Tahukah Anda, Anak-anak Rentan Terlibat Demonstrasi? KemenPPPA Buka Hotline SAPA 129 untuk Korban Kekerasan

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) membuka hotline Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) 129 untuk melaporkan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, terutama yang terlibat dalam demonstrasi. Simak selengkapnya!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Anda, Anak-anak Rentan Terlibat Demonstrasi? KemenPPPA Buka Hotline SAPA 129 untuk Korban Kekerasan
Kementerian PPPA mengaktifkan layanan SAPA 129 untuk perempuan dan anak yang menjadi korban demo. Data KemenPPPA menunjukkan ratusan anak terlibat dan menjadi korban. Bagaimana cara melapor? (Merdeka.com)

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) membuka layanan pengaduan khusus. Ini untuk korban kekerasan perempuan dan anak yang terdampak demonstrasi.

Hotline Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) 129 kini siaga 24 jam. Ini menerima laporan kekerasan di tengah keramaian.

Masyarakat dapat menghubungi call center 129 atau WhatsApp di 08111-129-129. Inisiatif ini diharapkan melindungi kelompok rentan.

Keterlibatan Anak dalam Aksi Demonstrasi

Data KemenPPPA menunjukkan peningkatan signifikan keterlibatan anak-anak dalam demonstrasi. Pada 25 Agustus 2025, 105 anak tercatat ikut serta dalam unjuk rasa di Jakarta.

Gelombang demonstrasi berikutnya juga melibatkan anak-anak di berbagai daerah. Di Makassar ada 1 anak, Bali 39 anak, dan gelombang kedua di Jakarta sekitar 110 anak pada 28 Agustus.

Kemudian, pada 29 Agustus, 23 anak terlibat di Semarang, 25 di Yogyakarta, dan 56 anak di Surabaya. KemenPPPA terus memantau situasi ini dengan serius.

Menteri Arifatul Choiri Fauzi menyatakan keterlibatan anak di Solo, Kediri, Cirebon, Bandung, NTB, dan Palembang masih dalam identifikasi. Koordinasi dengan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) terus dilakukan. Ini untuk memastikan bantuan yang tepat bagi anak-anak.

Dampak Fatal Keterlibatan Anak dalam Demonstrasi

Serangkaian demonstrasi dari 25 hingga 31 Agustus 2025 telah menelan korban jiwa. Sebanyak 10 orang meninggal dunia, termasuk satu anak di antaranya.

Korban anak yang meninggal diidentifikasi dengan inisial ALF, seorang pelajar 16 tahun dari Tigaraksa, Tangerang. ALF meninggal pada 1 September setelah dirawat di RS Dr. Mintohardjo sejak 29 Agustus dalam kondisi koma.

ALF dilaporkan terlibat dalam unjuk rasa di dekat kompleks DPR/MPR pada 28 Agustus yang berujung ricuh. Kejadian ini menyoroti bahaya keterlibatan anak dalam situasi tidak terkendali.

Selain ALF, 20 anak lainnya juga mengalami luka-luka selama bentrokan di berbagai wilayah. Mereka saat ini sedang menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Ini menambah daftar panjang dampak negatif demonstrasi.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi