Tahukah Anda Jika Santri Bisa Bikin Film Pakai AI? Menbud Ajak Santri Manfaatkan Teknologi AI untuk Perfilman Nasional

Menteri Kebudayaan mengajak santri untuk mendalami pembuatan film menggunakan teknologi AI. Peluang besar bagi Santri Film AI untuk berkarya dan memperkaya perfilman nasional!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Anda Jika Santri Bisa Bikin Film Pakai AI? Menbud Ajak Santri Manfaatkan Teknologi AI untuk Perfilman Nasional
Menteri Kebudayaan mengajak santri untuk mendalami pembuatan film menggunakan teknologi AI. Peluang besar bagi Santri Film AI untuk berkarya dan memperkaya perfilman nasional! (Merdeka.com)

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, baru-baru ini mengajak para santri untuk mendalami dunia perfilman dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan artifisial (AI).

Ajakan ini disampaikan saat kunjungannya ke Pondok Pesantren Darunnajah, Jakarta, menandai sebuah langkah inovatif dalam memajukan industri kreatif di kalangan pesantren.

Inisiatif ini bertujuan untuk melahirkan sineas-sineas muda dari kalangan santri, yang mampu membawa cerita-cerita lokal ke layar lebar dengan sentuhan teknologi modern.

Peran Teknologi AI dalam Perfilman Santri

Fadli Zon menekankan bahwa teknologi AI akan menjadi instrumen penting di masa depan perfilman. Ia melihat AI sebagai alat bantu yang signifikan dalam proses produksi film, bahkan berpotensi untuk membuat film secara mandiri.

"Artificial Intelligence ini juga akan menjadi tools, instrumen yang juga sangat penting ke depan karena dengan AI itu bisa menjadi alat bantu, dan mungkin satu hari ke depan AI juga bisa membuat film, tapi tentu harus dengan keterampilan artistik yang sangat tinggi," ujar Fadli.

Meskipun AI menawarkan kemudahan, Fadli mengingatkan pentingnya keterampilan artistik dan teknis yang tinggi. Membuat film memerlukan keahlian khusus, dan AI hadir untuk mendukung, bukan menggantikan, kreativitas manusia.

Pemanfaatan teknologi AI ini diharapkan dapat membuka peluang baru bagi santri untuk berkreasi dan menghasilkan karya film yang berkualitas, relevan dengan perkembangan zaman.

Mengangkat Cerita Lokal Melalui Lensa Santri

Selain teknologi, Menteri Kebudayaan juga mendorong santri untuk mengangkat cerita kehidupan masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia. Kisah-kisah ini dapat diterjemahkan menjadi skenario film yang menarik dan beragam.

Fadli menyebutkan bahwa cerita kepahlawanan, kisah anak-anak, hingga kehidupan di pondok pesantren, memiliki potensi besar. Genre-genre ini dapat memperkaya khasanah perfilman nasional yang selama ini mungkin didominasi oleh tema tertentu.

"Karena kan mereka ada yang mondok, ada yang tinggal di pesantren, dan banyak kisah-kisah maupun mungkin dari cerita-cerita dakwah yang di masa lalu, banyak saya kira yang belum ter-representasi cerita-cerita itu di dalam film. Supaya film kita ini lebih berwarna gitu ya. Jangan hanya didominasi oleh genre tertentu," jelas Fadli.

Inisiatif ini memberikan kesempatan bagi santri untuk menjadi pencerita, membawa perspektif unik dari lingkungan pesantren dan daerah asal mereka ke dalam bentuk visual yang lebih luas.

Ekosistem Perfilman Nasional dan Santri

Fadli Zon juga menyoroti perkembangan positif ekosistem perfilman di Indonesia. Peningkatan jumlah film yang masuk festival internasional dan tingginya jumlah penonton di bioskop menunjukkan peluang besar bagi sineas.

Kondisi ini menciptakan momentum yang tepat bagi para santri untuk menampilkan karya terbaik mereka. Hal ini juga berkontribusi pada upaya menghidupkan kembali bioskop dan memajukan kebudayaan nasional secara keseluruhan.

"Saya kira kita mempunyai tugas dan tanggung jawab bersama untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia, supaya lebih banyak dikenal lagi di dunia internasional," tegas Fadli.

Melalui program Santri Film Festival 2025 dari Kementerian Kebudayaan, diharapkan akan lahir sineas-sineas baru dari kalangan santri. Program ini menjadi wadah bagi mereka untuk bersaing di industri perfilman nasional maupun internasional.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi