Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu telah meluncurkan sebuah program inovatif. Program ini bertujuan untuk mempermudah masyarakat dalam mengurus paspor haji.
Inovasi bernama Layanan Langsung Menjangkau Pelosok Desa (Lalampa) ini memungkinkan petugas imigrasi mendatangi langsung calon jemaah. Layanan jemput bola ini menjangkau berbagai wilayah di Sulawesi Tengah, termasuk daerah pelosok.
Program Lalampa secara khusus menyasar calon jemaah haji lansia dan mereka yang tinggal jauh dari pusat kota. Layanan ini dilaksanakan di akhir pekan untuk menghindari gangguan aktivitas masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Inovasi Lalampa: Solusi Paspor Haji Tanpa Batas Jarak
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu, Pungki Handoyo, menegaskan komitmen lembaganya dalam memberikan layanan optimal. Inovasi Lalampa hadir sebagai jawaban atas kesulitan akses masyarakat. Program ini dirancang khusus untuk memudahkan proses pembuatan paspor haji.
Program jemput bola ini sangat membantu calon jemaah haji, khususnya yang berusia lanjut dan warga di daerah terpencil. Mereka tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh menuju Kota Palu. Hal ini secara signifikan mengurangi beban waktu dan biaya transportasi.
Salah satu penerima manfaat, Lukman, seorang petani dari Kabupaten Tolitoli, menyampaikan apresiasinya. “Biasanya calon jamaah haji harus datang ke Kota Palu untuk membuat paspor. Perjalanan bisa memakan waktu 14 sampai 16 jam dan harus menyiapkan biaya penginapan. Sekarang lebih mudah karena petugas imigrasi datang langsung ke kabupaten,” ujarnya. Testimoni ini menunjukkan dampak positif Imigrasi Palu Lalampa.
Advertisement
Advertisement
Jangkauan Luas dan Dampak Positif Imigrasi Palu Lalampa
Kepala Seksi Lalu Lintas Keimigrasian (Lantaskim) Kantor Imigrasi Palu, Agus Surono, menjelaskan detail pelaksanaan program ini. Lalampa menggandeng Kementerian Agama (Kemenag) untuk menjangkau tujuh daerah. Daerah-daerah tersebut meliputi Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi, Parigi Moutong, Poso, Buol, dan Tolitoli.
Pelayanan paspor haji melalui Imigrasi Palu Lalampa ini sengaja dilaksanakan pada akhir pekan. Tujuannya adalah agar tidak mengganggu aktivitas dan pekerjaan masyarakat. Pendekatan ini menunjukkan pertimbangan Imigrasi Palu terhadap kenyamanan publik.
Selama 30 hari pertama pelaksanaannya, program inovatif ini telah melayani sekitar 700 pemohon. Angka ini menunjukkan tingginya antusiasme dan kebutuhan masyarakat akan layanan serupa. Keberhasilan Lalampa menjadi bukti efektivitas layanan jemput bola.
Advertisement
Advertisement
Melangkah Maju dengan Inovasi Pelayanan Keimigrasian
Selain Imigrasi Palu Lalampa, Kantor Imigrasi Palu juga terus mengembangkan inovasi pelayanan lainnya. Program seperti Pelayanan Tanpa Batas (Pataba) dan Layanan Siaga turut memperluas akses masyarakat. Inisiatif-inisiatif ini menunjukkan komitmen berkelanjutan dalam peningkatan layanan.
Agus Surono berharap masyarakat dapat memanfaatkan berbagai momen pelayanan ini. Tujuannya adalah untuk mengurus dokumen keimigrasian mereka dengan lebih mudah. Pemanfaatan layanan ini diharapkan dapat memperlancar persiapan ibadah haji.
"Kami berharap masyarakat memanfaatkan momen ini untuk mengurus dokumen keimigrasian, dengan harapan program yang telah dilaksanakan semakin berkembang ke depan," kata Agus. Pernyataan ini mencerminkan visi untuk terus meningkatkan dan memperluas jangkauan layanan keimigrasian di masa mendatang.
Advertisement
Sumber: AntaraNews