73% Pekerja Jadi Sandwich Generation, Apa Dampaknya bagi Produktivitas?

Pekerja sering kali dianggap cukup hanya dengan kondisi yang baik atau sehat (wellbeing), padahal di tengah dinamika krisis dan perubahan yang cepat, mereka sangat membutuhkan kemampuan adaptasi serta daya bangkit (resilience) agar produktivitas tidak mudah tumbang.

Auria Setiarum Cahayani
73% Pekerja Jadi Sandwich Generation, Apa Dampaknya bagi Produktivitas?
Konferensi Pers oleh Zurich Indonesia di Jakarta, Selasa (3/11).

Ukuran produktivitas pekerja di era modern kini telah bergeser. Keterampilan teknis atau skill semata tak lagi cukup untuk menjamin kinerja pekerja di tengah dinamika ekonomi dan pesatnya arus teknologi.

​Hal tersebut menjadi sorotan Zurich Indonesia saat memaparkan temuan riset global The Resilient Workforce di Jakarta Pusat, Selasa (3/11). Dalam momentum peringatan 35 tahun kehadirannya di tanah air, Zurich menekankan bahwa produktivitas masa kini sangat bergantung pada dua pilar utama: wellbeing dan resilience.

 

Mengenal Bedanya Wellbeing dan Resilience

Banyak orang kerap menyamakan wellbeing dan resilience, padahal keduanya memiliki fokus yang berbeda dalam dunia kerja. 

Wellbeing menggambarkan kondisi kesejahteraan dan kesehatan seseorang saat ini, baik secara fisik, mental, maupun sosial. Sementara itu, resilience atau ketahanan adalah kemampuan individu untuk beradaptasi, bangkit, dan tetap beroperasi secara positif ketika dihadapkan pada perubahan atau krisis.

Sederhananya, wellbeing adalah rumah yang bersih, indah, dan nyaman untuk ditinggali. Sementara resilience adalah fondasi cakar ayam di bawahnya yang menjaga rumah tidak roboh saat diguncang gempa. Dinding rumah mungkin saja retak sedikit saat krisis (wellbeing terganggu), tetapi fondasi yang kokoh (resilience) membuatnya tetap berdiri tegak. 

Itulah mengapa, wellbeing dan resilience harus menjadi satu kesatuan yang dimiliki pekerja, agar ketahanan yang tinggi mampu menavigasi situasi sulit tanpa harus mengorbankan produktivitas mereka secara permanen. 

Fenomena Sandwich Generation

Berdasarkan riset global The Resilient Workforce yang digagas Zurich bersama peneliti dari University of Oxford, skor ketahanan pekerja Indonesia sebenarnya cukup tinggi, yakni 4,37 dari skala 5 (di atas rata-rata global 4,11).

​Namun, di balik skor yang tinggi tersebut, terdapat fenomena Sandwich Generation. Dalam kondisi ini, pekerja harus terjepit dua beban tanggung jawab finansial dan pengasuhan sekaligus, yakni merawat generasi di atasnya (orang tua/lansia) dan generasi di bawahnya (anak-anak). 

​Riset mencatat sebanyak 73 persen pekerja di Indonesia memikul beban tersebut, angka yang jauh melampaui rata-rata pekerja global. Kondisi ini memicu kerentanan finansial yang masih menjadi sinyal lampu kuning bagi produktivitas dan kesejahteraan tenaga kerja lokal.

Peran Korporasi Bangun Kesejahteraan

Melihat tantangan kompleks tersebut, ketahanan pekerja tidak bisa lagi dibiarkan tumbuh tanpa dukungan sistemik dari tempat kerja.  

​Perusahaan perlu memfasilitasi pekerja agar daya tahan dan produktivitasnya bisa menjadi fondasi untuk hasil kerja yang lebih baik.

Country Manager Zurich Indonesia dan Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, Edhi Tjahja Negara menegaskan bahwa pola pendekatan perusahaan terhadap kesehatan pekerja harus mulai bergeser. 

​"Perjalanan ini penting bagi kita di mana wellbeing itu berubah dari yang sebelumnya kita bicara mengenai reactive intervention, jadi kalau orang baru sakit atau ada masalah baru ditindak, berubah menjadi proactive care yang lebih awal," ujar Edhi dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Selasa (3/11).

Rekomendasi