Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Adin Bondar, menegaskan bahwa literasi merupakan modal insani. Kemampuan dasar membaca, menulis, dan memahami informasi ini menjadi investasi utama pembangunan nasional.
Pernyataan penting tersebut disampaikan Adin dalam gelar wicara puncak Festival Literasi 2025. Acara ini diselenggarakan di Perpustakaan Daerah Gunungkidul, DIY, pada hari Selasa.
Adin Bondar menjelaskan, "Literasi bukan hanya sekadar membaca, menulis, atau berhitung, tapi juga kemampuan berpikir kritis, menganalisis, menilai, hingga mencipta." Hal ini menjadi fondasi kuat untuk menciptakan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing.
Advertisement
Advertisement
Pentingnya Literasi sebagai Modal Insani dan Pembangunan Nasional
Adin Bondar dari Perpusnas menegaskan bahwa literasi adalah kunci utama pembangunan. Ia menyatakan, "Kata kunci negara maju adalah kualitas SDM yang kuat, dan itu hanya bisa ditempuh melalui budaya baca dan kecakapan literasi."
Literasi memiliki efek berganda terhadap berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga kesejahteraan ekonomi. Bahkan, UNESCO mencatat kesenjangan literasi berbanding lurus dengan kesenjangan pendapatan di sebuah negara.
Adin menambahkan, "Negara dengan budaya baca kuat seperti di Eropa dan Asia Timur terbukti lebih sejahtera. Sebaliknya, negara dengan budaya baca rendah cenderung memiliki kesenjangan sosial, upah rendah, dan kualitas kesehatan yang tertinggal."
Advertisement
Advertisement
Tantangan Era Digital dan Peran Budaya Baca
Era digital dan kecerdasan buatan memicu banjir informasi tidak valid, membuat generasi muda rentan mengalami 'brain rot' atau kemunduran kognitif. Hal ini menjadi tantangan serius yang harus dihadapi.
Oleh karena itu, budaya baca harus ditanamkan sejak dini, bahkan sejak 1.000 hari pertama kehidupan. Adin Bondar menekankan, "Membaca nyaring, memperkenalkan gambar, hingga membangun kebiasaan membaca buku konvensional adalah fondasi penting."
Fondasi literasi yang kuat sejak usia dini akan membekali individu. Ini penting untuk menyaring informasi dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi.
Advertisement
Advertisement
Gerakan Literasi untuk Kesejahteraan Komunitas
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, turut menekankan pentingnya literasi sebagai jalan meningkatkan kualitas hidup. Ia melihat perpustakaan sebagai pusat pembelajaran.
Endah menjelaskan, "Perpustakaan kini menjadi ruang belajar sepanjang hayat dan kolaborasi masyarakat." Di Kabupaten Gunungkidul, program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial telah sukses dijalankan.
Gerakan literasi tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi harus digerakkan bersama. Endah menegaskan, "Saya percaya dengan gotong royong, kita bisa wujudkan Gunungkidul sebagai kabupaten literasi yang berdaya saing dan sejahtera." Kolaborasi dari keluarga, sekolah, komunitas, hingga pelaku usaha sangat diperlukan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews