Tahukah Anda? Festival Qasidah di Mataram Sukses Jadi Media Dakwah dan Hiburan Alternatif Bernilai Religi

Pemerintah Kota Mataram sukses menggelar Festival Qasidah Masyarakat Pelajar, menjadikannya media dakwah dan hiburan alternatif. Bagaimana seni Islami ini mampu menjembatani generasi dan tetap relevan di era modern?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Anda? Festival Qasidah di Mataram Sukses Jadi Media Dakwah dan Hiburan Alternatif Bernilai Religi
Pemerintah Kota Mataram sukses menggelar Festival Qasidah Masyarakat Pelajar, menjadikannya media dakwah dan hiburan alternatif. Bagaimana seni Islami ini mampu menjembatani generasi dan tetap relevan di era modern? (AntaraNews)

Pemerintah Kota Mataram sukses menyelenggarakan Festival Qasidah Masyarakat Pelajar se-Kota Mataram dengan meriah. Acara ini berlangsung di Taman Sangkareang, Mataram, pada Sabtu (4/10) lalu, menarik perhatian banyak pihak. Wakil Wali Kota Mataram, TGH Mujiburrahman, menyatakan festival ini menjadi kebanggaan di tengah gempuran hiburan modern yang kian masif.

Festival yang diselenggarakan oleh Lembaga Seni Qasidah Indonesia Nusantara Jaya (Lasqi NJ) ini diikuti oleh 22 grup kasidah dari berbagai kalangan. Kegiatan ini tidak hanya sekadar ajang perlombaan seni Islami yang kompetitif. Namun, juga berfungsi sebagai sarana dakwah, ruang edukasi, serta wahana silaturahim yang efektif bagi seluruh peserta dan masyarakat.

TGH Mujiburrahman menegaskan bahwa Festival Qasidah memiliki nilai religi yang kuat dan mendalam. Ia menyebutnya sebagai hiburan alternatif yang mampu mempertemukan berbagai generasi dalam satu semangat kebersamaan. Ini menunjukkan komitmen Mataram dalam melestarikan seni dan budaya Islami sebagai bagian integral dari identitas kota.

Qasidah sebagai Media Dakwah dan Edukasi

Wakil Wali Kota Mataram, TGH Mujiburrahman, menegaskan bahwa Festival Qasidah bukan sekadar ajang unjuk kebolehan seni semata. Lebih dari itu, seni qasidah berperan penting sebagai sarana dakwah yang efektif dan menyentuh hati. Ia mampu menyampaikan pesan-pesan kebaikan, moral, dan nilai-nilai spiritual dengan cara yang indah serta mudah diterima oleh masyarakat luas.

Selain fungsi dakwah, qasidah juga berfungsi sebagai ruang edukasi yang berharga bagi para pesertanya. Melalui lirik dan melodi yang harmonis, qasidah mengajarkan disiplin, kekompakan, serta pentingnya saling menghormati antar sesama. Ini merupakan bagian dari upaya kolektif untuk membentuk akhlak mulia dan memperkuat keimanan di tengah masyarakat.

"Ajang itu mampu mempertemukan generasi muda, orang tua, dan masyarakat luas dalam satu majelis seni yang sarat nilai religius, moral, dan budaya," kata TGH Mujiburrahman. Qasidah juga menjadi wahana komunikasi yang vital dalam mempertahankan seni Islami. Kesenian ini adalah warisan leluhur yang kaya makna dan patut untuk terus dilestarikan.

Melibatkan Pelajar dan Generasi Muda

Keistimewaan Festival Qasidah tahun ini adalah keterlibatan aktif dari kalangan pelajar, yang memberikan nuansa baru pada acara tersebut. Ini menunjukkan bahwa qasidah tidak hanya milik generasi terdahulu yang sudah akrab dengan seni ini. Namun, juga telah berhasil merangkul generasi muda, termasuk milenial dan Gen Z, untuk ikut serta.

Keterlibatan pelajar membuktikan bahwa seni qasidah memiliki daya tarik dan relevansi di segala usia dan zaman. Ini adalah upaya penting untuk memastikan keberlanjutan warisan budaya Islami agar tidak tergerus oleh zaman. Dengan demikian, nilai-nilai luhur dan pesan kebaikan dapat terus disampaikan kepada generasi penerus.

TGH Mujiburrahman berharap agar remaja dan pelajar dapat menjadikan qasidah sebagai ruang ekspresi kreatif yang relevan dengan perkembangan zaman. Ia menekankan pentingnya inovasi agar qasidah dapat terus berkembang. Ini adalah cara agar qasidah tetap dicintai dan diapresiasi oleh lintas generasi, dari yang muda hingga yang tua.

Inovasi dan Modernisasi Qasidah

Untuk menjaga relevansi dan daya tarik, qasidah dapat dikemas lebih modern dengan aransemen musik yang segar dan inovatif. Gaya penampilan yang menarik juga dapat ditambahkan untuk memikat audiens yang lebih luas. Bahkan, kolaborasi dengan teknologi digital bisa menjadi opsi menarik untuk menjangkau khalayak yang lebih muda dan melek teknologi.

Namun, modernisasi ini harus tetap menjaga nilai Islami yang luhur dan esensi asli dari qasidah itu sendiri. Tujuannya adalah agar qasidah tidak hanya bertahan dari gempuran budaya asing, tetapi juga berkembang pesat. Ini akan membuatnya dicintai oleh berbagai generasi, tanpa kehilangan identitas aslinya sebagai seni Islami.

"Jikalau jiwa itu sudah mencapai titik jemu, maka yang bisa memperbaikinya adalah mengubah menjadi lebih baru atau diperbaharui," ujar TGH Mujiburrahman, mengutip pesan tokoh agama. Apresiasi tinggi diberikan kepada Lasqi NJ Kota Mataram. Mereka berhasil menampilkan seni qasidah dengan aransemen modern tanpa mengubah keaslian kesenian tersebut, sebuah pencapaian yang patut diacungi jempol.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi