I Ketut Trika Adi Ana, seorang akademisi dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Bali, berhasil meraih predikat penyaji terbaik dalam ajang International Digital Education Conference (IDEC) 2025 yang diselenggarakan oleh Universiti Sains Malaysia. Penghargaan bergengsi ini didapat berkat presentasinya mengenai inovasi TrikaIndoDyslexic Font yang dirancangnya khusus untuk membantu anak-anak disleksia. Inovasi ini menawarkan solusi baru dalam mengatasi tantangan membaca yang sering dihadapi oleh individu dengan disleksia.
Trika Adi Ana memaparkan bahwa disleksia seringkali disalahpahami sebagai bentuk kemalasan atau ketidakmampuan belajar pada anak, padahal mereka memiliki cara kerja otak yang berbeda. Menurutnya, anak-anak disleksia bukanlah tidak cerdas, melainkan hanya membutuhkan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi mereka. Font khusus yang dikembangkannya ini menjadi jembatan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, memberikan harapan baru bagi banyak anak di Indonesia.
Pengembangan TrikaIndoDyslexic Font merupakan hasil dari penelitian pengembangan (developmental research) menggunakan model Successive Approximation, yang melibatkan proses berulang evaluasi, desain, dan pengembangan. Font ini dirancang untuk mengatasi keterbatasan font disleksia yang sudah ada sebelumnya, yang menurut Trika, belum sepenuhnya efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca anak disleksia karena hanya berfokus pada aspek visual semata.
Advertisement
Advertisement
Inovasi TrikaIndoDyslexic Font untuk Disleksia
TrikaIndoDyslexic Font hadir sebagai terobosan signifikan dalam membantu anak-anak dengan disleksia. Berbeda dengan font disleksia lain seperti OpenDyslexic, Dyslexie, atau EasyReading yang hanya memodifikasi bentuk huruf secara visual, TrikaIndoDyslexic Font mengintegrasikan konsep mnemonik. Pendekatan ini memungkinkan anak untuk mengaitkan huruf-huruf yang mirip dengan visual dan bunyi tertentu, seperti huruf 'b' yang diasosiasikan dengan 'besar' dan 'buncit', atau 'd' dengan 'daun'.
Konsep mnemonik pada TrikaIndoDyslexic Font dirancang untuk mengatasi permasalahan memori jangka pendek dan memori kerja yang sering dialami anak disleksia. Dengan mengaitkan bentuk huruf dengan citra dan suara yang melekat, anak-anak dapat lebih mudah mengingat dan membedakan huruf. Misalnya, bentuk huruf 'b' dibuat menyerupai perut buncit dan berukuran paling besar, sementara 'd' menyerupai daun, sehingga visualisasi ini membantu proses pengenalan huruf secara lebih efektif.
Pendekatan ini dikenal sebagai multisensory approach, sebuah metode pembelajaran yang melibatkan lebih dari satu indera, yaitu visual, auditori, dan kinestetik. Metode ini terbukti efektif dalam membantu anak-anak dengan kebutuhan belajar khusus, termasuk disleksia. TrikaIndoDyslexic Font tidak hanya membedakan bentuk huruf, tetapi juga membantu anak mengingat huruf melalui asosiasi gambar dan bunyi yang sesuai dengan konteks Indonesia.
Advertisement
Advertisement
Dampak Kemanusiaan dan Aksesibilitas TrikaIndoDyslexic Font
Inovasi TrikaIndoDyslexic Font mendapat sambutan hangat dari para peserta dan panitia penyelenggara iDEC 2025. Banyak yang memuji gagasan ini karena berhasil menggabungkan teknologi, linguistik, dan psikologi pendidikan dalam satu produk yang nyata dan bermanfaat. Keunikan font ini terletak pada kemampuannya untuk tidak hanya membedakan bentuk huruf, tetapi juga membantu anak mengingat huruf melalui asosiasi gambar dan bunyi yang relevan.
Meskipun banyak peserta dari luar negeri menanyakan kemungkinan komersialisasi TrikaIndoDyslexic Font, Trika Adi Ana memilih jalur yang berbeda. Ia memutuskan untuk merilis TrikaIndoDyslexic Font secara gratis. Keputusan ini didasarkan pada tujuan utamanya untuk membantu anak-anak Indonesia yang mengalami disleksia agar dapat belajar membaca tanpa hambatan, menegaskan nilai kemanusiaan yang tinggi dari proyek ini.
Keputusan Trika untuk menggratiskan TrikaIndoDyslexic Font mendapat apresiasi luas, bahkan salah satu peserta konferensi menyebutnya sebagai perpaduan sempurna antara sains dan empati. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus berorientasi profit, melainkan juga dapat memberikan dampak sosial yang signifikan. Trika berharap semua guru, orang tua, dan anak yang membutuhkan dapat menggunakan font ini tanpa batas, dengan semangat penuh untuk belajar.
Advertisement
Advertisement
Memahami Disleksia dan Pentingnya Dukungan
Disleksia adalah gangguan belajar spesifik yang memengaruhi kemampuan membaca, menulis, dan mengeja. Kondisi ini seringkali disalahpahami masyarakat, bahkan tidak sedikit anak disleksia di Indonesia mengalami perundungan atau bullying karena dianggap malas, bodoh, atau lambat belajar. Padahal, mereka hanya membutuhkan metode belajar yang berbeda dan dukungan yang tepat untuk mengembangkan potensi mereka.
Menurut data World Dyslexia Association, sekitar 10-15 persen populasi dunia mengalami disleksia dalam berbagai tingkat keparahan. Di Indonesia, angka pastinya masih belum diketahui secara pasti karena minimnya alat deteksi dan kesadaran masyarakat. Kondisi ini menekankan urgensi inovasi seperti TrikaIndoDyslexic Font dan upaya peningkatan kesadaran publik.
Pentingnya pemahaman dan dukungan terhadap anak disleksia menjadi krusial. Dengan metode yang sesuai seperti pendekatan multisensori yang diusung TrikaIndoDyslexic Font, anak-anak disleksia dapat meningkatkan kemampuan membaca mereka secara signifikan. Inovasi ini bukan hanya alat bantu, tetapi juga simbol harapan bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan belajar yang setara.
Advertisement
Sumber: AntaraNews