Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang mengambil langkah inovatif dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat. Mereka memberdayakan kader posyandu di Kelurahan Kampung Bugis melalui pemanfaatan Aplikasi e-PoK. Inisiatif ini bertujuan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan balita di wilayah tersebut.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat (PKM) yang digagas oleh dosen Poltekkes Kemenkes. Puluhan kader posyandu dilibatkan sebagai ujung tombak pemantauan kesehatan anak. Mereka dibekali pengetahuan dan keterampilan baru untuk tugas penting ini.
Melly Damayanti, Ketua Tim Dosen dari Program Studi DIII Kebidanan, menjelaskan detail aplikasi ini. Aplikasi e-PoK dirancang dengan sistem lima meja yang memudahkan pencatatan data. Fitur-fitur canggih di dalamnya diharapkan dapat menjadi solusi efektif.
Advertisement
Advertisement
Inovasi Aplikasi e-PoK untuk Pemantauan Balita
Aplikasi e-PoK yang dikembangkan oleh tim Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang ini bukan sekadar aplikasi biasa. Dirancang dengan cermat, aplikasi ini mengadopsi sistem lima meja yang sudah dikenal dalam operasional posyandu. Hal ini memastikan alur kerja yang familier bagi para kader.
Melly Damayanti menjelaskan bahwa aplikasi ini dilengkapi berbagai fitur penting. Ada fitur informasi kesehatan untuk ibu balita yang sangat berguna. Selain itu, terdapat juga chat room untuk komunikasi antar kader atau dengan tim ahli.
Fitur unggulan lainnya adalah reminder jadwal imunisasi, vitamin A, dan obat cacing. Ini sangat membantu orang tua dan kader dalam memastikan balita mendapatkan intervensi kesehatan tepat waktu. Dengan demikian, pemantauan kesehatan balita menjadi lebih terstruktur dan efisien.
Advertisement
Advertisement
Mengatasi Tantangan Gizi dan Tumbuh Kembang di Kampung Bugis
Peningkatan kualitas pertumbuhan dan perkembangan balita menjadi isu prioritas di Tanjungpinang, khususnya di Kelurahan Kampung Bugis. Data dari Dinas Kesehatan Tanjungpinang tahun 2023 menunjukkan adanya tantangan serius. Angka balita dengan berat badan kurang (6,8 persen) dan balita pendek (6,6 persen) masih cukup tinggi.
Selain itu, kasus gizi kurang (0,8 persen) dan gizi buruk (0,3 persen) juga teridentifikasi di wilayah tersebut. Kondisi ini memerlukan perhatian khusus dan intervensi yang cepat. Program PKM ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi efektif.
Cakupan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita di Puskesmas Kampung Bugis juga masih rendah, hanya 62,6 persen. Angka cakupan balita yang dilayani SDIDTK bahkan lebih rendah lagi, yaitu 43,2 persen. Situasi ini menunjukkan urgensi pemberdayaan kader dan pemanfaatan teknologi seperti Aplikasi e-PoK.
Advertisement
Advertisement
Pelatihan Komprehensif dan Harapan ke Depan
Melalui kegiatan PKM ini, para kader posyandu mendapatkan pelatihan yang komprehensif. Mereka diberikan penyuluhan mendalam mengenai pertumbuhan dan perkembangan balita. Cara melakukan stimulasi yang tepat juga menjadi bagian penting dari materi pelatihan.
Kader juga diajarkan praktik langsung penggunaan Aplikasi e-PoK. Mereka berlatih pemantauan dan stimulasi tumbuh kembang balita menggunakan alat standar. Pendampingan selama tiga bulan akan diberikan, terutama untuk balita dengan risiko gangguan tumbuh kembang.
Melly Damayanti berharap program ini akan membuat kader posyandu lebih berdaya dan terampil. Kemampuan mereka dalam deteksi dini dan stimulasi tumbuh kembang balita akan meningkat. Pemanfaatan aplikasi ini diharapkan mempermudah pencatatan dan analisis.
Advertisement
Pada akhirnya, status gizi dan tumbuh kembang balita di Kampung Bugis diharapkan dapat lebih optimal. Sebagai dukungan tambahan, Tim Dosen Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang menyerahkan set alat pemantauan perkembangan balita. Alat ini didistribusikan untuk delapan posyandu di Kelurahan Kampung Bugis.
Sumber: AntaraNews