Taj Yasin Temui Guru Didenda Rp25 Juta karena Tampar Siswa: Kalau Masalah Kecil Dibesarkan, Pengajar Tertekan

Taj Yasin menegaskan pentingnya adab dalam dunia pendidikan, serta mendorong penyelesaian persoalan secara kekeluargaan dan edukatif.

Danny Adriadhi Utama
Oleh Danny Adriadhi Utama - Reporter
Taj Yasin Temui Guru Didenda Rp25 Juta karena Tampar Siswa: Kalau Masalah Kecil Dibesarkan, Pengajar Tertekan
Taj Yasin Temui Guru yang Didenda Rp25 Juta karena Tampar Siswa (Merdeka.com/Danny Adriadhi Utama)

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin memberikan perlindungan kepada Ahmad Zuhdi (63), guru Madrasah Diniyah (Madin) Roudhotul Mutaalimin yang didenda Rp25 juta karena menampar siswa.

Saat menemui Zuhdi, Taj Yasin menyampaikan keprihatinannya atas kejadian tersebut. Dia menegaskan pentingnya adab dalam dunia pendidikan, serta mendorong penyelesaian persoalan secara kekeluargaan dan edukatif.

“Kita koordinasikan langsung dengan Kementerian Agama. Jadi kita lebih ke arah edukasi dan perlindungan,” kata dia, Sabtu (19/7).

Taj Yasin menyatakan, guru memang bukan sosok yang sempurna, namun menegur untuk membimbing adalah bagian dari tanggung jawab mereka.

“Kalau permasalahan kecil dibesarkan, akhirnya anak yang jadi korban. Kasus ini bahkan sempat viral. Anak jadi takut sekolah, guru tertekan, dan nama lembaga pendidikan ikut tercoreng,” ujarnya.

Taj Yasin Singgung Peran Orang Tua Siswa

Taj Yasin juga menyoroti pentingnya peran orang tua dalam pendidikan karakter anak. Dia menekankan, parenting adalah kerja sama antara orang tua dan sekolah, bukan saling menyalahkan.

Pemprov Jateng akan memperkuat program “Kecamatan Berdaya” dan menggalakkan edukasi hukum hingga tingkat lokal. Termasuk kolaborasi dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan paralegal, agar masyarakat tak mudah ditekan dalam kasus hukum serupa.

Taj Yasin mengajak semua pihak untuk menurunkan ego, saling memaafkan, dan kembali memusatkan perhatian pada misi utama pendidikan: membentuk anak-anak yang beradab dan bermanfaat.

Zuhdi Didatangi 5 Orang Ngaku dari LSM

Dalam kesempatan itu, Zuhdi menceritakan, kejadian itu terjadi pada April 2025. Saat itu, sandal yang dilempar murid dari kelas lain mengenai peci Zuhdi yang tengah mengajar. Karena emosi, dia menampar murid yang ditunjuk teman-temannya sebagai pelaku.

"Saya akui itu tindakannya, tapi tamparan itu tidak dilakukan untuk melukai, melainkan sebagai bentuk teguran mendidik. Permintaan maaf pun sudah disampaikan kepada orang tua murid," kata Zuhdi.

Namun, tiga bulan setelah kejadian, Zuhdi didatangi lima pria yang mengaku dari sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Lima orang meminta uang damai hingga Rp25 juta dengan dalih telah ada laporan ke pihak kepolisian.

“Alhamdulillah ini sudah bertemu Gus Yasin. Beliau menyampaikan akan mendampingi dan beri perlindungan,” ungkapnya.

Rekomendasi