Tahun baru 2017, ratusan rumah warga Samarinda terendam banjir
Merdeka.com - Ratusan rumah milik warga kelurahan Gunung Lingai, Kecamatan Sungai Pinang, Samarinda, Kalimantan Timur, terendam banjir, Minggu (1/1). Ketinggian air rata-rata mencapai 30-50 cm, dan terus merangkak naik. Banjir disebabkan meluapnya anak sungai Karang Mumus, yang mengitari permukiman warga, pascahujan guyuran hujan deras, Jumat (30/12) lalu.
Keterangan diperoleh, air sungai mulai meluap sejak Sabtu (31/12) dini hari kemarin. Sedikitnya rumah warga di 3 RT seperti RT 6, RT 7 dan RT 8, mulai terendam banjir. Warga pun dibuat panik, lantaran ketinggian air terus merangkak naik.
"Tidak ada hujan dari Sabtu kemarin, ini kok air semakin naik ya," kata warga Gunung Lingai, Nooriansyah, saat berbincang bersama merdeka.com, Minggu (1/1).
Nooriansyah menerangkan, kawasan RT 6, 7 dan 8, belakangan masuk kawasan rawan banjir, pasca banjir siklus 10 tahunan, yang terjadi 2008 lalu. Saat itu, banjir merendam rumah warga selama 2 pekan lamanya.
Tidak hanya kelurahan Gunung Lingai, banjir juga merendam rumah warga di kelurahan lainnya seperti kelurahan Temindung Permai dan kelurahan Sidodadi, terlebih lagi rumah warga yang berada di bantaran sungai karang mumus (SKM).
"Kalau mau ditelusuri ya ke hulu sungai (SKM) ini, itu sudah banyak penimbunan area resapan air, belum lagi soal kupasan lahan untuk tambang batubara, sampai kepada penyempitan alur sungai yang dipadati permukiman penduduk," ujar Nooriansyah.
"Coba anda cek SKM, di titik lainnya meluap tidak? Kan tidak ada hujan, siang hari sedang tidak pasang air sungai, tapi kok (ketinggian air) terus naik? Alur sungai semakin sempit, sungai dangkal, masalahnya jadi semakin kompleks," terang Nooriansyah.
merdeka.com mencoba menelusuri titik SKM lainnya, di kawasan Jalan Dr Sutomo Gang Nibung serta di titik kawasan Jalan KH Agus Salim sekitar jembatan baru. Hingga di muara SKM yang bermuara ke sungai Mahakam. Tidak terlihat adanya luapan SKM yang merendam rumah warga.
"Aliran sungai ini seperti ada yang tersumbat, tidak mengalir lancar sampai ke Mahakam. Jadi air tertahan, menumpuk, dan jadinya terus naik. Sudah bertahun-tahun, alur sungai tidak dikeruk. Bingung juga skala prioritas bangun kota Samarinda ini ke arah mana ya?" ungkap Roni, warga Gunung Lingai lainnya.
"Seperti kita tahu, ada alat pengeruk lumpur sungai yang dibeli tahun 2014 lalu, water master Rp 14 miliar. Lebih banyak mangkraknya daripada manfaatnya, padahal harganya belasan miliar," ungkap Roni.
Cuaca hingga sore ini di Samarinda hinhba pukul 17.40 WITA, kembali ditutupi awan mendung diguyur hujan intensitas sedang. Warga Gunung Lingai pun dibikin was-was luapan air SKM di sekitar tempat tinggal mereka semakin meluap.
"Kalau semakin tinggi naik air, mau tidak mau pasti mengungsi lagi," pungkas Roni. (mdk/rnd)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya