Pemerintah Indonesia, melalui Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan, sedang mempercepat program swasembada pangan nasional. Inisiatif ini bertujuan ganda untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan para petani di seluruh negeri.
Pernyataan ini disampaikan Zulkifli Hasan pada acara ESG Now Awards 2025 di Jakarta, Kamis lalu. Kebijakan strategis ini telah menunjukkan hasil positif yang signifikan dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
Salah satu indikator keberhasilan adalah kenaikan indeks nilai tukar petani (NTP) dari 101–106 menjadi 124. Selain itu, Indonesia juga berhasil mencatatkan surplus beras hingga 4 juta ton berkat implementasi program ini.
Advertisement
Advertisement
Presiden Prabowo Subianto telah menandatangani Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 19 Tahun 2025. Keppres ini membentuk tim koordinasi untuk mengawasi percepatan pembangunan di bidang swasembada pangan, energi, dan air.
Menteri Zulkifli Hasan mengungkapkan bahwa dekrit ini menjadi landasan kuat bagi implementasi program. Tim tersebut bertugas memantau, mengevaluasi, dan menyinkronkan berbagai upaya yang dilakukan oleh kementerian dan pemerintah daerah. Ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Keberadaan tim koordinasi diharapkan dapat mengatasi berbagai hambatan birokrasi yang mungkin muncul. Dengan demikian, program swasembada pangan dapat berjalan lebih efektif dan efisien. Hal ini krusial untuk mencapai target surplus pangan yang lebih besar di masa depan.
Advertisement
Advertisement
Peningkatan produktivitas pertanian secara langsung berkorelasi dengan peningkatan pendapatan di daerah pedesaan. Sebagai contoh, harga gabah kering panen (GKP) telah naik signifikan. Dari semula sekitar Rp5.000 menjadi Rp6.500 per kilogram.
Kenaikan harga ini memberikan keuntungan langsung yang nyata bagi para petani di seluruh Indonesia. Mereka kini dapat menikmati hasil kerja kerasnya dengan lebih layak dan adil. Ini adalah bukti nyata dari keberhasilan program swasembada pangan dalam menyejahterakan masyarakat tani.
Untuk mengurangi ketergantungan pada tengkulak, pemerintah juga meluncurkan program Koperasi Desa Merah-Putih. Program ini memungkinkan petani untuk menjual hasil panen mereka langsung ke pasar tanpa perantara. Inisiatif ini memberdayakan petani dan memutus rantai distribusi yang panjang.
Advertisement
Advertisement
Tujuan yang lebih luas dari program ini adalah mengalihkan kendali pangan dari korporasi besar. Kendali tersebut akan diberikan kepada komunitas lokal, sejalan dengan prinsip ekonomi Pancasila. Ini mencerminkan semangat keadilan sosial dalam pengelolaan sumber daya pangan nasional.
Program swasembada pangan juga akan mendukung inisiatif pemerintah lainnya, yaitu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program MBG menargetkan 82,9 juta penerima manfaat, termasuk anak-anak sekolah di seluruh Indonesia. Kebutuhan pangan untuk program ini sangat besar dan berkelanjutan.
Zulkifli Hasan mencontohkan kebutuhan telur harian yang mencapai 82 juta butir jika setiap penerima MBG mendapat satu telur. Selain itu, dibutuhkan juga sayuran, beras, ikan, dan buah-buahan dalam jumlah besar. Program ini tidak hanya mengamankan pasokan pangan, tetapi juga menciptakan permintaan berkelanjutan bagi produk pertanian lokal.
Advertisement
Sumber: AntaraNews