Takut jadi korban petrus, Saimo setrika tato macan di lengan

Sabtu, 31 Agustus 2013 14:02 Reporter : Hery H Winarno
Takut jadi korban petrus, Saimo setrika tato macan di lengan Ilustrasi tatoo. ©shutterstock.com/Tatiana Morozova

Merdeka.com - Sekitar akhir tahun 80 an, isu penembak misterius masih santer di masyarakat. Mereka yang memiliki tato di tubuh banyak dihapus karena takut menjadi korban Petrus.

Di era Orde Baru itu, pria bertato dianggap sebagai penjahat dan pencoleng. Mereka pun disergap ketakutan karena muncul desas-desus, petrus mengincar lelaki bertato.

Salah satu pria yang tinggal di Bogor Timur, Saimo bahkan terpaksa meminta sang istri untuk menyetrika lengannya demi menghapus tato macan yang menempel di kulitnya itu.

"Dulu kan takut juga, setiap hari ada kabar penemuan mayat dalam karung. Mayatnya bertato semua lagi. Makanya saya hapus," ujar Saimo kepada merdeka.com, Jumat (30/8).

Pria keriting dengan badan tinggi besar ini mengaku menato tubuh hanya untuk iseng belaka. Saat dirinya masih muda, bila ingin ditakuti orang dan terkesan berwibawa di mata teman-temannya tato bisa menjadi obatnya.

"Tapi setelah banyak yang bilang kalau orang bertato diculik terus ditembaki jadi ngeri juga. Dulu saya jadi gak pernah pakai baju lengan pendek, kemana-mana selalu pakai baju lengan panjang atau jaket supaya tatonya gak keliatan," terangnya.

Namun karena terus diburu rasa takut menjadi korban petrus, Saimo memutuskan untuk menghapus tato macan itu dari tubuhnya. Sang istri dengan berat hati dan sedikit bentakan diminta untuk menyetrika tato di lengan kanannya.

"Dulu saya minta istri yang nyetrika. tadinya dia gak mau terus saya paksa, saya bentak-bentak, dari pada suaminya mati. Sakit memang tapi ya gimana lagi, dulu nyawa bisa melayang" terang bapak beranak dua ini.

Meski bertato, Saimo mengaku bukan penjahat. Dia mengaku tidak pernah terlibat aksi kejahatan. "Ya bener-bener buat iseng saja. Namanya dulu masih muda ikut-ikutan aja," terangnya.

Kini zaman telah berganti, tato tidak lagi identik dengan penjahat. Meski demikian Saimo sudah tidak lagi berniat menggambari lagi tubuhnya.

"Cukup, toh jadi contoh yang tidak baik juga buat anak-anak. Sekarang sudah tua, ngapain nato-nato," ujar Satpam berusia 50 tahun ini.

Peristiwa penculikan dan penembakan terhadap mereka yang diduga sebagai gali, preman, atau residivis itu ternyata memang bukan isapan jempol belaka. Belakangan, Presiden Soeharto mengakui berinisiatif atas munculnya petrus.

Soeharto menyebut bahwa petrus, "Ini sebagai shock therapy," kata Soeharto dalam buku biografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya.

Tidak asal membunuh, petrus kata Soeharto terpaksa dilakukan untuk memberikan rasa aman dan tentram kepada masyarakat yang saat diliputi ketakutan akan aksi bengis para penjahat. Mereka tidak hanya merampok, tetapi memperkosa dan hingga menghilangkan nyawa orang.

[hhw]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Tato
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini