Tahu Nggak Sih? Ini Dia Jejak Sejarah Skena Musik Indie Jakarta di Klub dan Toko Rekaman Legendaris

Menyusuri jejak Skena Musik Indie Jakarta dari era 90-an hingga 2000-an. Temukan klub dan toko rekaman legendaris yang menjadi saksi bisu perkembangannya!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahu Nggak Sih? Ini Dia Jejak Sejarah Skena Musik Indie Jakarta di Klub dan Toko Rekaman Legendaris
Menyusuri jejak Skena Musik Indie Jakarta dari era 90-an hingga 2000-an. Temukan klub dan toko rekaman legendaris yang menjadi saksi bisu perkembangannya! (AntaraNews)

Musik indie kini sangat populer di kalangan penikmat musik tanah air. Namun, di balik popularitasnya, ada jejak sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Jakarta menjadi salah satu pusat utama perkembangan gerakan musik independen ini sejak era 1990-an.

Sejumlah klub dan toko rekaman legendaris di ibu kota menjadi saksi bisu tumbuhnya skena musik indie. ANTARA baru-baru ini berkesempatan mengikuti tur berjalan kaki yang mendalam. Tur ini diselenggarakan oleh "Welcome to Kenal Kota Ditemenin Spotify" pada hari Sabtu lalu.

Perjalanan tersebut membawa peserta menyusuri berbagai lokasi ikonik di Jakarta. Tempat-tempat ini memiliki peran krusial dalam membentuk identitas musik independen. Eksplorasi ini mengungkap bagaimana skena musik indie Jakarta berkembang pesat.

Parc: Dari Dansa Elektronik Menuju Panggung Indie Kebayoran Baru

Perjalanan tur dimulai dengan mengunjungi sebuah bangunan di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Bangunan ini dulunya merupakan klub legendaris bernama Parc. Kini, tempat tersebut telah dialihfungsikan untuk keperluan lain.

Awalnya, klub ini dikenal sebagai Prego, dengan fokus utama pada musik dansa elektronik. Namun, pada tahun 2002, Nasta Sutardjo bersama rekannya melakukan transformasi signifikan. Mereka mengubah Prego menjadi Parc, sebuah klub yang didedikasikan untuk menampilkan musik-musik indie.

Parc menjadi rumah bagi program-program musik populer seperti Monday Mayhem dan Thursday Riot. Banyak band ternama memulai karir mereka di sini. The Sigit dan Goodnight Electric adalah beberapa nama besar yang pernah tampil di Parc pada masa awal mereka.

Duta Suara: Pusat Pencarian Rilisan Musik di Sabang

Dari Kebayoran Baru, tur berlanjut menuju kawasan Sabang, Jakarta Pusat. Di sana, sebuah toko rekaman musik bersejarah masih berdiri kokoh hingga kini. Toko tersebut adalah Duta Suara, yang telah eksis sejak tahun 1970.

Sebelum era platform digital, toko rekaman seperti Duta Suara adalah rujukan utama. Para penikmat musik dan kolektor kaset serta piringan hitam selalu mencari rilisan terbaru di sini. Tempat ini menjadi jembatan antara musisi dan pendengar.

Hingga saat ini, Duta Suara tetap setia menjajakan beragam jenis rekaman. Mereka menyediakan kaset dan piringan hitam dari berbagai genre, baik artis lokal maupun mancanegara. "Jadi di sinilah tempat orang mencari rilisan musik dan jadi tempat titik temu juga untuk dengar musik," ujar Dimas Ario, Lead Editor Spotify Indonesia. "Mereka menyediakan pemutar CD dan kaset, jadi orang bisa dengerin dulu sebelum beli."

Parkit dan Pisa Cafe: Saksi Bisu Perkembangan Skena Musik Indie Jakarta

Bergeser sedikit ke koridor Wahid Hasyim, dulunya berdiri diskotek populer bernama Parkit. Tempat ini berjaya pada era 1990-an hingga 2000-an. Kini, bangunan tersebut telah berubah menjadi gedung perkantoran.

Parkit juga berperan penting dalam perkembangan skena musik indie Jakarta. Terutama pada pertengahan tahun 2000-an, tempat ini menjadi salah satu ruang ekspresi bagi musisi independen. Banyak band menemukan panggung pertama mereka di sana.

Di seberang Gereja Theresia, Gondangdia, terdapat Pisa Cafe, sebuah kafe kuliner Italia. Kafe ini dikenal dengan pertunjukan musiknya setiap malam. Pada tahun 2010-an, Pisa Cafe menjadi bagian penting dari perjalanan karir band indie Jakarta, seperti The Upstairs dan Zeke Khaseli and the Wrong Planet.

Jaya Pub: Ikon Pub Musik Tertua dan Pelopor Band Indie

Perjalanan tur berakhir di kawasan M. H. Thamrin, tepatnya di belakang Gedung Jaya. Di sana, berdiri salah satu pub musik tertua di Jakarta yang masih eksis hingga saat ini. Pub legendaris ini bernama Jaya Pub.

Jaya Pub didirikan oleh Frans Tumbuan dan Rima Melati. Sejak awal, tempat ini menjadi rumah bagi sejumlah band beken dan band cover di Jakarta. Atmosfernya yang unik telah menarik banyak penikmat musik.

Sejak tahun 2008, duo Keke Tumbuan dan Indra Ameng, yang tergabung dalam The Secret Agents, menghadirkan program musik bulanan "Superbad" di Jaya Pub. Program ini terbukti melahirkan banyak band-band indie baru. Band seperti Kelompok Penerbang Roket dan Morfem mengawali karir mereka di panggung ikonik ini.

Dimas Ario menambahkan, "Jaya Pub sangat ikonik karena dia terompet roti digantung-gantung di atas. Jadi kalo misalnya band habis tampil selain (penonton) tepuk tangan juga bisa nyalain trompet itu jadi suasananya makin meriah." Ini menunjukkan betapa unik dan meriahnya suasana di Jaya Pub.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi