Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman baru-baru ini menyerukan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan institusi pendidikan tinggi. Seruan ini bertujuan untuk memperkuat riset, inovasi, dan pengembangan produk bernilai tambah di sektor pertanian. Langkah ini diharapkan dapat mendorong hilirisasi pertanian secara signifikan di Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Amran dalam seminar nasional yang diselenggarakan di IPB University, Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu lalu. Acara ini sekaligus menandai peringatan ulang tahun ke-85 Fakultas Pertanian di universitas tersebut. Kolaborasi ini dianggap krusial untuk mencapai ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan.
Menurut Amran, peran universitas sangat vital dalam menggerakkan hilirisasi produk pertanian, mulai dari hulu hingga hilir. Sinergi antara pemerintah dan akademisi diharapkan mampu menciptakan terobosan baru. Tujuannya adalah agar produk pertanian memiliki nilai jual lebih tinggi dan memberikan manfaat maksimal bagi petani.
Advertisement
Advertisement
Menteri Amran menegaskan bahwa universitas memiliki peran penting dalam mendorong hilirisasi produk pertanian. Kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi, terutama IPB University, telah memberikan kontribusi nyata dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Hal ini menunjukkan bahwa sinergi akademisi dan pemerintah sangat efektif.
"Universitas memiliki peran penting dalam menggerakkan hilirisasi produk pertanian," kata Amran. Ia menambahkan, "IPB adalah universitas pertanian tertua (di Indonesia) dan memiliki kontribusi monumental, salah satunya adalah merilis varietas padi IPB 3S sepuluh tahun lalu." Kontribusi semacam ini membuktikan kapasitas universitas dalam menghasilkan inovasi yang berdampak langsung pada sektor pertanian. Inovasi tersebut sangat dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas.
Dekan Fakultas Pertanian IPB University, Suryo Wiyono, turut menekankan pentingnya hilirisasi dalam pengembangan produk pertanian. "Jika berhenti di hulu, sektor pertanian tidak akan berkembang, dan manfaat bagi petani akan berkurang," ujar Wiyono. Oleh karena itu, integrasi dari hulu ke hilir sangat diperlukan, termasuk pengembangan area sebagai pusat produksi dan distribusi.
Advertisement
Advertisement
Amran lebih lanjut menyatakan bahwa arah pengembangan pertanian kini mulai bergeser ke sektor perkebunan, seperti kopi, kakao, dan kelapa. Untuk mendukung pergeseran ini, ia mendorong universitas untuk membentuk klaster hilirisasi sesuai dengan potensi daerah masing-masing. Ini akan memastikan pengembangan yang terarah dan optimal.
Pemerintah memberikan dukungan besar untuk program hilirisasi ini. "Kami telah menandatangani MoU dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, untuk menindaklanjuti hal ini dengan program konkret," tambah Amran. Komitmen ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memajukan sektor pertanian.
Presiden telah mengalokasikan dana sebesar Rp9,9 triliun, atau sekitar US$601,3 juta, untuk program ini. Dana tersebut ditargetkan untuk distribusi bibit perkebunan kepada petani dengan total area budidaya mencapai 800 ribu hektar. "Semua bibit akan diberikan langsung kepada petani agar mereka benar-benar dapat menikmati manfaatnya," kata Amran.
Advertisement
- Alokasi dana sebesar Rp9,9 triliun (sekitar US$601,3 juta) dari Presiden untuk program hilirisasi.
- Target distribusi bibit perkebunan kepada petani untuk area budidaya seluas 800 ribu hektar.
- Bibit akan diberikan langsung kepada petani untuk memastikan manfaat langsung.
- Fokus pengembangan bergeser ke sektor perkebunan seperti kopi, kakao, dan kelapa.
Sumber: AntaraNews