Sensasi menikmati lanskap Jakarta dari lantai atas bus tingkat memang memikat, tetapi penumpang harus siap membayarnya dengan kesabaran. Pengalaman inilah dirasakan Niko dan Adit, saat pertama kali menjajal Bus Wisata Jakarta. Keduanya mengungkapkan bahwa harus menunggu hampir tiga perempat jam sebelum bus dinanti akhirnya tiba.
Rasa penasaran Niko, seorang pegawai Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), sejatinya sudah terpupuk lama. Bus tingkat berwarna mencolok itu kerap melintas tepat di depan kantornya. Sementara bagi Adit, menaiki bus wisata ini membangkitkan memori nostalgia masa lalu atas bus tingkat di era 1980-an.
"Sering lewat di depan kantor, jadi bikin tertarik. Sebenarnya sudah lama ingin naik," kata Niko.
"Zaman dulu kan ada bus tingkat yang khas. Saya penasaran ingin coba lagi, dan baru kali ini kesampaian." timpal Adit.
Advertisement
Ujian Kesabaran 45 Menit di Halte
Daya tarik armada ini rupanya menuntut waktu tunggu tak sebentar. Tanpa adanya kepastian jadwal kedatangan, Niko dan Adit mesti merelakan waktu hampir 45 menit di halte untuk menunggu bus ini datang.
Tantangan tak berhenti saat bus tiba. Perjalanan berkeliling kota rupanya diwarnai waktu jeda cukup panjang di sejumlah titik. Menurut Niko, bus bahkan sempat berhenti atau ngetem hingga setengah jam di satu lokasi, membuat durasi perjalanan membengkak dari perkiraan awal.
"Naik bus wisata ini memang butuh waktu yang fleksibel. Enggak cuma menghitung durasi jalan, tapi juga waktu tunggu dan lama berhentinya," tutur Niko saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (23/9).
Advertisement
Antara Estetika Pemandangan dan Teriknya Cahaya Matahari
Saat berhasil masuk ke dalam bus, keduanya langsung memilih duduk di lantai atas. Dari ketinggian ini, sudut pandang terhadap Jakarta terasa sangat berbeda. Deretan gedung bertingkat hingga lanskap proyek pembangunan MRT terlihat jelas tanpa terhalang.
"Visibilitas dari atas jauh lebih jelas ya. Kita bisa melihat sudut-sudut Jakarta dan pembangunan MRT dengan sangat jelas," ujar Adit.
Namun estetika visual tersebut harus ditebus dengan kenyamanan. Udara di lantai atas terasa cukup menyengat dan panas. Tak sanggup bertahan lama, Niko dan Adit akhirnya memilih pindah ke lantai bawah dilengkapi pendingin udara lebih sejuk, meski harus mengorbankan keleluasaan pandangan.
Bagi mereka, dinamika ini menjadi keunikan tersendiri, di mana lantai atas menyajikan pemandangan memukau, sementara lantai bawah menawarkan kenyamanan.
Advertisement
Gratis dan Bikin Ketagihan
Meski harus mengelus dada akibat waktu tunggu lama dan jeda berhenti cukup panjang, pengalaman pertama ini tak menyurutkan minat mereka. Status layanan bebas biaya menjadi nilai tambah menyenangkan untuk sebuah rekreasi tipis-tipis di tengah kota.
"Alhamdulillah gratis, jadi dapat pengalaman baru lihat-lihat kota Jakarta dari atas," ujar Niko.
Pengalaman berkesan ini bahkan membuat keduanya berencana untuk memboyong keluarga masing-masing untuk mencoba rute serupa di lain hari. Adit pun berharap pengelola dapat menambah armada bus wisata agar selisih waktu antarbus (headway) tidak terlalu lama.
"Ke depannya mungkin armadanya bisa diperbanyak supaya orang tidak menunggu terlalu lama," kata Niko.
Menjajal bus wisata Jakarta memberikan pelajaran sederhana bagi Niko dan Adit, bagaimana menikmati keindahan Jakarta dari ketinggian secara cuma-cuma, namun dengan modal utama ketersediaan waktu dan kesabaran cukup besar.