Cerita Eks Pekerja Luar Negeri yang Kini Urusi Bencana di PSI

Pengalamannya kembali dari Australia untuk aktif dalam kegiatan kemanusiaan dan menghadapi tantangan politik di tanah air.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Cerita Eks Pekerja Luar Negeri yang Kini Urusi Bencana di PSI
PSI meminta penanganan pascabencana di Nusa Tenggara Timur (NTT) difokuskan pada pemulihan jangka panjang, bukan sebatas masa tanggap darurat. (Istimewa)

Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Anthony Norman Lianto, membagikan alasannya kembali ke Indonesia setelah sempat menetap di Australia. Norman memilih pulang untuk terlibat langsung dalam kegiatan sosial dan politik melalui PSI.

Norman menceritakan, keputusannya untuk meninggalkan kenyamanan tinggal di luar negeri didasari keinginan untuk berkontribusi bagi masyarakat di tanah air.

“Saya memilih pulang karena saya percaya Indonesia adalah tempat saya bisa memberikan sesuatu yang lebih berarti. Saya ingin pengalaman yang saya dapatkan di luar negeri digunakan untuk membantu masyarakat di negeri sendiri,” ujar Norman di Jakarta.

Di struktur partai, Norman dipercaya menjabat sebagai Direktur Tanggap Bencana DPP PSI. Tugas tersebut membawanya aktif berkoordinasi dalam penyaluran bantuan saat terjadi bencana alam seperti banjir dan gempa bumi.

Namun, Norman mengakui bahwa keterlibatannya di dunia publik dan politik tidak lepas dari sejumlah kendala, mulai dari maraknya praktik politik uang hingga serangan fitnah dan tuduhan yang dinilainya tidak berdasar.

“Saya memahami bahwa ketika kita masuk ke ruang publik, tidak semua orang akan setuju dengan langkah yang kita ambil. Itu bagian dari konsekuensi yang harus saya terima,” kata Norman.

 

Fokus Perluas Kegiatan Sosial

Menurut Norman, salah satu tantangan tersulit adalah ketika aksi kemanusiaan di lapangan ditarik ke dalam kepentingan politik praktis. Meski demikian, ia memilih untuk merespons berbagai kritik dan tudingan tersebut dengan pembuktian kerja.

“Saya tidak ingin membalas setiap tudingan dengan kemarahan. Kalau ada tuduhan, saya kira jawabannya harus fakta. Biarkan masyarakat menilai berdasarkan apa yang benar-benar kita kerjakan,” tuturnya.

Ia menambahkan, pengalaman dalam menangani bencana memperkuat penekanannya bahwa penanganan warga terdampak harus terbebas dari sekat-sekat politik.

“Ketika berada di lokasi bencana, kita tidak bertanya siapa pendukung politiknya. Yang kita lihat adalah siapa yang membutuhkan bantuan. Itu prinsip yang harus dijaga,” tegas Norman.

Ke depan, Norman menyatakan bakal terus fokus memperluas kegiatan sosial, penanganan bencana, dan pemberdayaan masyarakat sebagai bentuk pengabdiannya di Indonesia.

Rekomendasi