SBY Ungkap Awal Mula TNI Jadi Pasukan Perdamaian di Lebanon, Ada Sosok AHY

Menurutnya, pengiriman pasukan tersebut merupakan inisiatif yang ia gagas saat masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

Muhammad Radityo Priyasmoro
SBY Ungkap Awal Mula TNI Jadi Pasukan Perdamaian di Lebanon, Ada Sosok AHY
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengajak mahasiswa Unesa Magetan menjadi Generasi Solutif dan Beretika, menekankan peran penting mereka dalam kemajuan bangsa. (AntaraNews)

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkap awal mula keterlibatan TNI sebagai pasukan perdamaian di Lebanon. Menurutnya, pengiriman pasukan tersebut merupakan inisiatif yang ia gagas saat masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

"Ketika menjadi presiden Indonesia dulu, saya berinisiatif dan mengusulkan kepada PBB untuk mengirimkan satu batalion plus Indonesia sebagai bagian dari Pasukan Pemeliharaan Perdamaian PBB di Lebanon. Ini ada sejarahnya," kata SBY seperti dikutip dari akun X pribadinya, Senin (6/4/2026).

SBY menuturkan, pada Agustus 2006 pecah perang antara Israel dan Lebanon yang menyebabkan banyak korban jiwa, terutama di pihak Lebanon. Saat itu, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) dinilai belum mengambil langkah efektif untuk menghentikan konflik tersebut.

Dalam situasi tersebut, SBY mengaku mengusulkan kepada Perdana Menteri Malaysia saat itu, Abdullah Badawi, agar segera menggelar pertemuan darurat Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

"Ketika PM Malaysia Abdullah Badawi (Alm) berkunjung ke Jakarta, saya mengusulkan agar beliau, dalam kapasitasnya sebagai Chair of OIC (Organisasi Kerjasama Islam) untuk menggelar “emergency meeting” guna mendesak PBB untuk segera bertindak," jelas SBY.

Beberapa hari kemudian, PM Abdullah Badawi menggelar pertemuan darurat OKI di Kuala Lumpur. Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah pemimpin negara, termasuk Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, Perdana Menteri Turkiye Recep Tayyip Erdogan, serta Perdana Menteri Lebanon Fouad Siniora.

Dalam forum itu, SBY menyatakan kesiapan Indonesia untuk mengirim satu batalion pasukan yang diperkuat guna menjadi bagian dari misi penjaga perdamaian di perbatasan Israel-Lebanon.

"Dalam pertemuan itu pula, saya menyampaikan Indonesia siap untuk mengirimkan pasukan satu batalion diperkuat sebagai bagian dari “peacekeeping mission” di perbatasan Israel dan Lebanon. Artinya, setelah terjadi “ceasefire” atas usaha dari PBB, Indonesia siap mengawasi pelaksanaan gencatan senjata tersebut," jelas SBY.

SBY juga mengenang proses cepat pengadaan kendaraan tempur untuk mendukung misi tersebut. Karena saat itu kendaraan tempur Anoa belum siap digunakan, ia langsung menghubungi Presiden Prancis Jacques Chirac untuk pembelian kendaraan tempur VAB.

"Saya masih ingat, karena dipersyaratkan penggunaan kendaraan tempur mekanis dan Anoa kita belum siap, segera saya menelepon Presiden Prancis Jacques Chirac, dengan tujuan Indonesia ingin membeli kendaraan tempur VAB buatan Perancis untuk segera bisa dikirim ke Lebanon. Alhamdulillah, Prancis bersedia dan bahkan proses pengirimannya berlangsung secara cepat karena dalam pengadaan alutsista tersebut saya menggunakan format G to G (government to government). Memang waktu itu kita tidak melibatkan pihak swasta," imbuhnya.

Menurut SBY, penggunaan skema government to government (G to G) membuat proses pengadaan alutsista berjalan lebih cepat.

SBY menyebut Kontingen Indonesia pertama, yakni Garuda XXIII/A, berhasil diberangkatkan ke Lebanon tiga bulan kemudian, tepatnya pada November 2006. Ia juga mengungkap bahwa tiga prajurit TNI yang kini menjadi bagian dari Kabinet Presiden Prabowo pernah tergabung dalam kontingen tersebut, yakni Kapten Kav Muhammad Iftitah Sulaiman, Lettu Inf Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dan Lettu Kav Ossy Dermawan.

"Hingga tahun 2026 ini, sudah 19 kali kontingen kita bertugas di Lebanon dengan masa penugasan rata-rata satu tahun. Mungkin ini yang terlama dalam misi PBB yang diemban oleh pasukan Indonesia," jelas SBY.

SBY pun menyampaikan pesan kepada prajurit Kontingen Garuda XXIII/S yang masih bertugas di Lebanon agar tetap semangat dan menjaga keselamatan diri.

"Sebagai seorang sesepuh dan senior TNI, saya sampaikan kepada para prajurit Kontingen Garuda XXIII/S yang masih berada di Lebanon untuk tetap bersemangat dalam mengemban tugas mulia. Do your best dan jaga diri baik-baik. Keluarga yang mencintai kalian menunggu kehadiran kembali di Tanah Air," sambungnya.

Sebagai informasi, tiga prajurit TNI gugur saat menjalankan tugas sebagai pasukan perdamaian PBB di Lebanon. Mereka menjadi korban serangan Israel di tengah konflik dengan Hizbullah.

Berikut identitas tiga prajurit yang gugur:

Praka Farizal Rhomadhon

Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar

Sertu Muhammad Nur Ichwan

Selain itu, lima anggota lainnya mengalami luka-luka, yakni:

Praka Rico Pramudia

Praka Bayu Prakoso

Praka Arif Kurniawan

Lettu Inf Sulthan Wirdean Maulana

Praka Deni Rianto

Rekomendasi