Semangat Petani Gayo Lues Tak Padam, Jual Kemiri Meski Dihantam Bencana

Keterbatasan akses pascabanjir bandang dan tanah longsor tidak menyurutkan semangat petani di Gayo Lues untuk menjual hasil panen kemiri mereka, menunjukkan ketangguhan luar biasa.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Semangat Petani Gayo Lues Tak Padam, Jual Kemiri Meski Dihantam Bencana
Keterbatasan akses pascabanjir bandang dan tanah longsor tidak menyurutkan semangat petani di Gayo Lues untuk menjual hasil panen kemiri mereka, menunjukkan ketangguhan luar biasa. (AntaraNews)

Keterbatasan akses pascabanjir bandang dan tanah longsor tidak menghalangi semangat petani di Desa Agusen, Kecamatan Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh, untuk menjual kemiri ke tengkulak. Bencana hidrometeorologi yang melanda daerah tersebut pada akhir tahun lalu, tepatnya akhir November 2025, telah menyebabkan kerusakan parah dan memutus akses jalan utama di banyak wilayah, termasuk Desa Agusen.

Meski demikian, para petani lokal menunjukkan ketangguhan luar biasa untuk tetap melanjutkan mata pencarian mereka. Ismail (65) dan Aminah (42) adalah dua di antara mereka yang terlihat menyeberangi jembatan darurat pada Rabu, 28 Januari 2026. Mereka memanggul karung-karung kemiri hasil kebunnya, siap untuk dijual kepada tengkulak yang sudah menunggu di seberang sungai.

Aktivitas ini menjadi pemandangan yang menggambarkan perjuangan masyarakat Gayo Lues dalam menghadapi dampak bencana. Penjualan kemiri ini merupakan upaya untuk mendapatkan penghasilan dari sisa-sisa panen yang berhasil diselamatkan, menunjukkan adaptasi dan kegigihan petani di tengah kondisi sulit.

Aminah menjelaskan bahwa kemiri yang dijualnya merupakan hasil panen sebelum bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda wilayah mereka pada akhir tahun 2025. Kemiri tersebut adalah sisa yang tidak terbawa arus banjir, yang kemudian ia kumpulkan kembali. “Ini kemiri sudah lama, sebelum musibah hari itu kejadian sudah dibawa ke rumah. Ini pun sudah hanyut dari depan rumah itu. [Jadi, ini] kumpulin lagi, makanya sayang ini enggak dijualkan,” tuturnya kepada ANTARA.

Jumlah kemiri yang berhasil dijual Aminah kali ini jauh lebih sedikit dibandingkan panen sebelumnya, hanya satu karung. Hal serupa juga dialami Ismail, yang biasanya mampu menjual kemiri seberat dua hingga tiga ton. Namun, akibat dampak banjir dan longsor, ia hanya bisa menjual 11 karung kemiri, dengan satu karung mencapai sekitar 30 kilogram.

Kondisi ini menunjukkan betapa besar kerugian yang dialami para petani Gayo Lues akibat bencana alam. Meskipun demikian, semangat mereka untuk tetap beraktivitas dan menjual hasil bumi tidak pupus. Mereka memanfaatkan setiap kesempatan untuk memulihkan ekonomi keluarga.

Ismail menjelaskan bahwa panen kemiri hanya dilakukan sekali dalam setahun, dan proses pengumpulannya cukup memakan waktu. “Kalau kemiri itu, panennya sekali cuma. Kadang-kadang dikumpulin dulu. Siap panen itu, dua kali, baru kita jual. Ngumpul dia itu dulu,” katanya. Proses pengolahan kemiri juga tidak sederhana, melibatkan beberapa tahapan yang rumit.

“Kemiri agak rumit. Dia baru jatuh kan masih ada kulit. Kulitnya itu kan dua lapis. Habis itu dikupas dia. Jemur lagi. Habis dijemur, baru masuk karung. Baru cari tauke,” terang Ismail. Meskipun harus melewati proses panjang dan rumit, serta menghadapi berkurangnya hasil panen akibat bencana, Ismail tetap bersyukur. “Ini sisa dari banjir. Alhamdulillah adalah sikit,” ucapnya, menggambarkan rasa syukurnya atas sedikit rezeki yang masih bisa didapatkan.

Ketekunan dan rasa syukur para petani Gayo Lues ini menjadi inspirasi. Mereka membuktikan bahwa di tengah keterbatasan dan musibah, semangat untuk bertahan dan berjuang demi keluarga tetap menyala. Pemulihan pascabencana di Gayo Lues terus berlangsung, dan aktivitas masyarakat berangsur normal, termasuk kegiatan bertani.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi