Tika Bisono: Kesempurnaan justru membuat artis lawak cacat
Merdeka.com - Popularitas seorang artis dalam dunia hiburan tanah air tidak hanya memberikan rasa manis bagi diri sendiri. Namun, tak sedikit pula di antara mereka justru merasakan pahit. Seperti pelawak tanah air yang sempat eksis di masanya; Doyok, Gogon dan Polo.
Gogon dan Polo eksis berkat kelompok lawak Indonesia, Srimulat yang didirikan pada 1950 silam. Doyok justru eksis bersama teman duetnya, Kadir pada 1980 hingga 1990-an. Namun, kreatifitasnya mengocok perut, mereka harus menerima nasib untuk tidur di balik jeruji besi akibat terjerat kasus narkoba.
Doyok yang memiliki nama sebenarnya Sudarmadji harus menikmati hidup di penjara selama satu tahun. Sejak saat itu dia mengaku jera dan meninggalkan barang haram tersebut. Artis lain adalah Gogon, yang harus mendekam dalam penjara selama empat tahun dan denda Rp 150 juta.
Pada 2000 silam, Polo justru mengikuti jejak kawan-kawannya. Walaupun ditahan hanya tujuh bulan, ternyata hal itu tidak membuatnya jera untuk kembali mencicipi sabu-sabu. Terpaksa ia kembali ditahan oleh kepolisian.
Pertanyaannya, kenapa banyak artis di tanah air, termasuk artis lawak tersandung narkoba?
Menurut Psikolog Indonesia Tika Bisono, gaya hiduplah yang membuat mereka harus mengenal barang terlarang tersebut. Kesempurnaan yang mereka miliki justru membuat mereka cacat.
"Karena memang tantangan publik figur atau pesohor dipuja-puji, terlihat sempurna di mata fans-nya. Nah karena kesempurnaannya itu menjadi cacat," katanya melalui telpon, Jumat (8/8) malam.
Ambisi pelawak yang ingin tampil sempurna saat di panggung ternyata memiliki mental yang tidak siap. Seolah-olah panggung adalah kehidupan realitas para pelawak. Gaya hidup, peran, dan lingkungan yang menentukan seorang pelawak dapat terlihat dewasa atau tidak.
Menurut psikolog yang sekaligus penyanyi ini, umur bukan ukuran untuk melihat dewasa atau tidaknya seseorang. Di antara pelawak yang terbilang sudah dewasa dalam hal biologis, ternyata masih memiliki mental seperti anak-anak.
"Revolusi mental memang penting untuk bisa memaknai hidup secara proporsional," tambahnya.
Publik figur yang seharusnya menginspirasi banyak orang harus terus berkontribusi dalam lingkungan. Bukan justru dimanfaatkan secara eksploitasi. Sehingga dapat populer dengan predikat 'baik' dan menopang sejumlah prestasi.
Mengantisipasi hal tersebut, menurut Tika Bisono, mereka harus tetap berkawan dengan sesama agar lebih dapat 'membumi'. Hal ini dinilai lebih realistis untuk menyadari peran sebagai pelawak.
Laporan: Nelly Hassani Rachmi
(mdk/mtf)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya