Strategi Efektif Orang Tua Mengurangi Waktu Layar Anak dengan Aktivitas Menarik

Orang tua perlu kreatif mencari alternatif kegiatan menarik untuk mengurangi waktu layar anak. Simak tips dari psikolog terkemuka untuk membantu anak mengembangkan diri di dunia nyata dan mempererat hubungan keluarga.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Strategi Efektif Orang Tua Mengurangi Waktu Layar Anak dengan Aktivitas Menarik
Orang tua perlu kreatif mencari alternatif kegiatan menarik untuk mengurangi waktu layar anak. Simak tips dari psikolog terkemuka untuk membantu anak mengembangkan diri di dunia nyata dan mempererat hubungan keluarga. (AntaraNews)

Paparan berlebihan terhadap platform digital menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua di era modern. Pembatasan akses anak ke gawai dan platform digital berisiko tinggi perlu diimbangi dengan beragam aktivitas menarik di dunia nyata. Hal ini penting untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal dan mempererat hubungan keluarga.

Menurut Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog, orang tua harus bekerja keras dan kreatif dalam menciptakan program alternatif. Program ini diharapkan mampu menyaingi daya tarik konten digital yang biasa anak tonton. Keterlibatan aktif orang tua menjadi kunci utama dalam upaya ini.

Senada dengan itu, Psikolog Anak Alva Paramitha, S.Psi., Psikolog, BFRP, juga menekankan pentingnya aktivitas kreatif dan fisik. Kegiatan ini tidak hanya mengurangi waktu layar anak, tetapi juga memberikan ruang ekspresi dan pengembangan diri yang positif. Pendampingan orang tua sangat dibutuhkan untuk mengarahkan anak pada kegiatan yang bermanfaat.

Salah satu cara efektif untuk mengurangi waktu layar anak adalah dengan melibatkan mereka dalam proyek kreatif bersama di rumah. Prof. Rose Mini menyarankan orang tua untuk mengajak anak membuat kerajinan, menyusun cerita, atau mengeksplorasi topik yang diminati. Kegiatan semacam ini dapat menantang anak tanpa harus bergantung pada gawai.

Menciptakan proyek bersama tidak hanya mengisi waktu luang anak, tetapi juga merangsang imajinasi dan kemampuan pemecahan masalah mereka. Misalnya, membuat model pesawat dari kardus atau menulis cerita fantasi bersama. Inisiatif ini mendorong anak untuk berpikir aktif dan berkreasi.

Aktivitas kreatif juga bisa mencakup menggambar, membuat video pendek, memotret, atau bermusik, sebagaimana diungkapkan oleh Alva Paramitha. Kegiatan-kegiatan ini menyediakan ruang ekspresi yang dapat mengalihkan anak dari konsumsi pasif konten digital. Anak bisa belajar menyampaikan ide dan perasaan melalui medium yang berbeda.

Selain proyek kreatif, aktivitas fisik juga memegang peranan penting, terutama bagi anak-anak usia sekolah dasar yang aktif bergerak. Prof. Rose Mini mencontohkan olahraga seperti sepak bola atau bola basket sebagai pilihan yang baik. Olahraga bersama tidak hanya menyehatkan, tetapi juga mempererat hubungan antara orang tua dan anak.

Alva Paramitha menambahkan bahwa kegiatan fisik seperti menari, bela diri, dan aktivitas luar ruang lainnya sangat bermanfaat. Kegiatan ini membantu anak menyalurkan energi berlebih dan meningkatkan kemampuan mereka dalam mengatur emosi. Interaksi langsung dengan lingkungan sekitar juga melatih koordinasi motorik dan sensorik anak.

Dorongan untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial juga krusial. Anak dan remaja bisa didorong untuk terlibat dalam klub sekolah, komunitas hobi, atau komunitas sukarelawan. Keterlibatan ini melatih kemampuan interaksi sosial dan membangun kepercayaan diri mereka di lingkungan nyata.

Aktivitas reflektif seperti menulis jurnal dapat menjadi pilihan untuk membantu anak mengenali dan mengelola emosi mereka. Ini adalah cara yang baik bagi anak untuk memahami diri sendiri dan mengembangkan kecerdasan emosional. Menulis jurnal juga melatih kemampuan berbahasa dan berpikir kritis.

Anak-anak dan remaja juga bisa diarahkan pada kegiatan berbasis proyek yang menghasilkan karya. Contohnya membuat konten podcast, blog, atau karya digital lainnya. Daripada hanya mengonsumsi konten, mereka diajak untuk menjadi kreator. Ini memberikan mereka rasa memiliki dan pencapaian.

Alva Paramitha menegaskan bahwa remaja membutuhkan ruang untuk merasa mampu dan diterima, yang bisa didapatkan dari kegiatan nyata, bukan hanya dari jumlah 'likes' di media sosial. Keterlibatan aktif dalam kegiatan di dunia nyata, dengan dukungan keluarga, menjadikan pembatasan gawai sebagai bagian dari proses pembelajaran dan pengembangan diri anak.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi