RI jadi Lokasi Uji Coba Vaksin Bill Gates, Begini Kondisi Mengkhawatirkan Kasus TBC di Tanah Air.
Uji coba vaksin TBC ini rencanakan akan dilakukan pada 2029 mendatang.
Kunjungan Bill Gates, pendiri Microsoft dan filantropis terkemuka, ke Indonesia beberapa waktu kemarin tak sekadar silaturahmi biasa dengan Presiden Prabowo Subianto yang baru saja dilantik pada Oktober 2024 silam. Misi lainnya, menawarkan pada pemerintah Indonesia untuk mau menjadi negara yang mendapatkan uji coba gratis vaksin TBC.
"Indonesia akan menjadi salah satu tempat yang akan diuji coba," kata Prabowo saat menerima kunjungan Bill Gates di Istana Negara beberapa waktu lalu.
Gates Foundation rupanya sedang mengembangkan vaksin untuk menekan virus Tuberkolisis. Tak hanya TBC, Gates Foundation juga tengah mengembangkan vaksin malaria.
Penawaran Gates disambut baik Presiden Prabowo. Apalagi dalam pemaparannya, Gates menilai keberadaan vaksin TBC penting untuk mengatasi masalah kesehatan yang serius, khususnya di negara-negara berkembang. Sebab, katanya, TBC menjadi salah satu penyakit yang tingkat kematiannya di berbagai negara berkembang sangat tinggi.
Angka Kasus TBC di Indonesia
Presiden Prabowo mengakui Indonesia menjadi salah satu negara dengan penderita TBC cukup tinggi. Saking tingginya penderita kasus TBC di Indonesia, angka kematiannya mencapai lebih kurang 100.000 jiwa setiap tahunnya.
Mengutip situs Kementerian Kesehatan, mengacu data WHO Global Tuberculosis Report 2023, terdapat 10,6 juta orang di dunia yang jatuh sakit karena TBC. Dari jumlah itu, 1,3 juta orang meninggal karena TBC.
Indonesia sendiri termasuk dalam delapan negara yang menyumbang 2/3 kasus TBC di seluruh dunia. Indonesia menempati posisi kedua setelah India dengan 1.060.000 kasus baru dan 134.000 kematian setiap tahunnya, atau setara dengan 15 kematian setiap jam.
Dari estimasi tersebut, berdasarkan data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) pada 2023, sebanyak 821.200 kasus TBC (77% dari target) telah ternotifikasi dan angka kasus TBC yang diobati mencapai 86% (target 90%). Sementara pada 2024 mencapai lebih kurang 860.000 kasus TBC.
Di kesempatan lainnya, Direktur Penyakit Menular Kemenkes dr Ina Agustina Isturini, MKM mengatakan ada sejumlah daerah di Indonesia yang temuan kasus TBC tinggi. Seperti Pulau Jawa, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan.
Tingginya angka kasus dan kematian akibat TBC di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain keterlambatan deteksi dan pengobatan.
Banyak penderita TBC yang tidak menyadari penyakitnya, sehingga pengobatan terlambat dilakukan dan berakibat fatal.
Selain itu, kurangnya kesadaran masyarakat tentang bahaya TBC dan pencegahannya juga menjadi faktor yang memperparah situasi.
Perlu upaya bersama dari pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat untuk mengatasi masalah ini.
Penjelasan Menkes soal Uji Cova Vaksin TBC
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menjelaskan alasan Indonesia langsung menerima tawaran Bill Gates soal uji coba vaksin TBC secara gratis pada 2029 nanti.
Menurutnya, vaksin sangat penting untuk mencegah TBC yang sifatnya menular.
"Semua penyakit menular yang pernah menyerang kita secara drastis seperti cacar, covid itu bisa berhenti karena ada vaksin, bukti ilmiahnya. Jadi vaksin itu sangat dibutuhkan untuk bisa mengurangi penyakit menular," kata Budi, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (8/5)
Dia menambahkan, ada sejumlah keuntungan yang bisa didapatkan dengan menerima tawaran uji coba vaksin TBC tersebut. Saat ini, katanya, pembahasan vaksin TBC sudah berlangsung dengan melibatkan tim dari Universitas Padjajaran (Unpad) dan Universitas Indonesia.
"Clinical trialnya sudah jalan dan sudah dilakukan oleh tim dari UI dan dari Universitas Padjajaran untuk melakukan klinical trial 3," imbuh Budi.
"Kenapa Indonesia tertarik untuk menjadi tempat clinical trial level 3? Karena dengan kita lakukan clinical trial level 3, kita bisa tahu lebih dulu kecocokannya dengan orang kita. Karena itu tergantung genetiknya juga," jelasnya.
"Yang kedua, kita bisa mendapatkan akses terhadap teknologi vaksin ini. Karena ilmuwan-ilmuwan kita kan dilibatkan. Ini kerjasama dengan Unpad dan Universitas Indonesia. Yang ketiga, kita sekaligus bisa menegosiasi nanti kalau ini sudah jadi, kita bisa lakukan produksinya lebih cepat di Bio Farma di Indonesia," sambung dia.