Sejarah Kota Bekasi: Wilayah Kerajaan yang Penuh Rawa, Kini Disulap Jadi Kota Metropolitan yang kerap Kebanjiran

Kota Bekasi dahulu dipenuhi banyak rawa. Seiring berkembangnya zaman, Bekasi menjadi salah satu daerah yang pembangunannya berkembang pesat.

Lia Harahap
Oleh Lia Harahap - Reporter
Sejarah Kota Bekasi: Wilayah Kerajaan yang Penuh Rawa, Kini Disulap Jadi Kota Metropolitan yang kerap Kebanjiran
Sejarah Kota Bekasi: Wilayah Kerajaan yang Penuh Rawa, Kini Disulap Jadi Kota Metropolitan yang kerap Kebanjiran (Merdeka.com)

Kota dan Kabupaten Bekasi dikepung banjir sepanjang Selasa (4/3). Banjir yanh terjadi karena limpahan dan luapan air dari kali yang meluber akibat curah hujan tinggi beberapa hari terakhir.

Mengacu data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi, Selasa (4/3), sebanyak tujuh kecamatan terdampak banjir. Antara lain Kecamatan Bekasi Timur, Bekasi Utara, Bekasi Selatan, Medan Satria, Jatiasih, Pondok Gede dan Rawalumbu. Ketinggian air bervariasi, tertinggi mencapai tiga meter.

Sedangkan di Kabupaten Bekasi, banjir merendam enam kecamatan, yaitu Kecamatan Cibarusah, Serang Baru, Setu, Cikarang Utara, Cibitung dan Tambun Utara. BPBD Kabupaten Bekasi melaporkan ketinggian air mencapai 150 sentimeter merendam 15 unit rumah.

Peristiwa ini membuat ratusan unit rumah dan bangunan terendam banjir. Tak hanya itu ribuan jiwa juga mengungsi.

2020 Bekasi juga Dilanda Banjir Parah

Peristiwa banjir yang terjadi di kabupaten dan kota Bekasi kemarin sebenarnya bukan pertama kali terjadi. Kondisi serupa juga pernah terjadi di tahun 2020. Saking besarnya sebaran banjir kala itu, pemda setempat sampai menetapkan siaga satu.

"Dari kita statusnya darurat siaga satu," kata Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi di sela meninjau banjir di Vila Taman Kartini, Bekasi Timur, Kamis, (2/2) lima tahun silam.

 Air meluap melalui Kali Cileungsi dan Kali Cikeas sampai ke Kali Bekasi. Wilayah paling parah terdampak banjir di PGP, Vila Nusa Indah, Kemang IFI, Kemang Pratama, permukiman di Bekasi Utara. Ketinggian air mencapai 4 meter.

Bekasi Dahulu Banyak Rawa

Banjir besar yang kerap melanda Kota Bekasi dalam beberapa tahun terakhir akhirnya membuat banyak pihak penasaran. Apakah kondisi geografis Bekasi dulu ada pengaruhnya terhadap kondisi lingkungan saat ini di mana Bekasi telah berkembang menjadi kota metropolitan.

Dalam sejumlah penelusuran, Bekasi dulu kala memang besar wllayahnya berupa rawa-rawa. Sejak zaman kerajaan hingga masa modern, keberadaan rawa-rawa ini telah memengaruhi perkembangan wilayah Bekasi. Sejarah mencatat bahwa Bekasi merupakan bagian dari kekuasaan Kerajaan Tarumanegara, yang berpusat di sekitar Sungai Candrabaga (Bagasasi), dan menjadi cikal bakal nama Bekasi.

Pada abad ke-5 Masehi, Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara telah melakukan upaya untuk mengatasi masalah banjir yang kerap terjadi di daerah rawa-rawa dengan membangun sodetan Kali Candrabaga dan Kali Gomati.

Ini menunjukkan bahwa tantangan banjir di Bekasi bukanlah isu baru, melainkan telah ada sejak lama dan menjadi bagian dari sejarah wilayah ini. Kondisi geografis yang sama juga berlanjut selama masa pendudukan Jepang. Rawa-rawa yang ada menjadi ciri khas dan memberikan tantangan tersendiri bagi masyarakat setempat.

Setelah Indonesia meraih kemerdekaan, Bekasi mengalami perkembangan yang signifikan. Namun, karakteristik rawa-rawa tetap menjadi bagian dari identitas wilayah ini. Perubahan tata guna lahan yang terjadi, terutama dengan pembangunan perumahan dan industri di atas lahan rawa, menyebabkan peningkatan kerentanan terhadap banjir. Banyak wilayah yang sebelumnya berfungsi sebagai daerah resapan air kini telah berubah menjadi lahan terbangun.

Hal ini mengakibatkan kapasitas tampung air berkurang, yang pada gilirannya menyebabkan banjir yang lebih parah. Nama-nama tempat seperti Rawalumbu, yang berasal dari kata 'rawa' dan 'lumbu' (makhluk halus yang dikaitkan dengan rawa), mencerminkan sejarah Bekasi yang kaya akan rawa-rawa. Masyarakat setempat masih merasakan dampak dari perubahan ini, terutama saat musim hujan tiba.

Bekasi jadi Kota Modern dengan Tantangan Banjir

Meskipun saat ini Bekasi telah berkembang menjadi kota modern dengan pusat perbelanjaan dan industri, warisan rawa-rawa masih terasa hingga kini, terutama dalam bentuk kerentanan terhadap banjir. Permasalahan banjir di Bekasi menjadi isu yang terus dihadapi pemerintah setempat. Alih fungsi lahan rawa menjadi kawasan pemukiman dan industri menjadi salah satu penyebab utama dari masalah ini.

Pemerintah setempat berupaya untuk mengelola tata ruang dan infrastruktur dengan lebih baik untuk mengurangi dampak negatif dari sejarah geografis Bekasi yang kaya akan rawa-rawa. Upaya ini sangat penting agar masyarakat dapat menikmati kehidupan yang lebih baik tanpa terancam oleh banjir yang sering melanda. Selain itu, kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan juga perlu ditingkatkan, agar karakteristik rawa-rawa yang ada tidak semakin hilang.

Terpisah, Budayawan kota Bekasi, Ali Anwar, mengungkapkan rasa kekecewaan yang besar terhadap pemerintah kota karena melihat kondisi bekasi dewasa ini. Menurutnya, pembangunan yang saat ini terjadi di Bekasi berdampak buruk pada ruang terbuka hijau dan resapan airnya menyusut. Ini makanya Bekasi sering terkena banjir jika hujan lebat.

"Saya sangat kecewa dengan pembangunan yang ada di kota Bekasi. Mereka hanya mementingkan pribadi dan kroni pada generasinya dengan merugikan anak cucu orang Bekasi," ungkapnya pada merdeka.com, Jumat (17/10).

Rekomendasi