Tambang emas ilegal di Kaltara ditutup, 33 orang jadi tersangka

Kamis, 22 Desember 2016 02:30 Reporter : Nur Aditya
Ilustrasi emas. ©2014 Merdeka.com/www.topgoldinvestment.com

Merdeka.com - Petugas menutup aktivitas penambangan emas ilegal di Sekatak, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Polisi sebelumnya sudah memberikan 13 kali peringatan agar penambang menghentikan aktivitas penambangan. Sebanyak 33 orang penambang diamankan dari lokasi dan ditahan di Mapolres Bulungan.

Keterangan diperoleh merdeka.com, 33 penambang itu diamankan dalam waktu 2 hari dalam pekan ini. Aktivitas penambangan emas ilegal itu tidak hanya dilakukan warga setempat, melainkan juga warga luar Kalimantan Utara, seperti dari Sulawesi.

"Penambang emas di Sekatak itu kan jumlahnya fluktuatif ya. Sudah sejak 2012 lalu, sudah diberikan 13 kali operasi peringatan. Selama saya jabat Kapolres, ada 4 kali. Yang terakhir, kita lakukan penegakkan hukum, kita lakukan penangkapan," kata Kapolres Bulungan AKBP Ahmad Sulaiman saat dikonfirmasi merdeka.com, Rabu (21/12) sore.

Menurutnya, selain warga lokal, penambang juga berasal dari Sulawesi seperti dari Gorontalo dan Sulawesi Selatan. Mereka ini sudah terbiasa menambang di berbagai daerah seperti di Maluku dan Palu.

Ahmad melanjutkan, polisi masih memburu penyalur atau koordinator yang mendatangkan para penambang emas ilegal tersebut.

"Ya, kita kan temukan perbuatan riil di penambangan ilegal dan pengangkutan. Tapi kan kita bicara pembuktian, siapa yang mendatangkan. Belum bisa seketika itu kita temukan siapa yang mendatangkan," jelas Ahmad.

Bersama dengan 33 orang penambang emas yang ditahan, kepolisian juga menyita barang bukti berupa 38 karung berisi galian tambang dan 3 genset mobil transportasi pengangkutan galian.

"Status 33 orang itu sebagai tersangka, dan kita tahan di Polres Bulungan. Kita terapkan pasal 158 dan 161 Undang-Undang No 4 Tahun 2009 tentang Minerba," sebutnya.

Alasan yang menyebabkan kepolisian akhirnya bertindak tegas di antaranya aktivitas penambangan emas liar itu, membahayakan banyak orang.

"Yang sadar mengeluhkan. Tapi banyak yang tidak sadar juga. Tokoh masyarat, tokoh adat, sudah tahu hasilnya. Tapi masih ada masyarakat yang selalu tidak mau diatur. Mereka yang tidak mau diatur itu yang akhirnya kita lakukan penangkapan," tegasnya.

"Ya, mereka menambang pakai air raksa, merkuri, sangat bahaya. Yang saya garisbawahi, ini prinsipnya tidak berniat menghukum orang, karena ini berkali-kali kita ingatkan karena ini sangat berbahaya. Sudah ada ada 2 orang pekerja tertimbun. Penambang ini berdampak sosial ke masyarakat, rawan kriminal, narkoba. Banyak sekali problemnya, maka kita bersihkan total. Tapi itu semua disadari tokoh masyarakat," pungkas Ahmad. [sho]

Topik berita Terkait:
  1. Tambang
  2. Penambangan Liar
  3. Bulungan
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.