Simbol Toleransi dari See Hin Kiong, Klenteng Tertua di Kota Padang

Senin, 28 November 2022 11:26 Reporter : Lisa Septri Melina
Simbol Toleransi dari See Hin Kiong, Klenteng Tertua di Kota Padang Klenteng See Hin Kiong Kota Padang. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Jejak pemeluk agama Konghucu di Kota Padang, Sumatera Barat (Barat) bisa terlihat dari keberadaan klenteng See Hin Kiong. Tempat ibadah yang bernama lain Vihara Tri Dharma merupakan klenteng tertua di Kota Padang, tepatnya di Jalan Klenteng, Kelurahan Kampung Pondok, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang.

Bagi masyarakat Kota Padang, wilayah permukiman tersebut juga lazim disebut sebagai Kampung Cino (Kampung China).

Selain tempat ibadah, Klenteng See Hin Kiong yang didominasi warna merah itu juga telah terdaftar sebagai cagar budaya di BPCB Sumatera Barat dengan nomor inventaris 06/BCB-TB/A/01/2007.

Keberadaannya yang bernilai sejarah juga menjadi daya pikat wisata. Terbukti pengunjung yang datang tidak hanya dari pemeluk agama Konghucu, namun juga masyarakat umum.

2 dari 3 halaman

Kampung Pondok ini memang terkenal sebagai perkampungan masyarakat non-Muslim di Kota Padang, namun nyatanya banyak juga masyarakat yang menganut Agama Islam menetap di sekitar area ini. Hal ini menunjukkan kerukunan salin terjaga satu sama lain.

Petugas bagian pelayanan umat, Ahong (60) mengatakan, klenteng ini merupakan tertua di Kota Padang yang dibangun pada tahun 1841 silam. Di tahun 1861 sempat hangus saat kebakaran melanda. Kemudian dibangun kembali di tahun 1893 yang diresmikan pada tahun 1897.

Kemudian tahun 2009 rusak berat akibat gempa bumi yang mengguncang wilayah Sumatera Barat dengan magnitudo 7,6 Skala Richter.

"Setelah gempa dibangun kembali tahun 2010 di lokasi sekarang, kurang lebih berjarak 100 meter dari lokasi semula yang kemudian diresmikan pada 30 Maret 2013 lalu," tuturnya kepada merdeka.com, Minggu (27/11).

Ahong menuturkan tidak ada pembatasan bagi pengujung. Jam operasional setiap harinya dimulai pukul 07.00 hingga 21.00 WIB.

"Tidak ada batasan bagi masyarakat, tetapi kalau masyarakat yang tidak beribadah kami tidak memberikan izin untuk masuk tanpa surat izin dari petugas," tuturnya.

"Kalau sekadar di luar dan berfoto tanpa masuk boleh, bahkan masyarakat Muslim juga sering berfoto di luar ini," tuturnya.

Meski minoritas, namun Ahong mengakui sikap toleransi antara umat beragam di Sumbar sangat kuat. Lanjutnya, di perkampungan ini tidak hanya dihuni oleh masyarakat non-Muslim saja, namun juga ada masyarakat Muslim.

3 dari 3 halaman

"Toleransi beragama tinggi, buktinya kami selama ini hidup rukun saja. Sebelah sini juga ada masjid, aman-aman saja. Saya saja sering bergaul dengan masyarakat Muslim. Intinya saling menghargai antara umat beragama," katanya.

Salah satu wisatawan Muslim, Ani mengatakan, sikap toleransi antara umat beragama di Padang terbilang tinggi, buktinya tidak hanya masyarakat non-Muslim saja yang bisa mendatangi klenteng tertua di Kota Padang.

"Kalau untuk toleransi saya lihat tinggi, mereka tidak mempermasalahkan siapa saja yang mau berfoto di tempat ini," ujarnya diwawancarai di lokasi.

Kendati demikian, Ani mengaku tidak mendapatkan izin untuk masuk kecuali mendapat izin dari petugas. "Jika hanya sekadar foto-foto kita tidak izinkan masuk sama petugas. Harus ada surat izin dari lembaga," tuturnya yang baru pertama kali berkunjung.

"Ini kan juga tempat ibadah, jadi harus kita hargai. Tidak masalah jika tidak diizinkan masuk. Di luar kan juga bisa untuk berfoto," ujarnya. [cob]

Baca juga:
Bertemu Pelajar Magelang, Ganjar Bicara Moderasi Beragama dan Nilai Pancasila
Penampakan Gereja Katolik di Tengah Hutan, Terbengkalai Tak Ada Lagi Kegiatan Ibadah
Ganjar Harap Masjid Sheikh Zayed Solo jadi Pusat Kajian Ilmu & Penyebar Toleransi
Forum R20 Ditutup, India Jadi Tuan Rumah Tahun Depan

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini