
Ekosistem gambut merupakan salah satu aset lingkungan yang paling berharga di Sumatra, dan Taman Nasional Berbak Sembilang menjadi salah satu benteng terakhirnya. Perambahan hutan untuk pembersihan sawit ilegal telah menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup ekosistem ini. Oleh karena itu, operasi pembersihan sawit ilegal ini menjadi langkah krusial untuk menjaga keseimbangan alam.
Yunaidi menegaskan bahwa tindakan tegas ini adalah bagian dari strategi jangka panjang TNBS untuk melindungi keanekaragaman hayati dan fungsi hidrologi gambut. Kerusakan ekosistem gambut tidak hanya mengancam flora dan fauna, tetapi juga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang berdampak luas. Pembersihan sawit ilegal ini diharapkan dapat mengembalikan fungsi lahan seperti semula.
Taman Nasional Berbak Sembilang dikenal sebagai habitat penting bagi berbagai spesies satwa liar, termasuk hewan-hewan yang dilindungi. Perambahan dan pembukaan lahan untuk perkebunan, termasuk pembersihan sawit ilegal, dapat merusak struktur ekosistem dan meningkatkan risiko kebakaran hutan. Operasi ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam menjaga kelestarian alam.
Advertisement
Advertisement
Operasi pembersihan sawit ilegal ini melibatkan 51 personel gabungan dari enam institusi berbeda, menunjukkan sinergi yang kuat antarlembaga. Tim terdiri dari Kantor TNBS, Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Sumatera, Kepolisian, TNI, aparat kecamatan dan desa, serta Mitra Polisi Kehutanan Masyarakat. Kolaborasi ini memastikan efektivitas dan keamanan pelaksanaan operasi.
Dengan menggunakan alat-alat seperti gergaji mesin dan parang, tim berhasil membersihkan perkebunan kelapa sawit ilegal, memberantas sekitar 98,88 hektar lahan. Tindakan ini merupakan respons langsung terhadap ancaman perambahan yang terus-menerus terjadi di kawasan konservasi. Keberhasilan operasi ini tidak lepas dari koordinasi yang baik antarpihak terlibat.
Yunaidi juga menegaskan bahwa area yang dibersihkan dalam operasi pembersihan sawit ilegal ini berbeda dengan lokasi yang saat ini sedang dalam proses hukum. Kantor TNBS mengonfirmasi bahwa lokasi pemberantasan ini terpisah dari area perambahan yang terlibat dalam kasus kejahatan kehutanan yang sedang berjalan dengan dua tersangka. Klarifikasi ini penting untuk memastikan informasi publik yang akurat dan mencegah persepsi yang salah terkait operasi dan proses hukum.
Advertisement
Advertisement
Operasi pengamanan ini merupakan bagian dari upaya rutin Kantor TNBS untuk menekan perambahan, melestarikan hidrologi lahan gambut, melindungi keanekaragaman hayati, dan memperkuat pemantauan patroli berbasis masyarakat yang terintegrasi. Ini menunjukkan pendekatan komprehensif dalam pengelolaan taman nasional. TNBS terus berupaya menjaga kelestarian alam untuk generasi mendatang.
Perambahan dan pembukaan lahan untuk perkebunan, termasuk pembersihan sawit ilegal, dapat secara signifikan merusak struktur ekosistem dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran semacam itu tidak hanya menghancurkan habitat tetapi juga menyebabkan polusi udara yang parah. Oleh karena itu, pencegahan adalah kunci utama dalam menjaga ekosistem gambut.
Kantor TNBS menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat dan menekankan pentingnya kerja sama lintas lembaga untuk memastikan area konservasi tetap terlindungi. Kerja sama yang berkelanjutan sangat vital untuk menghadapi tantangan konservasi yang kompleks di masa depan. Dengan demikian, kelestarian Taman Nasional Berbak Sembilang dapat terus terjaga.
Advertisement
Sumber: AntaraNews