Yayasan Sikola Mombine (SM) secara resmi meluncurkan Program Building Effective Network (BEN) di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Program ini berfokus pada pemberdayaan disabilitas, khususnya anak-anak dan kaum muda, guna memastikan penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak-hak mereka.
Inisiatif strategis ini akan berlangsung mulai Januari 2026 hingga Desember 2028, mengadopsi Pendekatan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM). Program ini secara spesifik menyasar tiga kecamatan di Kota Palu, yaitu Tawaeli, Mantikulore, dan Palu Barat, sebagai wilayah prioritas.
Pelaksanaan program ini selaras dengan Peraturan Daerah (Perda) Kota Palu Nomor 10 Tahun 2023. Perda tersebut mengatur tentang Pelaksanaan Penghormatan, Perlindungan, dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas, menunjukkan komitmen pemerintah daerah terhadap isu ini.
Advertisement
Advertisement
Program BEN yang diinisiasi oleh Yayasan Sikola Mombine memiliki fokus yang jelas terhadap kelompok usia 0-25 tahun. Target ini mencakup anak-anak dan kaum muda penyandang disabilitas, termasuk mereka yang terdampak kusta, di Kota Palu.
Berdasarkan data dari Dinas Sosial Kota Palu, terdapat 123 penyandang disabilitas yang tersebar di 12 kelurahan di tiga kecamatan fokus. Pada tahap awal, sebanyak 50 responden penyandang disabilitas akan dikunjungi oleh enumerator.
Kunjungan ini bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi mendalam terkait kebutuhan spesifik mereka. Pengumpulan data awal ini menjadi krusial untuk merancang intervensi yang tepat sasaran dan efektif.
Advertisement
Advertisement
Direktur Yayasan Sikola Mombine, Nur Safitri Lasibani, menjelaskan bahwa tujuan utama program ini adalah pemberdayaan anak dan kaum muda disabilitas. Hal ini akan dicapai melalui Rencana Rehabilitasi Individu (RRI), yang dirancang untuk meningkatkan kepercayaan diri dan partisipasi sosial mereka.
Selain itu, program ini juga berupaya memperkuat akses terhadap Sexual and Reproductive Health and Rights (SRHR) bagi kelompok sasaran. Pendekatan holistik ini juga mencakup penguatan dukungan keluarga dan komunitas.
Dukungan tersebut diwujudkan melalui kampanye anti-stigma, promosi hak-hak disabilitas, serta deteksi dini dan rujukan inklusif. Program ini juga memberdayakan pengasuh dan memperkuat Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) dengan membangun kapasitas organisasi penyandang disabilitas (OPDis), kader, pendidik, organisasi masyarakat sipil, dan aktor komunitas untuk solusi berbasis komunitas.
Advertisement
Advertisement
Sikola Mombine juga berkomitmen untuk memberikan akses layanan kesehatan yang inklusif bagi penyandang disabilitas. Ini meliputi deteksi dini, rehabilitasi, penyediaan alat bantu, advokasi kebijakan, dan jaminan kesehatan yang memadai.
Aspek pendidikan juga menjadi perhatian utama, dengan mendorong pendidikan inklusif dan aman di sekolah, pendidikan nonformal, serta pembelajaran berbasis komunitas. Tujuannya adalah memastikan setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk belajar.
Program ini juga menekankan inklusi ekonomi melalui pelatihan vokasional dan pengembangan penghidupan berkelanjutan. Selain itu, perlindungan sosial dan transisi menuju kemandirian finansial menjadi bagian integral dari upaya ini. Partisipasi aktif penyandang disabilitas dan OPDis dalam pengambilan keputusan, advokasi media, serta penguatan regulasi juga terus didorong untuk menciptakan kebijakan yang lebih inklusif.
Advertisement
Sumber: AntaraNews