Prabowo Terima Laporan, Karhutla Masih Membakar 639 Hektare Lahan

Kepala BNPB melaporkan ke Presiden Prabowo, 639,23 ha lahan masih terbakar. Kalteng terbesar, operasi udara terkendala asap. Ini penjelasannya.

Lizsa Egeham
Oleh Lizsa Egeham - Reporter
Prabowo Terima Laporan, Karhutla Masih Membakar 639 Hektare Lahan
Petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air untuk memadamkan api yang melalap lahan gambut di Kubu Raya, Kalimantan Barat, Indonesia, Selasa, 11 Agustus 2026. (Foto AP/Stefanus Taman)

Kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah belum padam. Kepala BNPB Suharyanto melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa 639,23 hektare lahan masih terbakar dan tengah ditangani oleh Satuan Tugas di lapangan.

Laporan disampaikan dalam rapat terbatas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (12/10/2026), dan dipublikasikan melalui siaran YouTube Sekretariat Presiden pada Selasa (13/10/2026).

"Untuk hari ini, yang terbakar, yang masih ditangani oleh satgas di lapangan, jumlahnya adalah 639,23 hektar," kata Suharyanto.

Ia menyebut lahan yang masih terbakar tersebar di enam provinsi, yakni Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau. Sebagian besar wilayah terdampak merupakan kawasan gambut.

Kalimantan Tengah menjadi yang terbesar setelah ditemukan titik api baru di Taman Nasional Tanjung Puting yang berada di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan.

"Yang terbesar memang terjadi di Kalimantan Tengah. Kenapa paling besar, karena baru saja ditemukan kebakaran baru di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan. Per hari ini ada 513,89 hektar yang terbakar di sana," jelasnya.

"Meskipun bukan lahan gambut, lahan mineral, tetapi ini menjadi pekerjaan yang segera harus kami lakukan. Pangdam Kalimantan Tengah juga sudah memimpin langsung di lapangan per hari ini," sambung Suharyanto.

Operasi Udara Pemadaman Kebakaran Hutan Terkendala Kabut Asap

Suharyanto menyampaikan pemerintah menambah personel dan peralatan untuk memperkuat operasi darat melalui Satgas Darat. Upaya dari udara turut dilakukan dengan mengerahkan helikopter water bombing.

Namun, kabut asap tebal menghambat pergerakan armada udara karena jarak pandang menurun.

"Sementara untuk Satgas Udara, kami sudah coba bergerak baik dari Palangka Raya Tjilik Riwut maupun dari Syamsudin Noor Banjarmasin, sementara belum tembus karena visibility yang sangat tebal. Dan di Kalimantan Tengah ini operasi-operasi udara, baik heli water bombing, operasi modifikasi cuaca, maupun pesawat komersial sementara tidak dapat terbang karena visibility yang rendah," tutur dia.

Karena kondisi tersebut, penanganan di Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan untuk sementara dititikberatkan pada operasi darat. Di Kalimantan Tengah, helikopter water bombing belum dapat beroperasi.

"Untuk Sumatra Selatan baru hari ini bisa terbang, dan nanti kami akan padukan dengan operasi modifikasi cuaca, kami tambah armadanya. Kalimantan Tengah menggunakan empat pesawat dan Sumatra Selatan menggunakan dua pesawat dari Pangkal Pinang," ujar Suharyanto.

BNPB Pantau Prediksi Hujan

Pemerintah mencermati prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi hujan di berbagai wilayah. Hujan diharapkan membantu memperbaiki kondisi karhutla dalam beberapa pekan mendatang.

"Paling tidak di bulan Oktober ini, mudah-mudahan nanti begitu prediksi BMKG sudah mulai turun hujan alami di pertengahan Oktober sampai dengan November, dan selanjutnya setelah musim hujan turun, tentu saja kondisi karhutla akan lebih baik. Tapi sebelum itu kami siap untuk bekerja keras mengerahkan segala kemampuan yang kami miliki," pungkas dia.

Rekomendasi