Lebaran bagi sebagian orang adalah waktu yang dinanti untuk berkumpul dengan keluarga besar, merayakan kebersamaan, dan mempererat silaturahmi. Namun, bagi sejumlah generasi muda terutama Z, mudik bisa menjadi pengalaman yang kurang menyenangkan.
Bukan karena tidak rindu keluarga, tetapi lebih karena sering kali dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang kadang membuat risih.
Seperti cerita Fadhel (23) yang kurang nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan kepo sering muncul saat mudik. Baginya, pertanyaan-pertanyaan yang dianggap biasa oleh orang tua atau keluarga besar bisa mengganggu.
Meski merasa kurang nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, bukan berarti generasi ia kehilangan nilai silaturahmi.
Menurut Fadhel, lebaran yang dulu selalu identik dengan silaturahmi melibatkan keluarga besar kini mulai mengalami pergeseran. Banyak rekan sejawatnya memilih untuk berkumpul dalam lingkup yang lebih kecil.
"Berkumpul dengan keluarga inti saja sudah cukup. Tamu-tamu yang datang malah kadang membuat intensitas kekeluargaan berkurang," kata Fadel saat cerita kepada Merdeka.com, Minggu (6/4).
Lebaran memang identik dengan saling berkunjung ke rumah kerabat. Tetapi, banyaknya tamu yang datang bisa mengurangi momen kebersamaan yang seharusnya terjadi antara anggota keluarga inti.
"Pernah sih ngerasain silaturahmi yang lebih intim, tapi pas ramai dengan tamu, malah jadi terasa seperti formalitas," ujar Fadhel.
Baginya, berbuka bersama orang tua dan keluarga inti justru lebih menyenangkan saat momen bulan Ramadan.
"Buka puasa bareng orang tua dan keluarga dekat itu lebih terasa hangat. Enggak perlu ada pertanyaan yang bikin awkward (canggung)," ucapnya.
Fadhel memang mungkin berbeda dalam menyikapi perayaan Lebaran. Namun, esensi kebersamaan dan silaturahmi tetap menjadi hal penting yang ia pegang.
Dia hanya ingin agar momen tersebut bisa lebih nyaman dan bermakna tanpa harus terjebak dalam pertanyaan-pertanyaan yang kadang mengganggu.
"Harapannya sih, semoga kedepannya, saat berkumpul, lebih banyak fokus pada kebersamaan dan tidak terlalu banyak tanya-tanya yang enggak perlu," tukas Fadhel.
Advertisement
Momen Berkumpul dengan Keluarga Besar Tetap Penting
Berbeda dengan itu, Josupriyanto Beau (29) merasa lebaran adalah momen yang ditunggu-tunggu saat keluarga besar berkumpul maupun kerabat untuk saling berbagi cerita dan kebahagiaan.
Meski ada yang merasa malas mudik karena berbagai alasan, Josu menilai momen berkumpul dengan keluarga besar dianggapnya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Lebaran.
Josu mewajari sebagian generasi muda terutama mereka yang baru mulai bekerja atau melangkah ke fase kehidupan dewasa, mudik sering kali datang dengan satu tantangan. Yaitu pertanyaan-pertanyaan yang dianggap terlalu pribadi.
"Kadang pertanyaan seperti 'kapan nikah?', 'kerja di mana?', atau 'gaji berapa?’ itu bikin saya risih. Tapi, meskipun merasa terganggu, saya tahu silaturahmi tetap penting," ucap Josu.
Meski merasa terasa tak nyaman dengan pertanyaan yang dianggap terlalu kepo, Josu menganggap momen berkumpul dengan keluarga tetap memiliki arti besar.
"Mudik dan berkumpul dengan keluarga besar itu penting. Di sana, saya bisa saling berbagi cerita tentang kehidupan dan menanyakan kabar mereka yang sudah lama tidak saya temui," tambahnya.
Tak bisa dipungkiri, generasi muda sering kali merasa risih dengan pertanyaan-pertanyaan yang terkesan terlalu kepo dan mengarah ke hal-hal pribadi. Namun, hal ini sebenarnya cukup wajar karena biasanya keluarga besar jarang bertemu.
Rasa tahu tentang kehidupan seseorang yang sudah lama tidak bertemu pun menjadi hal yang tak bisa dihindari.
"Tapi, kalau saya pikir-pikir lagi, ya itu mungkin memang sifat alami orang yang jarang bertemu. Mungkin mereka hanya ingin tahu lebih banyak," ujar Josu.
Meski begitu, tak semua anggota keluarga menanyakan pertanyaan yang mengganggu. Beberapa keluarga malah lebih tertarik untuk bercerita tentang kenangan masa kecil atau membicarakan hal-hal ringan yang membuat suasana lebih hangat.
"Ada juga keluarga yang enggak fokus ke soal pernikahan atau pekerjaan. Mereka lebih tertarik ngomongin bagaimana dulu saya kecil, apa yang saya lakukan, atau bahkan memberi pujian tentang perubahan fisik saya yang sekarang," ungkap Josu.
Inilah yang membuat silaturahmi bagi Josu terasa penting meskipun ada beberapa pertanyaan yang membuat risih.
Momen-momen seperti ini memberikan kesempatan untuk mendengar cerita hidup dan merasakan kedekatan emosional yang tak bisa digantikan oleh percakapan lewat telepon atau pesan singkat.
"Silaturahmi itu bukan cuma soal menjawab pertanyaan, tapi tentang membangun koneksi, mengenang masa lalu, dan saling berbagi kebahagiaan," katanya.
Mudik memang bisa terasa melelahkan, apalagi ketika sudah dipenuhi dengan pertanyaan yang terlalu pribadi dan kurang relevan. Namun, bukan berarti momen berkumpul dengan keluarga besar harus dihindari sepenuhnya.
"Walaupun kadang ada rasa malas karena pertanyaan-pertanyaan yang bikin canggung, tetap silaturahmi itu penting. Lebaran adalah waktu yang tepat untuk berbagi kebahagiaan dan saling memberi dukungan," tutur Josu.